web analytics
  

Ketua RW di Padalarang Ubah Sampah Plastik Jadi Bernilai Tinggi

Jumat, 11 September 2020 20:53 WIB Tri Junari
Bandung Raya - Ngamprah, Ketua RW di Padalarang Ubah Sampah Plastik Jadi Bernilai Tinggi, Sampah Plastik,Ketua RW

Toni Permana (37) Ketua RW 06 Kampung Sukamaju, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Tri Junari)

PADALARANG, AYOBANDUNG.COM -- Toni Permana (37) Ketua RW 06 Kampung Sukamaju, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sejak tahun 2017 konsisten memperbaiki lingkungan sekitarnya. 

Ia menginisiasi pengurangan sampah plastik di wilayahnya menjadi barang bernilai ekonomis. Melalui serangkaian riset dan modal edukasi, kini sampah plastik diubahnya menjadi paving block.

"Awalnya saya lihat banyak sampah plastik berserakan di selokan wilayah RW 06. Kalau (sampah) organik kita bisa olah menjadi pupuk untuk urban farming, tapi plastik bagaimana," ucap Toni membuka perbincangan dengan Ayobandung.com, Jumat (11/9/2020).

Sejak saat itu, Ketua RW muda ini memutar otak agar pola pikir masyarakat pada penanganan sampah plastik berubah. Ia kemudian melakukan riset secara mandiri soal daur ulang sampah plastik.

Singkat cerita, paving block limbah plastik ini kemudiam dipilihnya untuk mengurangi sampah di lingkungannya. Ia kemudian memilah setiap sampah plastik di bank sampah yang terlebih dulu didirikan.

Toni mengaku paving block ini merupakan salah satu solusi untuk mengurangi sampah plastik rumah tangga yang bisa dijadikan barang berharga. 

"Inisiatif berawal dari lingkungan yang banyak sampah plastik, baik itu diselokan, sekitar sekolahan, untuk menguranginya sampah itu, saya terinspirasi dari situ, niat ingin mengurangi sampah," ujar Toni. 

menurutnya, bekas bungkus kopi, mie dan bungkus sampo yang diberikan oleh warga itu justru paling bagus jika dibuat paving block. Awal pengerjaan alat produksi masih menggunakan material seadanya seperti tungku yang terbuat dari batu bata, kompor serta alat cetak paving block buatan sendiri. 

"Jadi program sodaqoh dari warga seperti sampah residu atau sampah tidak laku dijual, seperti bekas bungkus kopi, mie dan sampo itu saya kumpulkan dijadikan barang berharga yaitu paving block ini, " katanya. 

Di tempat lokasi produksi pembuatan paving blocknya itu nampak alat pembuatannya dibuat dari alat seadanya, seperti alat cetak paving block serta alat pres-nya. 

Proses pembuatan paving block plastik ini hanya membutuhkan waktu 30 menit dari proses melelehkan sampah plastiknya hingga siap dicetak menjadi barang paving block. 

"Proses pembuatannya manual dengan cara di bakar menggunakan kompor, dicetak dengan secara manual dengan alat di bikin sendiri," ujarnya. 

Toni mengaku hanya dibantu oleh kelima warganya dan sehari hanya mampu memproduksi 15 buah paving block. Hal itu karena alat produksi masih manual dengan SDM yang terbatas.

"Berhubung produksinya terbatas akibat alat  kami menjual hanya kepada komunitas-komunitas saja. Sempat ada yang pesan di cileunyi, namun di tolak karena pesanannya terlalu banyak, saya tidak menyanggupi, karena keterbatasan alat itu," katanya. 

Toni mengungkapkan soal kualitas paving block plastik yang dibuatnya itu tak kalah dengan paving block yang seperti biasa terbuat dari batu. Malahan menurutnya, kualitas paving block plastiknya itu tahan banting serta memiliki bobot berat yang cukup ringan. 

Ia pun memperlihatkan kekuatan paving block plastiknya itu dilempar beberapa kali, nampak tak ada sedikitpun yang terbelah. Kualitas paving block-nya itu sudah teruji terpasang di halaman rumahnya dan hingga kini belum ada keluhan sama sekali. 

"Untuk harga, Toni menjualnya per meter diharga Rp 220 ribu dengan isinya sebanyak 25 buah," katanya.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers