web analytics
  

Jakarta Kembali PSBB, Petani Paprika Bandung Barat Was-was

Kamis, 17 September 2020 15:11 WIB Tri Junari
Bandung Raya - Ngamprah, Jakarta Kembali PSBB, Petani Paprika Bandung Barat Was-was , Petani paprika Bandung Barat,PSBB Jakarta,Paprika Bandung,Harga Paprika

Wisnu Saepudin (26) petani Paprika di Kampung Barunyatu, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Ayobandung.com/Tri Junari)

CISARUA, AYOBANDUNG.COM -- Penerapan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam penanganan pandemi Covid-19 di Jakarta membuat khawatir petani paprika di Bandung Barat. Harga jual paprika yang baru saja bangkit setelah new normal diprediksi kembali anjlok seiring PSBB bergulir.

Wisnu Saepudin (26) petani paprika asal Kampung Barunyatu, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengaku, baru sebulan terakhir harga jual dan permintaan paprika mulai normal.

"Sejak bulan Maret nilai jual paprika hanya Rp5.000 per kilogram, itu berlaku bagi semua jenis baik merah, hijau, dan kuning maupun kualitasnya. Baru sebulan ini kembali normal di Rp30 000,"ungkap petani milenial ini saat ditemui Ayobandung.com, Kamis (17/9/2020).

Bukan hanya nilai jual yang anjlok, selama pandemi permintaan pasar merosot tajam dari 1-1,5 ton perhari menjadi hanya 5 kwintal. Hal itu membuat petani paprika tak raup untung. Laba bersih tidak mampu menutupi kebutuhan modal saat penanaman.

"Kalau sampai terbuang sih tidak, tetapi nilai jual dan permintaan cukup memprihatinkan," sebutnya.

Wisnu menambahkan, turunnya permintaan lantaran komoditas sayuran jenis paprika di Indonesia lebih banyak diminati untuk kebutuhan hotel, restoran serta pesta pernikahan yang kini disetop PSBB.

"Kalau paprika kan mengandalkan hajatan, restoran, dan hotel, semua itu tidak berjalan selama PSBB. Otomatis permintaan pasar menurun drastis," katanya.

Ia berharap, pandemi Covid-19 segera berakhir agar sektor pertanian paprika kembali unggul. Pemerintah juga diminta untuk turun tangan membantu petani agar tetap bertahan di tengah pandemi.

"Tidak ada perhatian sama sekali, adapun bantuan tidak tepat sasaran," katanya.

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers