web analytics
  

Menaker: Kami Tidak Hambat Penyaluran BLT Rp1,2 Juta

Rabu, 16 September 2020 13:42 WIB Aini Tartinia
Umum - Nasional, Menaker: Kami Tidak Hambat Penyaluran BLT Rp1,2 Juta, Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker),Menaker Ida Fauziyah,BLT Rp1,2 Juta,blt pekerja,BLT Upah,Bantuan Subsidi Upah (BSU),Bantuan Kemenaker,bantuan pekerja

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah. (Kemnaker)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan, pihaknya telah berusaha semaksimal mungkin untuk memproses pencairan bantuan subsidi upah (BSU) atau bantuan langsung tunai (BLT) senilai Rp1,2 juta bagi pekerja bergaji di bawah Rp5 juta.

Ida menegaskan, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) tidak berupaya menghambat penyaluran uang subsidi upah untuk ditransfer ke rekening masing-masing penerima. Namun, pihaknya harus bekerja sesuai regulasi agar program tepat sasaran.

“Kami juga terus berkoordinasi dengan bank penyalur (himbara) untuk mempercepat proses transfer ke rekening penerima dan jika ada kendala maka kami cari jalan keluar bersama,” kata Ida dalam keterangan resminya, Rabu (16/9/2020).

Ida menyebut penyaluran BSU atau BLT saat ini memasuki tahap ketiga. Dia memastikan penyaluran uang subsidi upah tahap ketiga telah dicairkan kepada 3,5 juta orang, yaitu pekerja atau buruh yang berhak menerima sesuai dalam ketentuan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) No.14 Tahun 2020.

Diketahui, penyaluran tahap ketiga ini melengkapi penyaluran pada tahap sebelumnya, yakni tahap pertma sebanyak 2,5 juta orang penerima dan tahap kedua sebanyak 3 juta orang penerima. Secara total, hingga saat ini penyaluran subsidi upah telah diberikan kepada 9 juta penerima atau 57% dari total target 15,7 juta orang penerima.

Sebelumnya, Kepala Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan Soes Hindharno mengatakan, pencairan BSU atau BLT tahap ketiga ini memang membutuhkan waktu lebih lama dikarenakan pemeriksaan data penerima subsidi upah yang jumlahnya lebih besar dari tahap pertama dan tahap kedua.

“Proses pencairan terus dipercepat. Namun, tetap harus melalui proses cek dan ricek kembali agar tidak terjadi kesalahan data penerima sehingga program subsidi upah ini tepat sasaran,” kata Soes, Minggu (13/9/2020).

Ayojakarta.com merangkum beberapa faktor yang dapat menjadi alasan mengapa uang BSU atau BLT belum masuk ke rekening kalian atau bahkan lama cair :

1. Rekening calon penerima masih dalam proses validasi

BPJamsostek menerapkan validasi berlapis untuk mengantisipasi kemungkinan dana BSU tidak tepat sasaran.Terdapat sedikitnya tiga tahapan validasi yang dilakukan pertama yaitu validasi awal yang dilakukan bersama pihak eksternal yaitu perbankan.

Kedua, pada tahap ini BPJamsostek melakukan validitas internal atas data kepesertaan yang memenuhi kriteria seperti tertera pada Permenaker 14/2020, yakni terkait keaktifan kepesertaan BPJamsostek, batas maksimal upah yang ditetapkan, dan memastikan calon penerima BSU dari kategori pekerja PU.

Ketiga, pada tahap ini, BPJamsostek melakukan validasi berdasarkan atas nomor NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang disesuaikan dengan kepemilikan rekening. Ini dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya penerima bantuan ganda karena yang bersangkutan tercatat aktif bekerja di lebih dari satu perusahaan yang berbeda.

2. Rekening calon penerima tidak lolos validasi

Beberapa waktu lalu, Direktur Utama BPJamsostek Agus Susanto menyebutkan sebanyak 1,6 juta data calon penerima BSU atau BLT tidak lolos validasi kriteria penerima subsidi upah sesuai Permenaker No.14 tahun 2020.

“Dari 1,6 juta ini ternyata kami lihat ada 62% yang upahnya di atas Rp5 juta. Padahal, yang dapat bantuan di bawah Rp5 juta,” ujar Agus dalam siaran pers, Selasa (8/9/2020).

Agus menduga hal tersebut terjadi lantaran perusahaan mengalami kesulitan memilih data pekerja bergaji di bawah Rp5 juta maupun status kepersetaan sampai Juni 2020, sehingga perusahaan memutuskan mengirimkan seluruh data pekerja.

“Mereka kirimkan semuanya, sehingga ini juga terfilter sistem kami dan mengakibatkan 1,6 juta data tidak bisa diteruskan,” ujarnya.

3. Perusahaan atau pemberi kerja belum menyetorkan rekening ke BPJamsostek

Selain itu, Agus menyatakan, pihaknya mendorong perusahaan atau pemberi kerja untuk segera menyampaikan data nomor rekening peserta. Sementara yang memenuhi persyaratan hingga Selasa, (15/9/2020) baru 14,3 juta data nomor rekening.

“Baru 14,3 juta nomor rekening tervalidasi oleh bank, sebanyak 200 ribu yang masih proses validasi dan ada 19 ribu yang tidak valid. Data tidak valid dikembalikan kepada pemberi kerja untuk dilakukan koreksi,” kata Agus.

4. Calon penerima memiliki rekening bank swasta

Bagi kalian yang memiliki rekening bank swasta termasuk BCA, CIMB Niaga, Danamon, harus menunggu proses kliring atarbank yang membutuhkan waktu tambahan.

Menurut penelusuran Ayojakarta.com, SKNBI adalah Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI). Sementara itu, kliring adalah pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan dalam waktu tertentu.

LLG sendiri adalah Lalu Lintas Giro yang menggunakan fasilitas kliring untuk transfer antara satu bank dengan lainnya.

Di beberapa kesempatan, akun Twitter @HaloBCA menjawab pertanyaan netizen yang mempertanyakan tak kunjung cairnya uang BSU atau BLT ke rekening mereka. Salah satunya :

Dengan senang hati kami bantu informasikan Ibu Alfinadinda. Jika yang dimaksud dana BLT mekanisme dropping dana Pemerintah akan dilakukan melalui Bank Himbara. Untuk rekening-rekening BCA yang digunakan nasabah dan terverifikasi oleh BPJS dan (1/3) ^Naomi

Kementerian Tenaga Kerja, maka Himbara akan mengkreditkan dana BLT tersebut menggunakan jalur *SKNBI/ LLG Incoming* dalam beberapa kali upload data, sehingga pengkreditan ke rekening BCA *tidak terjadi secara bersamaan*. Mhn menunggu dan mengecek (2/3) ^Naomi

“mutasi secara berkala, karena BCA sebagai penerima dana yang bersifat pasif, hal tersebut tergantung dari pihak pengirim, ya. :) Tks (3/3) ^Naomi.” Demikian penjelasan dari @HaloBCA.

Editor: Ananda Muhammad Firdaus
dewanpers