web analytics
  

Pusat Promosi Kerajinan Tasik di Rajapolah Sepi Pembeli

Sabtu, 19 September 2020 18:56 WIB Irpan Wahab Muslim
Umum - Regional, Pusat Promosi Kerajinan Tasik di Rajapolah Sepi Pembeli, Pusat Promosi Kerajinan Tasikmalaya,Kerajinan Tasikmalaya,Pusat Kerajinan Rajapolah

Sendal hasil kerajinan yang dipasarkan di Pusat Promosi Kerajinan Rajapolah (Ayobandung.com/Irpan Wahab Muslim)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Pusat promosi dan pemasaran kerajinan Kabupaten Tasikmalaya di Kecamatan Rajapolah saat ini semakin redup. Aneka kerajinan yang dihasilkan oleh para perajin yang ada di Rajapolah ini kian sepi pembeli dalam 10 tahun terakhir.

Cahyani (20), salah satu pengelola toko, mengungkapkan, kondisi penjualan setiap harinya tidak tetap. Bahkan terkadang, toko tidak menjual satu pun produk yang ditawarkan. Kondisi ini terjadi setelah dibangunnya jalan fly over yang menyediakan akses menuju Kabupaten Ciamis.

"Penjualan kerajinan ini sebetulnya hanya mengandalkan para pendatang atau pengendara di jalan ini yang sengaja ingin beristirahat. Namun, itu juga sudah jarang karena orang lebih memilih melewati fly over langsung menuju Ciamis, " kata Cahyani, Sabtu (19/9/2020).

Pedagang kerajinan di Rajapolah, tambah Cahyani, selama ini mengandalkan pendapatan dari momen-momen perayaan hari besar, seperti lebaran, tahun baru, dan hari besar lainnya. Namun selama pandemi Covid-19, di hari besar itu pun penjualan tetap sepi.

Sebelum adanya pandemi Covid-19, penghasilan atau omzet yang didapatkan dalam sebulan mencapai Rp 30.000.000. Namun dengan kondisi sekarang, pendapatan turun drastis menjadi hanya Rp 10.000.000, atau bahkan kurang. Setiap hari Sabtu dan Minggu pun cukup sepi, tidak lagi seperti dulu.

"Kami harap pemerintah ikut mempromosikan hasil karya dari para perajin yang mengandalkan penghasilannya dari kerajian yang dibuatnya, yang merupakan warisan dari nenek moyang dan sudah membudaya ini," ungkap Cahyani.

Salah satu pemilik toko lainya, Wartini (42), menyebutkan, di pusat promosi kerajinan ini cukup banyak  kios yang menampung hasil kerajinan anyaman. Dengan kondisi saat ini, cukup sulit untuk mendapatkan keuntungan.

"Jangankan untuk keuntungan, untuk membayar karyawan saja cukup kebingungan. Belum ditambah semakin ketatnya persaingan. Sehingga, kini saya menerapkan sistem sif kepada para pegawai," kata Wartini.

Editor: Tri Joko Her Riadi
dewanpers