web analytics
  

Petani Milenial KBB Ingin Ekspor Paprika, Tapi Bingung Caranya

Kamis, 17 September 2020 21:19 WIB Tri Junari
Bandung Raya - Ngamprah, Petani Milenial KBB Ingin Ekspor Paprika, Tapi Bingung Caranya, Petani Milenial,Ekspor Paprika,Petani di KBB

Hasil panen Paprika. (Tri Junari)

CISARUA, AYOBANDUNG.COM -- Petani milenial yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Anugrah Tani di Kampung Barunyatu, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ingin melakukan ekspor komoditas sayuran jenis Paprika. 

Mereka kebingungan harus berbuat apa agar Paprika hasil kebun mereka tembus pasar luar negeri dan harga jual meningkat. Pendampingan maupun bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat belum pernah didapatnya.

Wisnu Saepudin (26) salah seorang penggagas petani milenial di kampung tersebut mengatakan, sudah 4 tahun berjalan kelompoknya kini beranggotakan 25 petani berusia 20-30 tahun. 

Sehari, Gapoktan Anugrah Tani mampu memasok 1-1,5 ton paprika kualitas terbaik ke pasar Kramat Jati Jakarta. Untuk penyediaan setiap harinya anggota kelompok saling mengisi permintaan pasar.

"Sekarang baru pasar dalam negeri dikirim ke pasar di Jakarta, tapi kalau ekspor belum. Kami tidak tahu standar dan syarat apa yang harus dilengkapi agar kita bisa kirim langsung ke luar negeri," ungkap Wisnu saat ditemui Ayobandung.com, Kamis (17/9/2020). 

Selama ini, kata Wisnu, program pencetakan petani milenial digagas Kementerian Pertanian belum pernah menyentuh kelompoknya. Selama ini mereka mengolah lahan dan permodalan bertani paprika secara mandiri.

"Belum pernah ada pendampingan, bantuan maupun pelatihan diberikan pemerintah, kami lakukan secara mandiri. Makanya ketika ingin melangkah ke pasar ekspor kita kebingungan harus ngapain," kata Wisnu.

Dia berharap Kementerian Pertanian jangan hanya menjadikan pencetakan petani milenial sebagai jargon program saja. Tapi juga lebih melek pada generasi muda seperti mereka yang sudah memulai bertani.

"Ada bantuan dari dinas pertanian KBB malah mesin pompa untuk sawah, ya enggak kami ambil. Kami inginnya bisa memperluas pasar Paprika agar nilai jual ikut meningkat dan anggota kelompok sejahtera,"katanya.

Bukan hanya itu, Wisnu menilai potensi dan minat milenial di kampungnya cukup tinggi untuk menjadi petani. Tetapi keterbatasan edukasi, lahan dan permodalan selalu menjadi kendala klasik pencetakan petani dari kalangan generasi muda.

"Kami yang muda ini mau bertani, tapi untuk mencetak lebih banyak lagi milenial bertani juga sulit dengan modal terbatas. Padahal pasar terbuka lebar," katanya.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers