web analytics
  

Perlunya Mengedukasi Pesepeda

Rabu, 16 September 2020 06:59 WIB Netizen Djoko Subinarto
Netizen, Perlunya Mengedukasi Pesepeda, Netizen Bandung,Sepeda,Etika bersepeda,Gowes Sepeda

Sekelompok peseda menanti giliran jalan di lampu merah. (Djoko Subinarto)

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

TREN bersepeda sedang melanda sejumlah kota di negara kita belakangan ini. Bengkel sepeda dan toko sepeda diserbu konsumen. Dampaknya, harga beberapa jenis sepeda tertentu dan sejumlah onderdil sepeda melonjak beberapa kali lipat.

Pada akhir pekan, maupun hari libur lainnya, sekarang ini kita kerap saksikan orang-orang ramai bersepeda. Termasuk di Kota Bandung. Ada yang gowes sendirian. Ada yang berjamaah -- dengan keluarga atau dengan komunitas.

Bersepeda dalam kelompok komunitas bagus untuk mempererat persahabatan dan persaudaraan. Sementara bersepeda dalam kelompok keluarga bukan cuma bagus untuk meningkatkan ikatan (bonding) antara anak dan orangtua, tetapi juga bagus untuk pendidikan lingkungan.

Dengan seringnya anak diajak bersepeda diharapkan dapat ikut menumbuhkan kesadaran lingkungan anak-anak itu sehingga saat mereka beranjak dewasa, mereka akan memilih menggunakan sepeda sebagai alat transportasi mereka sehari-hari.

Meningkatnya jumlah pesepeda akhir-akhir ini tentu saja perlu disambut gembira. Meski demikian, peningkatan ini mesti dibarengi pula dengan edukasi bersepeda untuk mereka. Karena, tanpa dibarengi edukasi bersepeda, melonjaknya jumlah pesepeda boleh jadi hanya akan menambah ruwet persoalan lalu-lintas di kota-kota kita.

Jujur saja, masih ada pesepeda yang bersepeda secara kurang tertib dan mengabaikan keselamatan. Mereka bersepeda secara serampangan, srudak-sruduk, tanpa mengindahkan aturan lalu-lintas.

Baru-baru ini, misalnya, sempat viral video yang menunjukkan rombongan pesepeda yang dengan santuy-nya melawan arus di Jalan Asia Afrika, Bandung. Lantas, beberapa hari lalu, viral pula video sekelompok pesepeda yang nekat masuk jalan tol. 

Demi kenyamanan, keamanan dan keselamatan bersama, edukasi bersepeda dibutuhkan agar para pesepeda mampu senantiasa tertib berlalu-lintas, mematuhi rambu-rambu yang berlaku dan sekaligus menghormati pengguna jalan lainnya. Dengan begitu, tidak akan membahayakan diri sendiri dan juga tidak akan membahayakan orang lain.

Jalan raya bukan hanya milik pesepeda, tetapi juga milik pengguna jalan lainnya. Itulah sebabnya ada prinsip share the road -- berbagi jalan dengan pengguna jalan lainnya. Sementara itu, khusus untuk jalan tol, tentu saja, ini sama sekali tidak diperuntukkan buat sepeda. Para pesepeda semestinya paham hal itu.

Komunitas-komunitas sepeda yang ada memiliki kewajiban untuk ikut mengedukasi para anggotanya agar mampu tertib saat bersepeda.

Kita mengapresiasi upaya sejumlah komunitas pesepeda yang belakangan ini getol melakukan edukasi langsung kepada para pesepeda di jalanan. Di Bandung, misalnya, beberapa komunitas sepeda berkolaborasi dengan Dinas Perhubungan Kota Bandung menggelar program mingguan bernama Sikasep Terlalu (Silaturahmi dan Kordinasi Kampanye Bersepeda Tertib Berlalu Lintas). Tujuannya untuk mengedukasi para pesepeda terkait dengan keselamatan dan ketertiban saat bersepeda.

Kita harapkan program edukasi semacam itu dapat dilakukan oleh komunitas-komunitas sepeda lainnya di kota-kota lainnya, sehingga semakin banyak pesepeda yang teredukasi.

Di pihak lain, pemerintah juga perlu terus mengupayakan penambahan berbagai fasilitas untuk pesepeda.

Sejumlah regulasi untuk pesepeda mungkin saja diperlukan. Namun, jangan sampai regulasi itu justru mempersulit pesepeda atau membuat orang malah ogah bersepeda.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers