web analytics
  

Air Asia Diserbu Calon Penumpang Minta Pertanggungjawaban

Senin, 7 September 2020 22:56 WIB
Umum - Nasional, Air Asia Diserbu Calon Penumpang Minta Pertanggungjawaban, Air Asia

Pesawat Air Asia. (Air Asia)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Maskapai penerbangan Air Asia diserbu oleh para calon penumpang. Mereka meminta pertanggungjawaban maskapai tersebut seusai membatalkan sejumlah rute penerbangan, namun belum juga memberikan pengembalian dana.

Akun Instagram resmi Air Asia @airasiaid menjadi target bulan-bulanan para calon penumpang menumpahkan amarah mereka.

Kolom komentar di unggahan terbaru akun tersebut langsung ramai dibanjiri aksi protes para calon penumpang.

Salah seorang calon penumpang Air Asia yang enggan disebutkan identitasnya, mengaku sangat kecewa terhadap proses pengembalian dana (refund) yang tidak sesuai aturan.

Ia mengaku telah membeli tiket untuk keberangkatan Yogyakarta menuju Jakarta pada akhir Maret 2020 lalu seharga Rp 1,7 juta.

Sesuai aturan, refund akan dilakukan dalam kurun waktu 30 hari. Namun, ia baru menerima refund lima bulan kemudian.

"Dari Maret belinya, baru di-refund 7 September. Dia refund ke akun kredit Air Asia juga, padahal saya bayarnya pakai kartu kredit," kata si calon penumpang saat dihubungi, Senin (7/9/2020).

Saat melakukan pembayaran, ia mengaku membayarkan tagihannya sebesar Rp 1,7 juta menggunakan kartu kredit yang dimilikinya.

Sesuai aturan, pengembalian dana dilakukan sesuai pembayaran awal yang dilakukan. Namun, pihak Air Asia justru mengembalikan dana tersebut ke akun kredit milik Air Asia yang tidak bisa dicairkan.

"Kalau sudah masuk akun kredit itu nggak bisa ditarik tunai, harus terbang. Tapi kan saya enggak mau bepergian dulu," ungkapnya.

Si calon penumpang sudah mencoba mengonfirmasi pihak Air Asia lewat telepon, namun jaringan tidak bisa dihubungi.

Konfirmasi lewat pesan media sosial juga sudah ditempuh, namun pihak maskapai berdalih si calon penumpang melakukan pembayaran dengan akun kredit.

"Saya ada buktinya, saya bayar Rp 200 ribuan pakai akun kredit, sisanya Rp 1,7 juta saya bayar pakai kartu kredit. Tapi pihak Air Asia bilang pembelian saya semuanya melalui akun kredit, jadi dikembalikan ke akun kredit," tuturnya.

Selain keluhan calon penumpang, masih banyak keluhan dari para calon penumpang lainnya yang gagal berangkat namun tak mendapatkan uang pengembalian dana.

Mereka beramai-ramai menuntut pertanggungjawaban pihak Air Asia. Sebab, uang yang telah dikeluarkan tidak sedikit dan proses pengembalian dana memakan waktu hingga lebih dari setengah tahun lamanya.

"Gimana saya bisa beli tiketnya, proses refund saya saja belum jelas kelanjutannya. Terakhir dihubungi Air Asia via messenger FB tanggal 4 September 2020 jam 2PM, agar menyertakan screenshot email yang saya terima. Namun, sampai sekarang 7 September 2020 jam 2.30PM, belum ada balasan minimal menginfokan bahwa sudah menerima data yang diminta sebelumnya. Apalagi kok menginfokan nomor pelaporannya, kenapa saya jadi orang ngemis gini ke AirAsia ya... ??" kata @he*******5.

"Percuma beli pesawatnya di-cancel terus uang pada nyangkut di credit account," ujar @ni****************ai.

"Saya sudah beli tiket @airasiaid sudah siap berangkat, eh ujungnya malah di-cancel. Ini gimana sih Air Asia, mau kesel sumpah di-PHP-in mulu," ungkap @ab**********ar.

"Mending nggak usah beli deh, ujung-ujungnya pergi nggak uang juga hilang. Sudah 6 bulan refund Rp 10 juta nggak balik-balik, setiap ditanya @airasiaid jawabannya cuma copas sabar. Refund maskapai lain sudah balik cuma @airasiaid doang yang nggak balik," tutur @mar*********le.

"Woy tanggungjawab dong balikin duit gue Rp 1,4 juta woy kan situ yang cancel kok saya yang harus urusnya ribet banget. Balikin duit gue sekarang juga woy," ungkap @ab****cs.

Hingga berita ini diturunkan, sudah mencoba mengonfirmasi kepada pihak Air Asia. Namun, hingga Senin malam pukul 22.10 WIB, belum ada tanggapan resmi dari pihak maskapai.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Tag
Editor: Dadi Haryadi
dewanpers