web analytics
  

Dampak Pandemi Bikin 'Hantu' Mengeluh

Rabu, 9 September 2020 11:17 WIB Netizen Hendi Abdurahman Nur Hakim
Netizen, Dampak Pandemi Bikin 'Hantu' Mengeluh, Hantu Jalan Asia Afrika,Alun-alun Bandung,cosplay,Bandung Tour on the Bus

Hantu-hantu alias cosplayer di Jalan Asia Afrika, Bandung. (Instagram/Comjurigbandung)

Hendi Abdurahman Nur Hakim

Freelancer, penulis paruh waktu, bermukim di Bandung.

AYOBANDUNG.COM -- Dampak pandemi COVID-19 tak hanya menyerang manusia, hantu-hantu yang berada di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, juga kena imbas. Hantu-hantu itu tak bisa lagi menakuti manusia seperti yang selama ini dilakoninya.

Apa pasal? Ya, karena COVID-19 akibat virus corona baru lebih menakutkan dibanding mereka.

Iya, sih, hantu-hantu di Jalan Asia Afrika itu emang hantu bohongan. Mereka adalah cosplayer dengan beragam jubah yang menyerupai pocong, hantu valak, kuntilanak, dan lain-lain. Bagaimana pun, mereka tetap saja ingin dibilang hantu. Meski, hantu model begini doyan ngopi.

Dari pemilihan tempat saja, misalnya, hantu bohongan ini sudah seperti hantu beneran. Coba saja cermati, mereka mengganggu manusia di sekitar gedung-gedung tua peninggalan kolonial seperti Gedung Merdeka yang dulunya disebut Societeit Concordia atau Gedung Gemeenschappelijk Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO) alias gedung PLN sekarang.

Seketika saya teringat dua kalimat Abdullah Harahap dalam Misteri Perawan Kubur. “Hantu hanya ada dalam khayalan manusia-manusia penakut. Semakin mereka takut, semakin mereka percaya.”

Maka, didorong niat adiluhung untuk meruntuhkan apa yang dikatakan beliau, saya dengan percaya diri mendatangi hantu-hantu itu, Selasa (1/9/2020).

Sebelumnya, sempat terpikir dalam benak jika hantu-hantu itu mulai bersalin rupa pada waktu—kalau orang Sunda bilang—sareupna alias jelang perpindahan sore ke malam. Namun, dugaan saya salah. Sinar terik mentari yang menyinari Kota Bandung saat itu tak membuat mereka silau.

Bahkan, sosok hantu valak sudah berdiri dan siap-siap menjalankan tugasnya. Saya mendekat, menghampiri untuk mewawancarainya. Tentu, kami jaga jarak seperti seharusnya, sebagaimana hantu dan manusia.

“Pendapatan seadanya, apalagi sekarang kondisi lagi seperti ini [COVID-19]. Dulu sebelum COVID mah pendapatan lumayan dibandingkan sekarang,” tutur Adi, cosplayer hantu valak memulai cerita.

Ucapan Adi tidak ujug-ujug. Sore itu, dia benar-benar mengeluarkan keluh kesahnya. Wisatawan, katanya, benar-benar takut sama COVID-19 dan itu membuat pendapatan jauh berkurang. Perlu diketahui, meski kerap menakut-nakuti, hantu-hantu di Jalan Asia Afrika ini lebih banyak dimintai foto, dan dari sana mereka kerap mendapatkan rupiah.

“Dulu kalau weekend bisa sampai jam 1 atau jam 2 malam. Ayeuna mah boro-boro, jam 9 juga udah sepi,” katanya.

Meskipun enggan menyebutkan angka pendapatan per hari, Adi merasakan betul dampak yang dirasakan akibat pandemi. Dia berujar bahwa hanya beberapa teman sepermainannya saja yang masih keukeuh buat turun ke lapangan.

Hantu yang Dapat Disewa

Sebelum menjadi valak, Adi adalah manusia yang bekerja di salah satu mal di kawasan Alun-alun Bandung sebagai cleaning service. Namun, dia merasa bosan dan pindah haluan. Lalu, menjadi hantu adalah pilihannya.

Adi pun mengaku telah bergabung dengan hantu lainnya di komunitas kostum jurig Bandung selama satu tahun belakangan. Terhitung baru, memang. Sementara itu, mengenai awal berdirinya cosplayer yang mangkal di Asia Afrika, Adi sempat ragu untuk berucap.

“Lima, lima, Kang, tos lima tahunan,” sergah Acil, teman Adi, sosok di balik kuntilanak kepala buntung sambil meneruskan merias wajah.

Tanpa ditanya, Adi kembali mengambil komando dan melanjutkan cerita.

“Sepengetahuan saya, dulu kami-kami ini sempat uucingan dengan Satpop PP. Tapi sekarang karena udah diresmikan, udah jadi alternatif wisata Kota Bandung, jadi udah aman,” tuturnya.

Ternyata, setelah ditelisik lebih dalam, hantu-hantu ini tak hanya menakut-nakuti atau membolehkan orang untuk berfoto di sekitar Jalan Asia Afrika saja. Dalam beberapa kesempatan, mereka kerap “dipinjam” untuk suatu kegiatan khusus.

“Misal menjelang tahun baru, suka ada yang sengaja ke sini. Mau nyewa sekian karakter, harga sekian. Saya saat itu pernah main di salah satu cafe di daerah Dago, sama teman lainnya, kuntilanak dan hantu kelabang,” kata Adi.

Di tengah perbincangan, Bus Bandros (Bandung Tour on the Bus) melintas pelan. Adi meminta izin sejenak. Kali ini, ia tak menakuti-nakuti melainkan menyapa para wisatawan dalam bus dengan ramah sambil melambaikan tangan. Akan tetapi, seramah-ramahnya hantu jadi-jadian, para wisatawan yang takut tetap saja menjerit histeris.

Di sisi lain, beberapa teman Adi telah selesai merias diri. Acil, Andi, dan Yuni kini siap akan tugasnya. Acil, seperti yang telah disebutkan, berubah menjadi kuntilanak kepala buntung. Sementara Andi beralih sebagai Mak Lampir. Adapun Yuni tampil centil dengan kostum pengantin berdarah.

Samar-samar seruan azan Magrib yang berasal dari Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat mulai menggema. Alih-alih kepanasan, hantu-hantu yang saya ajak ngobrol malah terlihat lebih sibuk dari sebelumnya.

Saya pamit. Sambil berlalu, Andi alias Mak Lampir mengingatkan, “Kade, a, loba anak buah si Saep,” katanya. Saya mengangguk, sadar bahwa Saep yang dibilangnya adalah aktor tukang copet dalam sinetron Preman Pensiun.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers