web analytics
  

Indonesia Tak Masuk Liga Champions Asia, Ini Respons Robert Alberts

Selasa, 15 September 2020 21:34 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Persib - Maung Bandung, Indonesia Tak Masuk Liga Champions Asia, Ini Respons Robert Alberts, Liga Champions Asia,Persib Bandung

Pelatih Persib Bandung Robert Alberts. (Eneng Reni)

GEDEBAGE, AYOBANDUNG.COM -- Klub sepak bola Indonesia harus gigit jari lantaran harus kehilangan kesempatan untuk unjuk kebolehan dalam ajang di Liga Champions Asia (LCA) 2021.

Pelatih Persib Bandung Robert Alberts mengatakan, tak masuknya nama Indonesia dalam perhelatan tersebut imbas sanksi jangka panjang pembekuaan PSSI oleh FIFA pada 2015.

Selain itu, untuk bisa tampil dalam kompetisi bergengsi tersebut, tim yang mewakili Indonesia harus lolos sistem kualifikasi di kompetisi Asia. Namun sayangnya, Indonesia tak berbicara banyak di level tersebut. Saat ini, Indonesia hanya menempati peringkat 13 Zona Timur atau 38 dari seluruh Benua Asia.

"Indonesia tidak punya jatah untuk Liga Champions Asia itu tentunya dimulai karena sempat disanksi FIFA. Jika melihat di kompetisi level Asia, tim kami (Indonesia) memang harus bertarung dulu dengan tim lain di kualifikasi dan itu normal untuk saat ini," kata Robert.

Pelatih asal Belanda itu mengatakan, tim-tim di Indonesia harus berbenah meningkatkan kapasitas untuk bermain di Liga Champions Asia. Pasalnya, di panggung utama tersebut, diisi sederet tim papan atas Asia.

"Di Liga Champions Asia ada tim dari Korea Selatan, Jepang, tim dari Timur Tengah, yang tentu berbeda levelnya dengan tim dari Asia Tenggara," kata Robert.

Sejatinya Robert menilai, kick off kompetisi Liga 1 2020 pada 1 Oktober merupakan waktu yang ideal. Hanya saja dirinya tak habis pikir dengan penetapan jadwal pertandingan yang sangat padat. Pasalnya, dalam waktu hanya 4 bulan, Liga 1 harus selesai dengan total 31 sisa pertandingan.

"Secara pribadi saya tidak memahami itu. Jika melihat kenyataan di liga yang harus berkendara bolak-balik pulau Jawa dan menghabiskan banyak waktu di bus dan itu akan melelahkan bagi pemain, waktu mereka berlatih juga berkurang," katanya.

Robert menilai, kompetisi seharusnya bisa diperpanjang hingga Maret atau April 2020. Menurutnya, pemilihan waktu tersebut cukup realistis dan tidak akan membuat tim kelelahan dengan padatnya kompetisi. Apalagi andai kompetisi tidak terkesan buru-buru, hal itu bisa meningkatkan kualitas dan level Liga Indonesia.

"Dengan menggunakan bus, pemain akan sangat kelelahan. Jadi bukan pertarungan di lapangan, tapi melawan perjalanan. Saya berpikir liga ini menyiksa," katanya.

"Seperti yang sebelumnya sudah saya katakan, tidak ada yang yang meminta saran dari kami orang-orang yang benar-benar bekerja di sepak bola, yang tahu kenyataannya bagaimana harus duduk di bus lalu melakukan persiapan dan melakukan recovery. Jadi bagi kami, seperti yang sudah dikatakan, kami mengikuti instruksi," ungkapnya.

Pelatih berusia 65 tahun itu memahami, situasi kian rumit lantaran Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. Dia juga menilai, Federasi memang akan lebih fokus untuk persiapan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. 

"Kami memahami situasi sulit ini dan Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Jangan lupa bahwa seharusnya ada Piala Indonesia, tapi tidak ada satupun yang memikirkan itu. Yang mana itu adalah turnamen yang penting juga. Tapi itu pendapat pribadi saya," ujarnya.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers