web analytics
  

Pertengkaran Jadi Alasan Cerai Terbanyak di Jabar Selama Pandemi

Selasa, 8 September 2020 19:30 WIB Nur Khansa Ranawati
Umum - Regional, Pertengkaran Jadi Alasan Cerai Terbanyak di Jabar Selama Pandemi, Cerai,Pandemi Covid-19,Perceraian di Jawa Barat,Pengadilan Tinggi Agama Jawa Barat

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat Uung Kusmana. (Nur Khansa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Provinsi Jawa Barat tercatat sebagai satu daerah dengan angka perceraian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Indonesia 2018, Jawa Barat menempati urutan kedua setelah Jawa Timur dalam jumlah kasus perceraian di 2017.

Bahkan, belakangan ini sebuah video yang memperlihatkan antrean mengular di Pengadilan Agama Soreang, Kabupaten Bandung, juga sempat viral di media sosial.  Dalam video tersebut nampak antrean yang didominasi wanita hendak mengajukan gugatan cerai.

Berdasarkan data layanan Si Kabayan Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Jabar, setidaknya hingga Senin (7/9/2020) terdapat total 51.646 kasus cerai gugat dan 17.397 cerai talak yang telah diajukan dan diproses sejak Januari 2020 di PTA Jabar. Adapun cerai gugat adalah kasus perceraian yang diajukan oleh istri, dan cerai adalah adalah perceraian yang diajukan oleh suami.

Dari angka tersebut, kasus ajuan perceraian paling banyak diajukan pada pertengahan tahun, yakni Juni dan Juli dengan masing-masing angka 12.603 kasus dan 11.778 kasus. Di bulan-bulan sebelumnya, kasus ajuan cerai ada di kisaran angka 2.000-8.000 kasus meskipun sempat berada di angka 11.249 kasus pada Januari 2020.

Sebenarnya jumlah perceraian di Jabar tahun ini memiliki pola yang tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan tahun lalu, dimana terjadi lonjakan ajuan perceraian di awal dan pertengahan tahun. Pada 2019, terdapat kasus ajuan perceraian sebanyak 11.714 kasus pada Januari, 8.013 kasus pada Juni dan 11.768 kasus pada Juli.

Namun, saat ini terdapat pergeseran faktor penyebab perceraian bila dibandingkan dengan dua tahun lalu. Hingga minggu pertama September 2020, mayoritas faktor penyebab perceraian di Jabar adalah akibat "perselisihan dan pertengkaran terus-menerus" yang mencapai 30.206 kasus.

Faktor tertinggi kedua adalah faktor ekonomi yang mencapai 24.392 kasus. Sementara pada 2018 dan 2019, faktor perceraian tertinggi adalah akibat ekonomi.

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat Uung Kusmana membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, perceraian yang disebabkan oleh pertengkaran dan perselisihan antar pasangan mengalami peningkatan selama pandemi.

"Tidak seperti ini biasanya, hanya karena pada saat pandemi saja," ungkapnya pada Ayobandung.com, Senin (8/9/2020).

Ia mengatakan, pertengakaran tersebut penyebab utamanya dipicu oleh cara berkomunikasi masing-masing pasangan yang kurang efektif. Pandemi Covid-19 juga dinilai sangat memengaruhi kestabilan keluarga dalam menjalankan fungsi-fungsinya.

"Kami menganalisis penyebab angka perceraian saat ini adalah karena efektivitas komunikasi dalam keluarga yang belum handal. Dengan keadaan keluarga yang serba diuji seperti pasangan kena PHK, ketahanan ekonomi keluarga terpengaruh," paparnya.

"Pada saat-saat inilah komunikasi tidak efektif berpotensi muncul," ungkapnya.  

Uung mengatakan, situasi tersebut juga didukung oleh situasi work from home. Frekuensi komunikasi pasangan meningkat akibat keadaan yang mengharuskan mereka bertemu 24 jam setiap harinya.

"Pada saat stay at home ini pasangan jadi bertemu setiap waktu. Biasanya hanya bertemu pagi dan malam, hanya berkomunikasi langsung sehari dua kali, sekarang jadi setiap waktu. Frekuensi komunikasinya bertambah, peluang pasangan untuk melakukan miskomunikasi semakin besar," ungkapnya.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers