web analytics
  

Kampung Loji, Gara-gara Kemiskinan Terpaksa Tinggal di Hutan

Rabu, 16 September 2020 19:52 WIB Tri Junari
Bandung Raya - Ngamprah, Kampung Loji, Gara-gara Kemiskinan Terpaksa Tinggal di Hutan, Kampung Loji,Kemiskinan,Tinggal di Hutan

Dirman (82) warga yang pertama kali bermukim di Kampung Loji. (Tri Junari)

GUNUNG HALU, AYOBANDUNG.COM -- Jika kebanyakan masyarakat memilih bermukim di wilayah perkotaan agar dekat dengan sumber penghasilan, berbeda dengan masyarakat di Kampung Loji, Desa Bunijaya, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat (KBB). 

22 tahun 30 kepala keluarga memilih tinggal di tengah perkebunan teh PTPN VI dan hutan BKPH Tambak Ruyung Timur. 15 kilometer dari perkampungan terdekat melalui jalanan tanah dan berbatu. 

Untuk menikmati energi listrik, warga membentangkan kabel sepanjang 10 kilometer sementara Kwh berada di tiang listrik terakhir. Biaya pengadaan kabel bahkan lebih mahal dari pemasangan baru listrik.

Dirman (82) warga yang pertama kali bermukim disini menuturkan, sebelum pindah ia tinggal di kampung pinggiran hutan itu. Mata pencaharian yang hanya beternak kambing dan buruh tani menjeratnya dalam kemiskinan

Tahun 1998, saat itu krisis ekonomi akibat peralihan kekuasaan membuat ekonomi warga pelosok semakin terhimpit. Pekerjaan tidak ada bahkan untuk makan saja teramat sulit. 

"Disini banyak rumput untuk pakan ternak, dari situ saya berpikir untuk tinggal disini," kata Dirman kepada Ayobandung.com, Rabu (16/9/2020). 

Meski berada didalam hutan tanpa penerangan dengan akses jalan yang rusak berat Dirman tak perduli. Hutan pinus beralas semak belukar dan hewan liar semacam kucing hutan, musang, ular bahkan macan kumbang pernah berpapasan dengannya. 

Awalnya hanya Dirman dan beberapa warga saja yang tinggal di kampung Loji, mereka mulai membersihkan tegalan untuk dijadikan pertanian padi. Untuk mendapat sedikit uang mereka juga beternak kambing juga menanam sereh wangi untuk dijual minyaknya.

"Dulu masih semak belukar disini, tapi apa boleh buat saya juga harus bisa makan dan punya sedikit penghasilan," ucapnya. 

Burhan, Ketua RT Kampung Loji menerangkan, kini ada 30 kepala keluarga menghuni kampung tengah hutan ini. Warga berasal dari berbagai kampung yang ada di sekitar pinggiran hutan Tambak Ruyung Timur seperti Cicurug dan Sindang Palay.

Tidak ada fasilitas kesehatan atau sarana pendidikan di kampung ini, warga harus berjalan atau mengendarai motor sejauh 15 kilometer untuk sampai di kampung terdekat.

"Kabel listrik itu kita tarik lurus 10 kilometer dari Kwh di kampung terdekat. Disini cuma 4 orang yang punya Kwh sisanya ya nyolok dari tetangga kalau sekedar penerangan mah," katanya.

Ia mengatakan, tanah yang mereka tempati secara hukum masuk dalam wilayah PTPN dan hutan lindung Perhutani. Namun, dengan sedikit kebijakan mereka dibolehkan bermukim dengan catatan tidak merusak kondisi hutan.

"Ya hidup kami mah atas dasar kebijakan perkebunan dan kehutanan. Disini kami juga tidak boleh menebang pohon, lahan untuk padi juga menggunakan tegalan tempat jalur air," katanya.

Untuk mendapatkan uang, warga mengandalkan pertanian tanaman sereh wangi sebagai mata pencaharian. Minyaknya dihargai Rp150 ribu perkilogram sementara untuk mendapat 1 kilogram itu dengan penyulingan 4 kwintal tanaman sereh.

"Sekarang lagi anjlok Rp150 ribu, kurang lebih 2 minggu itu bisa dapat 4 kilogram minyak sereh," ucapnya.

Selain dari itu, tidak ada pendapatan lain karena menanam sayuran juga tidak diperbolehkan. Jikapun menanam sayuran hanya untuk konsumsi pribadi menggunakan sistem pot atau polybag.

"Paling ya sereh wangi, selain itu tidak ada (pendapatan). Yah yang penting masih bisa hidup bisa makan," kata dia.

Ketua LSM Trapawana Jawa Barat, David Riksa Buana mengatakan, pihaknya mulai tahun 2008 datang ke kampung Loji. Saat itu tidak ada penerangan sama sekali, warga disini hanya ke pasar seminggu sekali melalui jalan terjal tanah dan batu besar.

"Listrik baru sekitar 4 tahun terakhir ada, itu juga hanya penerangan. Hal ini yang masih terus kita pikirkan, kedepan harapannya ada pembangkit listrik tenaga surya," kata David.

Trapawana Jawa Barat juga terus menerus melakukan edukasi agar warga tidak melakukan perambahan hutan dengam tanaman sereh wangi. Pemberdayaan ekonomi melalui pariwisata sepertinya lebih baik untuk keberlangsungan ekonomi warga dan ekosistem hutan di pelosok Kabupaten Bandung Barat itu.

"Jika pemangku jabatan duduk bersama bisa saja merubah pola ekonomi dari pariwisata, wisata offroad misalnya. Itu lebih baik karena jumlah penduduk dipastikan terus bertambah dan tidak menutup kemungkinan perambahan hutan bisa terjadi," katanya.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers