web analytics
  

Tinggal dengan Mertua Bisa Bikin Depresi, Benarkah?

Minggu, 20 September 2020 13:51 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Umum - Unik, Tinggal dengan Mertua Bisa Bikin Depresi, Benarkah?, tinggal dengan mertua,pasangan suami istri,Hubungan Seksual,frustasi,depresi,rumah bagi pasangan baru

Benarkah frustrasi tinggal bersama mertua bisa jadi depresi? (Pixabay/Ginger Palmisano)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Memiliki rumah pribadi mungkin menjadi salah satu cita-cita pertama pasangan yang baru menikah pada umumnya. Namun, tidak sedikit pasangan suami istri tidak mampu membeli rumah sendiri.

Solusinya? Tinggal di rumah mertua atau saudara ipar pasangan Anda.

Secara ekonomi, tinggal bersama keluarga pasangan Anda merupakan tindakan cerdas. Tinggal di rumah yang sudah ada berarti Anda tidak perlu repot-repot memikirkan cicilan rumah pribadi. Anda pun mengelola biaya hidup yang lebih hemat dengan pembagian biaya rumah tangga.

Namun, secara emosional, tinggal bersama keluarga pasangan, apalagi mertua, dapat menjadi tekanan batin. Suasana hati, pikiran, dan perilaku anda dapat terpengaruh dengan lingkungan rumah.

Privasi, rasa dekat, dan hak untuk melakukan apa yang Anda inginkan menjadi terbatas, bahkan tidak ada.

Lama-kelamaan, tekanan batin ini bisa dirasakan secara fisik. Pundak Anda terasa berat, dada Anda terasa sempit, perut Anda terasa kosong.

Bagaimana tinggal bersama mertua bisa memengaruhi hubungan?

Saat dua orang menjalin cinta, mereka melalui proses adaptasi nilai. Masing-masing membawa nilai yang mendidik mereka sejak kecil. Tidak jarang, nilai-nilai antara pasangan ini bertentangan.

Suatu pasangan harus mampu menemukan jalan tengah dari pertentangan nilai pribadi mereka.

Namun, proses sulit ini akan semakin sulit saat salah satu pasangan tinggal bersama keluarga pasangannya. Pasangan sehat akan menyeimbangkan nilai masing-masing. Saat tinggal bersama keluarga salah satu pasangan, akan ada nilai salah satu pasangan yang didominasi.

Perlu diingat, mertua dan saudara pasangan tidak selamanya berniat buruk. Mereka justru berniat memajukan hidup sang pasangan sehingga pengaruh buruk mereka kadang tidak disadari.

Apakah tinggal bersama mertua bisa membuat depresi?

Depresi bukan frustrasi. Perasaan kesal yang kerap dirasakan, saya harus tinggal bareng mertua, itu bukan depresi.

Apabila Anda merasakan ketidaknyamanan, keinginan memiliki rumah sendiri, tidak bisa berbaur dengan keluarga pasangan, itu namanya frustrasi.

Saat Anda mulai merasakan hal-hal itu, daripada terobsesi pada satu kesimpulan, yakni Anda depresi, lebih baik Anda mulai mencari solusi.

Menurut sosiologi, individu harus beradaptasi dengan lingkungannya, bukan sebaliknya. Anda harus memberanikan diri beradaptasi dengan lingkungan tempat kesempatan yang Anda inginkan tidak ada.

Anda harus berpikir sebelum memutuskan tinggal bersama keluarga pasangan. Bahkan, anda harus berpikir sebelum menikah dengan pasangan Anda saat Anda tahu kemampuan ekonomi Anda dan suami tidak cukup untuk beli rumah sendiri.

Saat Anda tinggal bersama keluarga pasangan, Anda harus beradaptasi pada aturan, jadwal, dan norma-norma yang mungkin tidak Anda setujui tapi harus maklumi.

Ingat, secara objektif, Anda adalah “orang luar” yang datang ke rumah orang lain. Rumah yang bertahun-tahun dibina oleh orang lain.

Apabila ada nilai-nilai keluarga pasangan Anda yang tidak Anda setujui, jangan berharap perubahan instan. Perubahan nilai seseorang bisa menjadi proses yang lama.

Saat Anda memikirkan hal-hal di atas, dampak gesekan yang terjadi di rumah mertua Anda tidak akan terlalu mengganggu Anda.

Jangan over thinking, berpraduga, dan mengecap “mertua itu jahat” di saat Anda pertama kali pindah.

Tidak semuanya harus seburuk itu. Hubungan positif bisa tumbuh, tergantung dari seberapa ingin Anda dan keluarga pasangan Anda untuk memulainya. (Farah Tifa Aghnia)

Sumber: Belatina
Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers