web analytics
  

Tindakan Bunuh Diri Bisa 'Menular', Ini Penjelasan Psikiater

Jumat, 11 September 2020 09:31 WIB
Gaya Hidup - Sehat, Tindakan Bunuh Diri Bisa 'Menular', Ini Penjelasan Psikiater, Bunuh Diri,cara menghindari bunuh diri,cara menghadapi depresi,cara menghilangkan depresi

[Ilustrasi] Depresi merupakan gangguan yang memengaruhi perasaan, cara berpikir, dan bertindak. (Pixabay/Anemone123)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Bunuh diri ternyata bisa 'menular'. Namun bukan seperti penyakit yang ditularkan melalui virus atau bakteri.

Psikiater DR. dr. Nova Rianti Yusuf Sp.KJ menjelaskan orang yang kehilangan anggota keluarga atau kerabat dekat akibat bunuh diri berisiko besar melakukan hal yang sama.

"Kalau dari kerabat, teman dekat dari orang yang meninggal karena bunuh diri itu punya risiko lebih tinggi untuk bunuh diri. Bisa disebabkan beberapa hal. Salah satunya bisa karena trauma ditinggalkan bunuh diri, makanya jadi bunuh diri," kata dokter yang biasa disapa Noriyu itu dalam siaran langsung di Instagram, Kamis (10/9/2020).

Keinginan bunuh diri itu muncul bisa lantaran dorongan lingkungan yang terlanjur memberi stigma buruk. Atau terlalu banyak orang yang bertanya tentang peristiwa bunuh diri tersebut tetapi hanya sekadar ingin tahu.

"Makanya kita berusaha untuk empati dikit sama keluarganya. Karena orang kepo ingin tahu, itu jadi keingintahuan yang gunjing aja. Padahal keluarga yang ditinggalkan mengalami guncangan psikologis," katanya.

Berempati jadi kunci untuk menyikapi orang yang ditinggal bunuh diri oleh orang terdekatnya. Nuriyu mengatakan, sangat penting untuk memberikan ruang kepada orang yang ditinggalkan untuk menenangkan dirinya tanpa dipusingkan dengan berbagai pertanyaan.

"Kalau tanya 'are you okay' nggak apa-apa. Itu sebenarnya perlu juga. Kita menawarkan diri, memberikan dukungan tanpa diminta. Karena kalau dicuekin beban juga, merasa distigma," katanya.

Selain diberikan ruang untuk menenangkan diri, menurut Nuriyu, orang yang ditinggal bunuh diri sebenarnya tidak membutuhkan nasihat. Ia menyarankan, cukup tunjukan rasa empati dengan tulus.

"Orang sebenarnya bisa merasakan mana yang benar tulus atau cuma ingin tahu aja. Karena mereka sebenarnya nggak perlu nasihat," jelas Nuriyu.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers