web analytics
  

Rata-rata Lebih dari 80% Pendapatan Pengusaha Indonesia Turun

Selasa, 15 September 2020 14:57 WIB
Umum - Nasional, Rata-rata Lebih dari 80% Pendapatan Pengusaha Indonesia Turun, UMKM,COVID-19,Dampak Covid-19,Ekonomi & Bisnis,Badan Pusat Statistik (BPS)

Ilustrasi (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Pagebluk Covid-19 berdampak besar pada sektor ekonomi. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 84% usaha mikro dan kecil (UMK) dan 82% usaha menengah dan besar (UMB) pendapatannya turun.

Data ini didapatkan dari survei BPS terhadap 34 ribu pengusaha UMK dan UMB dari berbagai daerah di Indonesia.

Survei dilakukan pada 10 hingga 26 Juli. Akomodasi dan makanan minuman menjadi sektor yang terdampak paling signifikan. Sebanyak 92,47% dari responden yang bergerak di sektor ini menyatakan mengalami penurunan pendapatan curam.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, opini tersebut sebanding dengan data pertumbuhan ekonomi kuartal kedua. Pada periode tersebut, sektor akomodasi dan makanan minuman mengalami pertumbuhan minus 22,02%.

"Artinya, mereka yang terdampak pada kuartal kedua, masih mengalami kesulitan di Juli ini," katanya dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (15/9/2020).

Sebanyak 90,90% dari sektor jasa lainnya juga mengalami penurunan pendapatan sejak pandemi terjadi. Sementara itu, 90,34% responden transportasi dan pergudangan juga mengalami hal serupa.

Di sisi lain, data BPS menunjukkan, masih ada pelaku usaha yang menginfokan kenaikan pendapatan pada masa pandemi. Penjualan produk mereka justru meningkat dibandingkan masa normal. Hanya saja, jumlahnya memang kecil, yakni 2% dari responden UMK dan 3% dari responden UMB.

Suhariyanto mengatakan, beberapa komoditas yang mengalami peningkatan penjualan pada masa pandemi adalah industri frozen food (makanan beku). Selain itu, industri jamu, penjualan masker, sepeda dan layanan internet.

"Persentasenya kecil, tapi di tengah Covid-19, mereka justru bergerak dan mendapatkan keuntungan lebih dibandingkan normal," tuturnya.

Pandemi Covid-19 turut berdampak dari sisi status operasional dan skala usaha. Sebanyak 24% dari responden UMK dan 28% dari responden UMB memutuskan mengurangi kapasitas produksi. Bahkan, 5% UMK dan 10% UMB harus berhenti beroperasi karena tekanan ekonomi.

Sementara itu, 16,3% dari UMB melakukan Working From Home (WFH), dan 5,4% UMK melakukan hal serupa. Tapi, sebanyak 59,8% dari responden UMK masih tetap beroperasi normal. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan UMB yang beroperasi seperti biasa, yakni 49,4%.

Sebelumnya, Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan Kunta Wibawa Dasa Nugraha menyebutkan, seluruh bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) akan terdampak apabila pandemi Covid-19 masih  berlangsung sampai tahun depan. Perhitungan ini berdasarkan kajian LIPI mengenai dampak pandemi terhadap UMKM.

Merujuk pada data itu, Kunta menjelaskan, jika pandemi Covid-19 masih terjadi sampai Oktober, dampaknya akan dirasakan pada 85,42% bisnis UMKM. Efek terberat akan dirasakan apabila penyebaran virus corona terus berlangsung sampai dengan April 2021.

"Ini yang bahaya, karena 100% akan kena dampaknya. Kita ingin ini tidak terjadi," ujarnya  dalam Webinar Prospek Pemulihan Ekonomi Industri Kecil dan Menengah, Selasa (8/9).

Kunta menambahkan, ketika UMKM tidak mampu mempertahankan usahanya, efek berantai yang terjadi akan sangat besar. Di antaranya, peningkatan kredit macet di perbankan maupun lembaga pembiayaan lain hingga gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang masif.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Sumber: Republika
Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers