web analytics
  

Birokrat Tak Berpartai Pimpin Kabinet Baru Jepang

Selasa, 15 September 2020 20:26 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Birokrat Tak Berpartai Pimpin Kabinet Baru Jepang, Yoshihide Suga,Shinzo Abe,perang dagang China-Amerika

Ilustrasi. (Pixabay)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM -- Seperti yang telah diduga, Yoshihide Suga dipilih menggantikan PM Shinzo Abe. Ia akan mengumumkan skuat kabinetnya pada Rabu, 16 September 2020. Menarik untuk dilihat faksi yang akan memperoleh jatah terbanyak. 

Kabinet biasanya terdiri atas satu perdana menteri. Sepuluh menteri serta seorang sekretaris kabinet. Juga ada empat belas menteri negara, serta sejumlah wakil menteri yang khusus berhubungan dengan parlemen. Pos yang terakhir ini menarik karena tugasnya berhadapan dengan para wakil rakyat di parlemen.

Pos-pos yang akan mendapat perhatian adalah menteri perindustrian dan perdagangan internasional (MITI), menteri luar negeri, menteri pertahanan dan menteri keuangan. Terlebih Jepang saat ini tengah mengahadapi dampak pandemi CoVID-19, kemerosotan ekonomi, implikasi perang dagang China-Amerika Serikat, sengketa wilayah dengan China dan penculikan warga negara Jepang oleh agen-agen intelijen Korea Utara lebih dari seperempat abad yang lalu.

Kunci kelancaran pemerintahan dipegang kantor sekretariat kabinet, dalam mana Suga memimpinnya selama delapan tahun terakhir. Seorang sekretaris kabinet memimpin lebih dari 1.100 pejabat, yang umumnya pejabat tinggi dari berbagai kementerian dan badan pemerintah lainnya. Semuanya dikendalikan perdana menteri.

Kantor sekretariat kabinet ini yang merumuskan berbagai kebijaksanaan, terutama ekonomi dan luar negeri. PM yang kemudian memerintahkan kementerian terkait menjalankan kebijaksanaan tersebut.

Para pegawai kantor sekretariat relatif tidak berpartai. Siapapun perdana menterinya akan dibantu. Mereka juga akan menjadi ‘shepherd’ atau pendahulu dalam suatu perundingan, baik dengan kalangan di dalam negeri maupun negara lain. Jadi perdana menteri tinggal ‘stempel’ saja.

Kantor Sekretariat ini juga bekerja dengan Kantor Kabinet yang tugasnya mengkoordinir semua aktivitas kementerian dan kementerian negara.

Tak Berpartai

Yoshihide Suga menang mutlak dalam persaingan merebut Ketua Partai Liberal Demokrat (LDP). Pemenangnya otomatis akan menjadi perdana menteri sebab LDP mayoritas di parlemen.

Suga memperoleh 377 suara atau 70% dari total suara yang ada yakni 534. Total suara itu terdiri dari 393 anggota parlemen yang berasal dari LDP dan 141 perwakilan partai dari seluruh Jepang.

Ketua Dewan Kebijaksanaan LDP Fumio Kishida mendapat 89 suara dan mantan Menteri Pertahanan Shigeru Ishiba meraih 68 suara.

Suga unggul karena salah satu faksi dalam LDP menjadi pendukungnya dan membangun konsensus dengan empat faksi lainnya.

Di LDP terdapat tujuh faksi, yakni Seiwa Seisaku Kenkyukai yang dipimpin Hiroyuki Hosoda dengan 97 anggota. Faksi Shikokai yang diketuai Taro Aso dengan 54 anggota. Faksi Heisei Kenkyukai yang dikepalai Wataru Takeshita dengan 53 anggota.

Faksi Kochikai yang diketuai Fumio Kishida dengan 46 anggota. Faksi Shisuikai dipimpin Toshihiro Nikai dengan 45 anggota. Faksi Suigetsukai dengan ketua Shigeru Ishiba dengan 19 anggota. Yang ketujuh Faksi Kinmirai Kenkyukai dengan pemimpinnya Nobutero Ishihara yang beranggotakan sebelas orang.

Suga mendapat dukungan Toshihiro Nikai, ketua Faksi Shisuikai. Dia pula yang membangun konsensus dengan empat faksi lain, selain faksi Kochikai dan Suigetsukai.

Suga juga mendapat dukungan dari mitra koalisi LDP, partai Komeito yang didirikan para anggota organisasi Buddha Nichiren. Komeito memperoleh 35 kursi di Majelis Rendah dan 25 kursi di Majelis Tinggi Parlemen.

Melanjutkan

Sejak awal, Suga berjanji akan melanjutkan kebijaksanaan PM Shinzo Abe. Di antaranya melanjutkan Abenomics yang dirancang untuk membangkitkan perekonomian dengan cara menerapkan kebijaksanaan moneter yang longgar, dalam mana bank sentral meningkatkan jumlah beredar. Melaksanakan stimulus fiskal dan reformasi struktural. Sebegitu jauh dampak Abenomics masih terbatas.

Dalam politik luar negeri, Abe menerapkan prinsip seikei bunri atau memisahkan masalah politik dengan ekonomi. Terhadap China misalnya, Abe mengakui manfaat ekonomisnya dan memilih untuk memperdalamnya ketimbang berkonflik dalam pemilikan pulau Senkaku atau Diayou.

Total perdagangan Beijing-Tokyo mencapai 20% dari total perdagangan Jepang dengan negara-negara lain atau sekitar US$317 miliar pada tahun lalu. China merupakan mitra dagang Jepang terbesar.

Abe membeli 105 pesawat F-35, tetapi tidak mengikuti kebijaksanaan IndoPasifik ala Amerika Serikat-Australia. Ia lebih memilih poros Jepang-Asean yang dinilainya memiliki banyak kesamaan.

Jepang juga bersengketa dengan Rusia mengenai pemilikan empat pulau Etorofu, Shikotan, Kunashiri dan gugusan batu Habomai di kepulauan Kuril. Namun kedua pihak mendahulukan kerjasama dalam mencegah perluasan Covid-19 dan mengiyaratkan akan membuat perjanjian perdamaian.

Suga masih memiliki waktu hingga Oktober tahun depan untuk menjalankan ambisinya sendiri yakni, memperkuat genggaman atas birokrasi, menggencarkan program digitalisasi, asuransi kesehatan, menurunkan biaya telekomunikasi dan memperkuat prakarsa untuk memperluas penggerak ekonomi dari sektor pariwisata dan pertanian.

Kepiawaian Yoshihide Suga sebagai birokrat profesional tidak diragukan lagi, namun jabatan perdana menteri memerlukan keahlian berpolitik. Untuk sementara waktu Nikai akan mendukungnya, tetapi bagaimana menjelang pemungutan suara anggota majelis rendah pada Oktober 2021.

Suga bukan petugas partai!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers