web analytics
  

Memprogram Jam Malam Sendiri

Senin, 7 September 2020 11:42 WIB Netizen Deffy Ruspiyandy
Netizen, Memprogram Jam Malam Sendiri, mencegah penyebaran virus,shinovac,Jam Malam,Pandemi Corona,Virus Corona

Suasa malam di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Minggu (5/4/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Deffy Ruspiyandy

Penulis Artikel dan Penulis Ide Cerita di SCTV.

AYOBANDUNG.COM -- Penerapan jam malam untuk mencegah penyebaran Covid-19 bisa jadi solusi agar orang tidak berkerumun. Tapi tanpa hal itu pun, sesungguhnya memprogram jam malam secara mandiri jauh lebih hebat karena akan memberikan kebaikan yang luar biasa bagi pelakunya.

Jam malam bernilai politis karena membatasi pergerakan orang dengan hukum yang tegas dan pelanggarnya akan mendapat sanksi. Sejarahnya, jam malam pernah dilakukan oleh Pemerintah Jerman untuk membatasi pergerakan orang-orang Yahudi saat terjadi Perang Dunia. Bahkan Belanda dan Jepang pun pernah memberlakukan hal itu pada masa penjajahan. Indonesia pun pernah memberlakukannya terhadap beberapa peristiwa yang membahayakan Negara. Tentu saja, semangat penerapan jam malam saat ini sangat urgen untuk mencegah penyebaran virus berbahaya itu. Bukan untuk membatasi kebebasan, tetapi intinya jangan sampai banyak orang jadi korban dan terpapar virus tersebut.

Di sini tampak terlihat jelas dan nyata, kini ada bahaya dan ancaman yang tidak terlihat secara kasat mata. Persoalan kini baru ditemukan vaksinnya dan sedang dilakukan tes kepada relawan. Vaksin itu bernama shinovac yang baru akan terpenuhi setidaknya tahun 2021 untuk menciptakan kekebalan tubuh dari serangan Covid-19 ini. Secercah harapan kini muncul guna mengakhiri pandemi yang sudah terjadi berkepanjangan. Namun sambil menunggu semuanya tercipta secara baik, maka tidak ada salahnya jika masyarakat sendiri tetap melakukan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Pembiasaan ini perlu berkelanjutan yang tentu saja membutuhkan proses dan kesadaran dari masyarakat itu sendiri agar hasilnya mampu menekan angka penyebaran Covid-19 ini.

Tanpa penerapan jam malam sekalipun, pribadi-pribadi yang selalu mendisiplinkan diri akan menganggap lebih baik diam di rumah apabila tidak ada hal penting yang harus dilakukannya. Bahkan pembatasan ini sejak dulu telah dilontarkan oleh Rasulullah. Konten hadis yang adapun melarang anak-anak keluar setelah Magrib untuk hal-hal yang tidak penting, tapi untuk hal-hal positif semisal mengaji di surau atau di masjid tetap saja bisa dilakukan. Dalam hal ini sangat dibutuhkan keteladanan orang tua agar anak-anak mereka setidaknya bisa diam di rumah guna mengerjakan hal-hal positif daripada keluar rumah yang dampak negatifnya lebih besar, atau  menjadikan momen tersebut sebagai media untuk berkumpul dan bercengkerama dengan keluarga plus hiburannya menonton televisi.

Dengan begitu, sesungguhnya berdiam diri di dalam rumah saat malam hari tiba bukan sebuah kesia-siaan, bahkan cenderung lebih banyak memberi manfaat. Bisa memungkinkan pula saat itu terjalin komunikasi yang baik antara orang tua dengan anaknya. Quality time dapat tercipta secara baik.

Kalupun tidak berkomunikasi dengan anak, banyak yang dapat dilakukan selain kegiatan menghibur diri seperti membaca buku, membaca Al-Quran, menulis, bahkan bisa menjalankan bisnis online yang dapat meraup keuntungan.

Artinya, dengan mampu melaksanakan kegiatan positif di rumah pada waktu malam hari tentu saja akan mendorong pelakunya akan berpikir tentang pentingnya waktu dalam kehidupan. Mereka akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin serta akan mampu beristirahat lebih awal sehingga saat bangun badannya segar hingga akan mampu melaksakan tugas-tugas pada esok harinya.

Sebenarnya kalau hal ini mampu muncul dari hati setiap orang, maka Pemerintah nggak perlu repot lagi menerapkan peraturan jam malam. Masalahnya, sebagian orang malah dianggap membandel dan tidak pernah peduli dengan virus yang menyebar, karena jika sudah terpapar maka kerugian bukan untuk dia saja, tetapi ia pun bisa menyebarkan kepada siapapun. Jadi apapun hebatnya program Pemerintah dalam penanganan Covid-19 akan tetap sia-sia jika tidak dibarengi dengan kedisiplinan dari masyarakat itu sendiri.

Jika banyak orang yang tidak mempedulikan bahaya yang menimpa bangsa ini bukan mustahil pandemi ini justeru akan semakin panjang. Bukan saja akan menjadi beban bagi Pemerintah sendiri, tapi itu pun akan kembali membuat masyarakat tersiksa karena akhir dari pandemi ini hanyalah sebuah impian yang sulit terwujud.

Memprogram jam malam sendiri adalah lebih baik daripada mesti terkena larangan jam malam yang ditetapkan Pemerintah. Hakikatnya membatasi diri keluar pada malam hari bukan saja menguntungkan bagi diri dan keluarga saja, tetapi lebih itu juga membantu membuat masyarakat menjadi tenang karena dengan hal itu bisa memutus mata rantai virus yang ada.

Dengan membatasi diri bukan berarti tak bisa berkomunikasi dengan tetangga karena masih bisa melakukan komunikasi melalui media sosial. Semua ini sifatnya untuk sementara dan jika pandemi berakhir maka boleh saja kembali kumpul pada malam hari untuk hal-hal yang positif. Namun jika ingin tetap diam di rumah pada malam hari, itu adalah pilihan yang tidak salah. Semoga pilihan ini bisa memberi banyak manfaat.

Meski kita belum tahu pandemi kapan akan berakhir, namun setidaknya berupaya menekan angka penyebaran virus itu adalah langkah yang bijak dilakukan. Awalnya dilakukan secara individu, kemudian dilakukan keluarga akan mendorong ikut menyadarkan bahwa im di rumah bukan beraryi tak bisa apa-apa.

Diam di rumah jika dipahami secara baik maka semuanya akan bernilai positif, tergantung bagaimana kita memandangnya. Biarlah untuk sementara kita berdiam diri di rumah untuk sementara, namun akan mendapatkan xexuatu yang berarti setelah pandemi berakhir karena kita akan bebas melakukan apa saja tanpa terancam oleh virus-virus yang kini bertebaran di mana-mana.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers