web analytics
  

Rakyat Indonesia Lebih Prioritaskan Kesehatan Dibanding Ekonomi

Senin, 21 September 2020 12:55 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, Rakyat Indonesia Lebih Prioritaskan Kesehatan Dibanding Ekonomi, Update Covid-19 Indonesia,survei Covid-19

[Ilustrasi] Kawasan industri di Kabupaten Bekasi masih sangat rentan virus corona. Setelah Unilever hingga Suzuki, kini 352 karyawan pabrik printer PT Indonesia Epson Industry terjangkit corona sehingga positif Covid-19. (Pixabay/PIRO4D)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Menghadapi pandemi Covid-19, mayoritas masyarakat Indonesia lebih memprioritaskan urusan kesehatan dibandingkan ekonomi. Kesimpulan tersebut diperoleh lewat hasil survei yang menyebut 75 persen dari total 1.200 responden di 34 provinsi memilih urusan kesehatan.

Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) menyelenggarkan "Survei Covid-19 Nasional" lewat tatap muka dengan mekanisme kunjungan rumah (home visit) pada periode 18 Agustus-6 September 2020. Setiap wawancara tatap muka yang dilakukan disebut selalu mendahulukan protokol kesehatan, yakni menggunakan masker, menjaga jarak 1,5 meter, menggunakan sanitizer dan tanpa kontak fisik.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo mengatakan bahwa hasil survei kali ini mempertegas hasil survei sebelumnya yang sudah dilakukan pada Juni 2020. Hasil survei tersebut menyatakan sebanyak 63,4% responden juga memilih kesehatan dibandingkan ekonomi.

"Ada peningkatan persepsi terhadap pentingnya kesehatan sebanyak 11% dalam rentang waktu Juni hingga September ini," ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima Ayobandung.com belum lama ini.

Kunto menyatakan, terkait dampak Covid-19 terhadap perekonomian masyarakat, hanya 27,2% responden yang menyatakan bahwa penghasilan mereka lebih buruk dibandingkan sebelum pemberlakuan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Sebanyak 47,1% responden menyatakan penghasilan mereka tidak berubah.

"Sementara 25,2% menyatakan bahwa penghasilan mereka justru lebih baik setelah pemberlakuan kebiasaan baru," ungkapnya.

Hasil survei tersebut juga menyatakan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan berbanding lurus dengan persepsi kepercayaan yang rendah bahwa masyarakat Indonesia kebal terhadap Covid-19. Hanya 31,8% responden yang menjawab percaya bahwa masyarakat Indonesia kebal terhadap Covid-19.

"Jumlah tersebut memang naik dari angka sebelumnya yaitu 31,3% pada Juni lalu. Namun kenaikan tersebut tidak signifikan jika dibandingkan dengan hasil Survei Persepsi Publik Indonesia tentang Virus Corona yang juga diselenggarakan oleh KedaiKOPI pada 3-4 Maret 2020," ungkap Kunto.

"Jumlah responden yang percaya masyarakat Indonesia kebal terhadap COVID-19 pada bulan Maret lalu sebesar 42,1%," tambahnya.

 

Tanggapan Positif

Survei juga menunjukan bahwa responden memiliki tanggapan yang positif terkait upaya pemerintah menggalakan pembuatan vaksin Covid-19. Sebanyak 65,2% responden menyatakan bahwa mereka percaya pemerintah akan menemukan vaksin Covid-19.

"Kepercayaan yang tinggi tersebut juga berimbas kepada optimisme responden terhadap vaksin lokal yang dikembangkan pemerintah yaitu Vaksin Merah Putih. Sebanyak 70,1% merasa optimis terhadap vaksin lokal tersebut," ungkapnya.

Hingga September 2020, vaksin tersebut masih dalam tahap pengembangan. Sebanyak 57,0% responden menyatakan ingin menggunakan vaksin tersebut jika sudah ditemukan.

Terkait temuan tersebut, Kunto menyatakan bahwa kepercayaan, optimisme, dan keinginan dari masyarakat yang tinggi terhadap vaksin merah putih seharusnya menjadi motivasi bagi pemerintah dalam mengembangkan vaksin ini.

"Tidak hanya secara cepat, namun juga tepat dan sesuai dengan kaidah etika yang sudah berlaku," tutupnya.

Editor: Tri Joko Her Riadi
dewanpers