web analytics
  

Gatot, Saat Si Putih Menjelma Menjadi Si Hitam

Rabu, 23 September 2020 08:39 WIB Netizen Siska Hermayaningsih
Netizen, Gatot, Saat Si Putih Menjelma Menjadi Si Hitam, Gatot,Kuliner,Kuliner Singkong

Singkong sebelum dan sesudah jadi gatot. (Cookpad)

Siska Hermayaningsih

Entrepreneur, Penyuka travelling.

AYOBANDUNG.COM -- Ketika mendengar kata “Gatot” apa yang terlintas di pikiran anda? Apakah Gatot Brajamusti, guru spiritual Reza Artamevia yang belakangan ditangkap karena penyalahgunaan narkoba? Ataukah Gatot Nurmantyo, jenderal TNI yang namanya disebut-sebut akan meramaikan bursa Pilpres 2024 nanti? Atau mungkin saja Gatot Kaca, superhero asal Indonesia yang terkenal dengan julukan otot kawat tulang besi?

Tapi gatot yang saya maksud di sini bukanlah gatot-gatot seperti yang disebutkan tadi. Gatot yang dimaksud di sini adalah penganan yang terbuat dari singkong. Si ubi kayu yang putih mulus ini dikupas kulitnya lalu dijemur di bawah sinar matahari selama berhari-hari sehingga kering kehitaman. Bahkan dihujankan ketika hujan.

Ketika terkena air hujan, singkong akan menjadi basah dan terjadi proses fermentasi di sana. Proses fermentasi ini akan menghasilkan sejenis bakteri atau jamur singkong. Bakteri inilah yang membuat singkong berwarna kehitam-hitaman. Menurut penelitian, bakteri hasil fermentasi ini adalah bakteri probiotik. Bakteri yang sangat berguna bagi tubuh di antaranya dapat menjaga kesehatan pencernaan, menurunkan berat badan, menjaga kesehatan kulit dan menurunkan kolesterol jahat dan tekanan darah. Selain itu, konsumsi probiotik juga dapat menjaga kesehatan mental. Asupan probiotik berperan terhadap perkembangan otak untuk meringankan gejala depresi dan kecemasan.

Selain itu, singkong sebagai bahan dasar gatot mengandung karbohidrat yang baik untuk tambahan energi. Kandungan protein dalam gatot lebih besar dibandingkan dengan singkong, karena adanya jamur yang memproduksi asam amino dari sari pati singkong. Dikutip dari bernas.id, nilai gizi yang dikandung gatot lebih tinggi dibandingkan beras. Namun kandungan zat lainnya (vitamin dan mineral) relatif lebih kecil dibanding beras.

Lantas bagaimana cara membuat gatot? Mula-mula singkong dikuliti hingga bersih. Lalu dipotong kecil-kecil. Selanjutnya singkong digantung di luar rumah untuk dijemur sekaligus dihujankan. Saat singkong sudah berubah menjadi kehitaman, itu menjadi pertanda bahwa singkong telah siap diubah menjadi gatot. Jika mau dimasak, rendam dulu sehari semalam dengan air. Setelah itu kukus selama kurang lebih 30 menit. Beri parutan kelapa dan garam. Gatot siap anda santap.

Gatot sendiri memiliki sejarah yang berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan. Kala itu dengan segenap keterbatasan bahan makanan, para ibu-ibu mengolah bahan yang ada untuk menjadikannya sebagai pengganti beras. Zaman dulu makan nasi sehari saja cukup. Makan nasi pun membuat perut cepat lapar karena cepat dicerna tubuh.

Singkong dari zaman dulu merupakan tanaman yang tangguh. Bisa ditanam di mana saja, bahkan di tanah tandus sekalipun. Mengkonsumsi singkong (gatot) dapat membuat rasa kenyang bertahan lebih lama karena proses pencernaannya yang lebih lama dibandingkan mengkonsumsi beras.

Singkong dan olahannya memiliki kandungan serat yang lebih tinggi daripada beras. Oleh karena itu mengkonsumsinya dipadukan dengan berbagai bahan pangan lainnya sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Yang perlu diperhatikan adalah singkong segar mengandung senyawa glikosida sianogenik yang dapat melepaskan zat sianida dalam tubuh saat dikonsumsi. Kandungan glikosida sianogen dalam singkong sebenarnya dalam jumlah yang kecil dan tidak menyebabkan racun. Tapi proses pencernaan dalam tubuh dapat memecahnya menjadi hidrogen sianida. Salah satu bentuk racun paling berbahaya. Racun pada singkong bisa dihilangkan dengan proses pengolahan yang baik dan sempurna.

Ketika si putih singkong berubah menjadi gatot si hitam, maka kandungan racun yang ada di dalamnya pun ikut hilang. Racun yang dikandungnya pun menjelma menjadi bakteri yang justru baik bagi kesehatan tubuh. Dengan semangat diversifikasi pangan, mari kita lestarikan kembali penganan tradisional yang kini mulai terpinggirkan. Karena sehat tak harus mahal dan mewah.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers