web analytics
  

Kabupaten Cirebon Uji Klinis Terapi Plasma Pasien Covid-19

Jumat, 18 September 2020 10:18 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Kabupaten Cirebon Uji Klinis Terapi Plasma Pasien Covid-19, Terapi plasma,Rsud Waled,Corona Cirebon,Obat corona,obat covid-19,cara sembuhkan covid-19

Uji terapi plasma terhadap pasien Covid-19 yang dikarantina di RSUD Waled, Kabupaten Cirebon. (dok. RSUD Waled)

CIREBON, AYONBANDUNG.COM -- Metode terapi plasma untuk percepatan penyembuhan pasien Covid-19 diuji terapkan di Kabupaten Cirebon.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon Enny Suhaeni menyebut, uji terapi plasma sudah dilakukan terhadap pasien Covid-19 dengan kategori berat. Hasilnya, cukup memuaskan.

"Uji terapi plasma telah diterapkan terhadap 2 pasien positif  yang masuk kategori berat di RSUD Waled," katanya, Jumat (18/9/2020).

Uji klinis terapi plasma sejauh ini dilakukan dengan kerja sama antara RSPAD Gagot Subroto dan RSPI Suliyanti Saroso, Jakarta. Bila terus menunjukan ke arah memuaskan, pihaknya berencana menerapkan metode ini secara mandiri.

Menurutnya, RSUD Waled sebenarnya sudah mengembangkan satu mesin imunoterapi untuk penanganan pasien Covid-19.

Namun, pengobatan ini terkendala obat yang selama sepekan terakhir peredarannya sulit sitemukan di Indonesia.

"Makanya kami coba terapi plasma. Saat ini, 2 pasien positif (Covid-19) di RSUD Waled sudah membaik, semoga bisa mempercepat proses kesembuhan pasien," katanya.

Ketua IDI Kabupaten Cirebon yang juga Ketua Tim Dokter Penanganan Covid-19 di RSUD Waled, Ahmad Fariz Malvi Zam-Zam Zein mengungkapkan, meski ke-2 pasien yang menjadi objek uji terapi plasma membaik, pihaknya masih harus mengamati masa rawat pasien pasca menjalani metode pengobatan ini.

"Imunitas ke-2 pasien kini lebih baik," ujarnya.

Mereka, jelasnya, merupakan pasien kategori berat sebab memiliki penyakit penyerta yang rentan atas risiko tertinggi akibat Covid-19, yakni kematian.

Dia menilai, Kabupaten Cirebon memiliki peralatan dan sumber daya manusia yang mumpuni untuk memproduksi antibodi dari plasma.

Hal ini dimungkinkan seraya mengidentifikasi pasien sembuh yang rela mendonorkan plasma darahnya kepada pasien positif.

"Secara teknis, terapi plasma ini dapat memberikan antibodi atau imunitas terhadap pasien yang masih dirawat," terangnya.

Seorang pendonor, lanjutnya, bisa menghasilkan 200 CC darah. Dalam proses penyembuhan pasien Covid-19, setidaknya dibutuhkan 2 pendonor plasma atau pasien yang sudah pulih dari Covid-19 untuk mendonorkan darahnya bagi 1 pasien positif yang masih dirawat.

Dengan catatan, golongan darah pendonor dengan pasien yang akan dipulihkan harus sama. Selain itu, darah yang diambil dari pendonor atau pasien yang telah sembuh tidak boleh melebihi waktu 3 minggu sejak kepulihannya.

"Pada pasien kritis, pengobatan menggunakan terapi plasma cukup memakan waktu 7 hari untuk sembuh," tuturnya.

Dia menyebutkan, terapi plasma mampu pula menghilangkan virus 11 kali dibanding pasien tanpa pengobatan terapi ini. Penerapan terapi plasma bahkan dapat menurunkan angka risiko kematian pasien Covid-19 sekitar 60%.

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers