web analytics
  

Masjid Alun-alun Bandung, dari Anyaman Bambu hingga Dua Menara

Minggu, 20 September 2020 17:02 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Bandung Baheula - Baheula, Masjid Alun-alun Bandung, dari Anyaman Bambu hingga Dua Menara, Masjid Alun-alun Bandung,bandung tempo dulu

Pemandangan Masjid Alun-alun Bandung (Humas Pemkot Bandung)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Lahirnya Kota Bandung tak lepas dengan berkembangnya agama Islam. Hal itu terbukti dengan dibangunnya Masjid Alun-alun Bandung bersamaan dengan kepindahan pusat Kota Bandung dari Krapyak (di Bandung Selatan) ke pusat kota saat ini.

Mengutip siaran pers Humas Kota Bandung yang diterima Ayobandung.com, ada dua versi yang membahas tahun berdirinya masjid tersebut, yakni pada 1810 atau 1812. Yang jelas, masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Kota Bandung.

Versi 1812 menyebutkan bahwa masjid ini dibangun bersamaan dengan pemindahan pusat Kota Bandung dari Krapyak (di Bandung Selatan) ke pusat kota yang saat ini ada di kawasan Alun-alun-Asia Afrika-Braga.

Sejumlah sumber menyebutkan, di masa awal pembangunannya, Masjid Agung memiliki corak arsitektur khas Sunda. Bangunannya pun terbilang sederhana, terbuat dari anyaman bambu beratap rumbia.

Atap rumbia tersebut tersusun dari tiga buah atap yang meruncing di bagian puncaknya. Puncak atap yang runcing tersebut sekaligus juga menjadikan Masjid Agung memiliki julukan "Bale Nyuncung" di kalangan warga. 'Nyuncung' dalam bahasa Sunda memiliki arti lancip.

Meski dibangun dengan desain dan bahan-bahan bangunan yang sederhana, kesan 'hegar', luas dan asri tetap terasa dalam keseluruhan bangunan masjid. 

Sebelum seperti saat kini, masjid dilengkapi dengan sebuah kolam besar yang difungsikan sebagai tempat berwudu. Kolam tersebut juga konon pernah digunakan sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran.

 

8 Perombakan

Sejak awal didirikan, masjid terletak berhadap-hadapan dengan Bale Bandoeng atau Pendopo Kota Bandung. Beberapa pihak menyebut masjid telah mengalami 8 kali perombakan. 

Tiga perombakan terjadi di abad ke-19, sementara lima perombakan dilaksanakan di abad ke-20. Dinding bilik bambu pun diganti menjadi kayu pada 1826. 

Pada tahun 2000-an, renovasi besar-besaran dilakukan oleh Gubernur Jabar saat itu, H.R. Nuriana. Atap masjid yang berbentuk joglo bertingkat diubah menjadi kubah besar seperti yang terlihat hingga saat ini. Bentuk limas bersalin menjadi kubah setengah bola dengan diameter sepanjang 30 meter.

Tak hanya itu, masjid juga dilengkapi dengan dua menara yang dapat didaki oleh para pengunjung. Sejak renovasi diresmikan pada 4 Juni 2003, nama 'Masjid Agung' pun kemudian diubah menjadi 'Masjid Raya Jawa Barat'. Status Masjid Agung Kota Bandung kini disandang oleh Masjid Al Ukhuwah di Jalan Wastukancana. 

Editor: Tri Joko Her Riadi
dewanpers