web analytics
  

85 Persen Kabupaten dan Kota di Indonesia Belum Siap Hadapi Bencana Hidrometeorologi

Rabu, 9 September 2020 16:23 WIB Tri Joko Her Riadi
Bandung Raya - Bandung, 85 Persen Kabupaten dan Kota di Indonesia Belum Siap Hadapi Bencana Hidrometeorologi, siaga bencana,bencana hidrometeorologi,Tanggap Bencana,ITB,Institut Teknologi Bandung (ITB)

Ilustrasi (Ayobandung.com)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Sebanyak 85 persen kabupaten dan kota di Indonesia belum siap menghadapi bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh perubahan iklim. Banjir dan tanah longsor merupakan dua bencana hidrometeorogi paling banyak terjadi.

Demikian disampaikan oleh Armi Susandi dari Kelompok Keahlian (KK) Sains Atmosfer Fakultas Ilmu dan Tekonologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam webinar daring “Kontribusi Ilmu dan Teknologi Kebumian untuk Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan”, dikutip dari siaran pers di situs resmi ITB, Rabu (9/9/2020).

“Lebih dari 85 persen kabupaten dan kota di Indonesia bahkan belum siap. Ketidaksiapan ini terjadi dari sisi struktural dan nonstruktural. Untuk bisa mengatasi bencana ini, kita memerlukan sistem informasi bencana sebagai wahana pembangunan berkelanjutan,” tambahnya.

Dijelaskan Armi, kejadian bencana hidrometeorologi terus meningkat, salah satunya karena dipicu oleh perubahan iklim. Perpindahan massa udara terjadi akibat perubahan tekanan. Banjir dan tanah longsor mencakup lebih dari 50 persen dari total bencana hidrometeorologi yang terjadi di Indonesia.

Dampak yang diakibatkan bencana hidrometeorologi di Indonesia sangat besar. Sekitar 3,8 juta orang telah menderita dan mengungsi, 262 meninggal dunia, 25 hilang, serta 409 luka-luka. Selain itu, total kerugian bencana di Indonesia senilai Rp 80 triliun atau setara dengan 20 persen dari alokasi dana pembangunan infrastruktur dalam APBN 2019.

Armi menyatakan, pemanfaatan teknologi menjadi hal yang penting untuk mengatasi ancaman pada pembangunan berkelanjutan. Dengan teknologi, masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana di masa yang akan mendatang.

Dalam webinar yang sama, Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Hasanuddin Z. Abidin menggarisbawahi sumbangan penting data geospasial untuk berbagai sektor pembangunan, termasuk Sustainable Development Goals (SDGs). Alur informasi geospasial juga dimanfaatkan dalam pembuatan berbagai peta tematik. Salah satu program yang saat ini sedang berjalan adalah pengembangan Satu Data Indonesia.

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel terkait

dewanpers