web analytics
  

Studi Baru: Rokok tak Hilangkan Rasa Cemas

Rabu, 16 September 2020 11:29 WIB
Gaya Hidup - Sehat, Studi Baru: Rokok tak Hilangkan Rasa Cemas, rokok,bahaya rokok,Kecemasan,bahaya merokok

Ilustrasi (Pixabay/Hanjörg Scherzer)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Sebuah penelitian mengungkapkan bagaimana rokok dapat membuat orang lebih rentan terkena fobia dan jenis ketakutan kronis lainnya. 

Tentu itu jadi pertimbangan bagi Anda untuk berhenti, apalagi gangguan kronis lainnya yang bisa dialami seperti gangguan stres pascatrauma atau PTSD.

Para peneliti telah menemukan bukti bahwa asap rokok dapat mengganggu kemampuan otak menekan kenangan yang berhubungan dengan rasa takut. Pada akhirnya, kondisi tersebut rentan membuat perokok kurang mampu mengatasi rasa takut dan cemas setelah mengalami peristiwa traumatis.

Ini bisa berdampak serius bagi orang-orang dalam pekerjaan di mana mereka paling berisiko menderita PTSD, seperti anggota angkatan bersenjata. Dalam sebuah survei dikatakan, sekitar 33 persen tentara diyakini merupakan seorang perokok.

Para peneliti di balik penelitian ini percaya bahwa bahan kimia dalam tembakau dapat mengganggu pesan antara neuron di otak yang juga dikenal sebagai neurotransmitter yang terlibat dalam mengendalikan rasa takut.

Peneliti utama Dr Jan Haaker dari University Medical Center di Hamburg, Jerman mengatakan bahwa intervensi larangan rokok terhadap  pasien PTSD dapat membantu pemulihan mereka lebih baik.

Haaker menambahkan bahwa intervensi awal untuk menghentikan kebiasaan merokok pada orang-orang yang berisiko  seperti tentara yang sedang bertempur, petugas pemadam kebakaran dan polisi,  mungkin juga dapat mengurangi risiko timbulnya gangguan kecemasan.

Dikutip Suara.com dari Zeenews, tim peneliti menguji tanggapan ketakutan pada 376 sukarelawan yang sehat, seperlima dari mereka adalah perokok biasa.

Peneliti lalu meminta peserta untuk menilai stres, ketakutan dan ketegangan mereka selama tes berlangsung. Mereka menemukan bahwa perokok cenderung memiliki respons ketakutan yang lebih besar terhadap simbol setelah mereka diajari untuk menghubungkannya dengan sengatan listrik daripada orang yang bukan perokok.

Dan semakin banyak merokok, maka semakin sedikit kemampuan mereka untuk menghambat rasa takut. Hasilnya menunjukkan bahwa merokok mengganggu ingatan terkait rasa takut, terutama bila tidak ada bahaya.

Hasilnya menunjukkan bahwa semakin lama orang merokok, semakin tinggi defisit dalam menghambat respons ketakutan. Para periset mencatat bahwa merokok mengubah keseimbangan neurotransmitter di otak, yang diperlukan untuk proses belajar yang baik.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Sumber: Suara.com
Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers