web analytics
  

Gunung Puntang menjadi Obat dari Penatnya Wabah Covid-19

Rabu, 9 September 2020 11:48 WIB Netizen Dias Ashari
Netizen, Gunung Puntang menjadi Obat dari Penatnya Wabah Covid-19, wabah Covid-19,stres,refreshing,Gunung Puntang,Kebon Kopi,sungai cinta

Komunitas Mosa (Mosliem Adventure) mengadakan acara Camp pertama di Gunung Puntang. Kegiatan ini dilakukan pada Sabtu-Minggu (5-6 September 2020) (Dias Ashari)

Dias Ashari

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Bandung.

AYOBANDUNG.COM -- Selama kurang lebih enam bulan berlalu, tampaknya wabah Covid-19 di Indonesia belum berangsur pulih seutuhnya. Hal ini terlihat dari data yang disajikan media massa terkait jumlah korban yang semakin meningkat.

Hal ini memicu stres. Ketika stres meningkat, daya tahan tubuh akan menurun. Kondisi inilah yang memudahkan virus masuk ke dalam tubuh manusia.

Refreshing merupakan salah satu cara yang dapat mengurangi tingkat stres seseorang. Dengan refreshing biasanya hati dan pikiran menjadi lebih dingin. Sehingga tak jarang dengan kondisi inilah muncul ide untuk menyelesaikan sebuah masalah.

Dalam kondisi new normal saat ini, beberapa tempat wisata sudah mulai dibuka. Tentunya dengan syarat tetap mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah. Begitupun dengan wisata Gunung Puntang yang kini sudah mulai beroperasi dengan normal. Meskipun para wisatwan hanya bisa berkemah di bawah kaki gunung dan belum bisa mendaki hingga ke puncak Mega.

Kali ini penulis akan berbagi seputar perjalanan menuju Gunung Puntang yang di tempuh dari Bandung pada hari Sabtu, 05 September 2020. Mulai dari bujet, transportasi umum dan keseruan kegiatan selama berkemah di sana. Total keseluruhan bujet yang dikeluarkan penulis selama perjalanan adalah sekitar Rp75.000.

Penulis berangkat dari Kebon Kopi Cibereum pukul 11 siang menggunakan angkot Cikudapateuh hingga PT Inti Tegalega. Tarif ongkosnya Rp7000 saja. Ketika menunggu elf pastikan jangan di Tegalega karena jarang angkot melewati lokasi tersebut. Pastikan untuk menunggu elf di halte samping PT Inti.

Kurang dari lima menit elf sudah datang dan penulis langsung menumpanginya. Selama perjalanan pastikan harus bersabar. Selain karena elf sering mengetem, kondisi cuaca jalan sepanjang Tegalega-Pangalengan pun sangat panas. Untuk mencegah dehidrasi selama perjalanan, usahakan meminum air putih yang cukup. Akhirnya, sekitar pukul 14.15 penulis sampai di tugu Cimaung dan membayar ongkos sebanyak Rp15.000.

Dari tugu tersebut penulis menggunakan angkot berwarna biru dengan polet orange. Sebetulnya angkot ini tidak sampai ke Gunung Puntang, namun karena sopir mau mengantarkan, penulis harus membayar tarif ongkos Rp10.000.

Untuk masuk ke area Gunung Puntang penulis harus membayar tiket masuk sebesar Rp20.000 dan jika membawa kendaraan bermotor maka akan diberi biaya tambahan sebanyak Rp5000 untuk parkir.

Jarak dari gerbang menuju area parkir cukup jauh sehingga harus menggunakan motor. Pastikan motor yang digunakan dalam kondisi bagus karena jalanannya masih berkerikil. Kalaupun dirasa ingin berolahraga boleh saja berjalan kaki menuju area tempat perkemahan. Untuk mendapat area camping dengan background gunung yang gagah maka harus sedikit mendaki ke atas.

Dalam kegiatan camping ini penulis mengikuti acara open trip yang disediakan Komunitas Mosa (Mosliem Adventure). Komunitas yang baru seumur jagung ini menjadikan Gunung Puntang sebagai tempat perdana memperkenalkan nama Mosa dengan mengadakan sebuah kegiatan.

Tujuan dari komunitas yang diketuai Muhammad Fahman Adwali ini berorientasi pada sebuah perjalanan yang harus menjadikan alam sebagai bahan untuk bertafakur kepada Sang Pencipta beserta ciptaan-Nya. Hal ini sesuai dengan slogan komunitas tersebut yaitu “My Trip My Tafakur”.

Kegiatan diawali dengan sesi gim untuk mencairkan suasana yang sedikit kaku di antara peserta. Kemudian beberapa anggota memasak untuk menyiapkan makan malam. Seteleh salat Isya seluruh anggota diajak panitia untuk berkenalan di depan api unggun sambil melingkar. Percakapan dimulai dengan perkenalan komunitas Mosa yang kemudian disusul oleh perkenalan antara peserta dan diskusi secara umum.

Makin malam angin semakin menusuk menerpa tubuh. Namun rasanya hal itu penulis hiraukan karena indahnya langit malam yang disuguhkan sungguh membuat hati takjub dan terpesona. Tak henti penulis bersyukur diberi kesempatan melihat fenomena tersebut. Kerlip bintang yang bercahaya dilangit yang berwarna biru dibayangi hitamnya malam. Sinar rembulan tampak malu dan bersembunyi di balik gagahnya Gunung Puntang, namun perlahan dia menampakan keindahannya.

Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan menuju Gua Belanda. Untuk masuk ke sini diminta tiket sebesar Rp7.500/orang. Penulis dan peserta lain memasuki gua tersebut didamping penjaga di sana.

Suasana gua tampak licin jalannya, gelap dan sedikit pengap. Tentu saja gua ini adalah bukti sejarah yang seharusnya tidak pernah dilupakan setiap generasi karena para pejuang sudah bersusah payah membuat kehidupan generasi ini jauh dari penjajahan. Kini bisa hidup dengan aman dan tentram tanpa peperangan.

Setelah itu, penulis dan anggota lain diajak menuju sungai cinta. Untuk masuk ke sini tidak dipungut biaya. Namun apabila ada pengunjung yang ingin beristirahat di area saung yang sudah disediakan maka harus membayar sebanyak Rp25.000. Sungai cinta ini dialiri air yang begitu jernih dan menyegarkan. Ditambah dengan keelokan batu-batu yang terbentuk oleh alam bisa menambah stock photo instagram kalian.

Tempat ini sangat cocok untuk dikunjungi dengan teman ataupun keluarga. Selain tidak merogoh kocek yang dalam, tempatnya pun masih asri, sehingga bisa menghilangkan kepenatan dari kota dan wabah Covid-19 yang belum juga berkesudahan.

Kapan lagi bisa wisata refreshing sambil belajar sejarah pendirian Stasiun Radio Malabar yang kini sisa bangunannya masih berdiri dengan kokoh. Yuk, jauhkan diri dari stres yang tidak berkesudahan ini, pasrahkan dan berdoa kepada Sang Pencipta tentunya dengan ikhtiar tetap menjaga kesehatan dan mentaati protokol kesehatan yang sudah diberikan pemerintah.

Acara yang sangat berkesan ini ditutup pada 6 September 2020 pukul 10.00 WIB. Untuk kepulangan penulis tidak menggunakan elf lagi karena diantarkan hingga daerah Banjaran. Dari sini penulis menggunakan angkot Ciparay-Tegalega dengan tarif Rp10.000 hingga PT Inti Tegalega.

Salam literasi dan Salam lestari.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers