web analytics
  

Kontribusi Kota Bandung dan Kota Cimahi sebagai Kota Nol Sampah (Zero Waste Cities)

Selasa, 15 September 2020 15:30 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Bandung Raya - Bandung, Kontribusi Kota Bandung dan Kota Cimahi sebagai Kota Nol Sampah (Zero Waste Cities), Zero Waste Cities,Kota Nol Sampah,Gerakan Nol Sampah,Sampah Kota Bandung,Sampah Kota Cimahi,YPBB,David Sutasurya

Ilustrasi tempat pembuangan sampah. (Istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kota Bandung dan Kota Cimahi sudah menjadi model penerapan Kota Nol Sampah (zero waste cities) sejak 2017 lalu. Di kawasan-kawasan yang sudah melakukan pemilahan sampah, volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA) Sarimukti berkurang masing-masing 23 persen di Kota Bandung dan 35 persen di Kota Cimahi.

David Sutasurya, Direktur Eksekutif YPBB (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi), menyatakan, pengumpulan terpilah di Kota Bandung telah melayani lebih dari 8 ribu jiwa di tahun 2018. Saat ini, cakupan layanan diklaim mencapai 25 ribu jiwa.

“Untuk Kota Cimahi, dari cakupan layanan 8 ribu jiwa pada 2018, di tahun 2019 sudah mencapai 19 ribu jiwa,” kata David dalam sebuah webinar belum lama ini.

Selain peningkatan jangkauan layanan, penerapan model Kota Nol Sampah di Bandung dan Cimahi juga berhasil meningkatkan tingkat partisipasi pemilahan. Saat ini, tingkat partisipasi di Kota Bandung mencapai rata-rata 37%, sedangkan di Kota Cimahi mencapai rata-rata 63%.

Sejak 2017, Kota Bandung dan Kota Cimahi menjadi model Zero Waste Cities yang dikembangkan oleh YPBB. Program Zero Waste Cities adalah pengembangan sistem pengumpulan sampah terpilah dan pengolahan sampah secara holistik dan berkelanjutan meliputi aspek edukasi, operasional, kelembagaan, regulasi, dan pembiayaan.

Di Kota Bandung, konsep Zero Waste Cities dikenal dengan Gerakan Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan) yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Bandung pada 17 Oktober 2018. Saat ini terdapat 143 Kawasan Bebas Sampah (KBS) yang sudah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung Kamalia Purbani menyatakan, persoalan sampah tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan terpisah dengan isu lainnya. Gerakan Kang Pisman berkolaborasi dengan Gerakan Buruan Sae (buruan adalah halaman dalam bahasa Sunda) atau  program Waste to Food.

“Gerakan Kang Pisman tidak lagi menjadi gerakan sektoral, tapi akan dikaitkan dengan ketahanan pangan,” tutur Kamalia.

Di Kota Cimahi, program Zero Waste Cities dikenal dengan Program Cimahi Barengras (Bareng-bareng Kurangi Sampah). Tahun ini program terpaksa tertunda karena adanya pengalokasian ulang anggaran untuk penanganan Covid-19. Dampaknya, program Cimahi Barengras diprioritaskan di 5 RW sekitar TPS3R Melong RW 31.

 

Ke Citarum

Di Jawa Barat, tahun ini program Zero Waste Cities bakal dikembangkan ke beberapa kota di sekitar Citarum. David Sutasurya menyebut rencana ini sebgai kontribusi untuk mendukung target pemerintah provinsi dan pusat untuk Citarum. Sebagaimana diketahui, penangan ragam persoalan di kawasan Citarum menjadi salah satu prioritas kerja nasional lewat program Citarum Harum.  

Dijelaskan David, pola pengelolaan sampah saat ini yang bertumpu pada model kumpul-angkut-buang akan menciptakan kebergantungan pada teknologi dan cara pengolahan padat modal yang dikembangkan di negara-negara kaya. Dengan bertumpu pada pemilahan sampah dan pengolahan di skala lokal, Gerakan Nol Sampah justru berupaya untuk membuat kota-kota lepas dari metode pengelolaan sampah yang mahal.

“Negara-negara berkembang, seperti Indonesia, harus menemukan model pengelolaan sampahnya sendiri, bukan meniru model yang sudah berkembang di negara-negara kaya,” kata David.

Editor: Tri Joko Her Riadi
dewanpers