web analytics
  

Puncak Kemarau, Potensi Kekeringan Terus Meningkat

Senin, 7 September 2020 07:42 WIB
Umum - Nasional, Puncak Kemarau, Potensi Kekeringan Terus Meningkat, kekeringan jabar,kekeringan,Musim Kemarau,puncak musim kemarau

Ilustrasi--Kekeringan (Republika)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Jumlah wilayah yang berstatus 'awas' kekeringan di Indonesia meningkat menjadi 23 wilayah. Warga di berbagai kabupaten/kota yang terdampak mulai merasakan kekurangan air bersih akibat puncak kemarau.

Berdasarkan peta peringatan dini kekeringan meteorologis terkini yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terdapat 23 kabupaten/kota yang berstatus awas. Peringatan dini diklasifikasikan dalam tiga jenis, yakni waspada, siaga, dan awas.

Wilayah berstatus awas terbanyak (14) di NTT. Mulai dari Alor, Belu, Ende, Flores Timur, Kota Kupang, hingga Kabupaten Kupang. Lalu Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Sikka, Sumba Barat, Sumba Timur, Timor tengah Selatan, hingga Timor Tengah Timur. Wilayah berstatus 'awas' terbanyak kedua (5) di NTB. Mulai dari Bima, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Timur, hingga Sumbawa.

Selanjutnya dua wilayah di Provinsi Maluku, yakni Maluku Barat Daya dan Maluku Tanimbar. Dua terakhir adalah Buleleng di Bali dan Selayar di Sulawesi Selatan.

Jumlah wilayah yang berstatus 'awas' itu meningkat jika dibandingkan peta peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG yang dirilis pada 23 Agustus 2020. Berdasarkan data akhir Agustus itu, jumlahnya baru 21 wilayah.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Prabowo mengatakan, peningkatan itu terjadi karena musim kemarau di Indonesia sedang berada di fase puncaknya (Agustus-September). Kini, sebanyak 87 persen wilayah Indonesia dilanda kemarau.

Penyebab lainnya adalah pola aliran udara yang masih berupa aliran udara timuran dari Australia yang kering. "Sehingga potensi hujan di wilayah-wilayah, (seperti) NTT, NTB, Bali, dan Jawa Timur belum banyak," kata Mulyono ketika dikonfirmasi Republika, Ahad (6/9).

Dampak kekeringan makin terasa oleh warga. Utamanya warga butuh air bersih karena sumber air mereka makin menyusut. Pemerintah Kabupaten Semarang mulai menyiapkan sekitar 500 tangki atau setara 2,5 juta liter air bersih sebagai bentuk antisipasi terhadap bencana kekeringan. Kendati dampak musim kemarau belum meluas di daerah ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mulai memetakan wilayah yang diperkirakan bakal terdampak terlebih dahulu.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Semarang Heru Subroto menyampaikan, Desa Wonoyoso, Kecamatan Pringapus, menjadi wilayah yang paling rawan terhadap dampak kekeringan

"Baru- baru ini BPBD Kabupaten Semarang telah mendistribusikan bantuan air bersih satu tangki berkapasitas 5.000 liter untuk desa tersebut," ujar Heru melalui sambungan telepon, Ahad (6/9).

BPBD Kabupaten Semarang, dia melanjutkan, juga mewaspadai dampak musim kemarau yang ada di wilayah desa lain, baik yang ada di kecamatan Pringapus maupun kecamatan lain di wilayah Kabupaten Semarang.  Berdasarkan pengalaman musim kemarau tahun- tahun sebelumnya, bencana kekeringan memang berpotensi terjadi di wilayah kecamatan lain di Kabupaten Semarang. Seperti di wilayah Kecamatan Bancak, Suruh, dan sebagian wilayah Kecamatan Bringin. Khusus di wilayah Kecamatan Bancak dan Suruh setidaknya ada 12 desa yang rawan terdampak musim kemarau.

Heru berharap dampak musim kemarau tahun ini tidak separah musim kemarau tahun lalu. "Sehingga persediaan bantuan air bersih yang disiapkan BPBD Kabupaten Semarang tetap mencukupi," ujar dia.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Jawa Barat juga mencatat bahwa bencana kekeringan di wilayahnya berdampak pada 13 desa mencakup 17.378 keluarga atau 54.194 warga. Berdasarkan pemetaan di lapangan, sembilan kecamatan yang terdampak kekeringan itu adalah Citeureup, Jasinga, Tenjo, Cariu, Ciampea, Cigudeg, Klapanunggal, Jonggol, dan Gunungputri.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Bogor M Adam Hamdani di Cibinong, Kabupaten Bogor, mengatakan, mengerahkan empat armada mobil tangki yang masing-masing berkapasitas 5.000 liter untuk mendistribusikan air bersih. Pihaknya juga mengimbau kepada pemerintah wilayah baik desa maupun kecamatan untuk sesegera mungkin bersurat ke BPBD jika terjadi musibah kekeringan di wilayahnya.

Di samping itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, Jawa Barat, mencatat ada sekitar 302 hektare lahan di wilayahnya yang terancam gagal panen karena dilanda musim kemarau.

Kepala Harian BPBD Jabar Dani Ramdan mengatakan, di Jawa Barat yang sudah terdampak adalah Kabupaten Bandung. Sebanyak 112 ribu liter air bersih telah dikirimkan ke desa terdampak di dua wilayah itu. 

Meski sudah ada laporan dari beberapa daerah terkait kebutuhan air, Dani menyebut, angka sebaran kekeringan belum tinggi. Jadi, hanya beberapa rukun warga di perkampungan, belum meluas satu desa atau kecamatan. “Belum ada yang sampai satu kecamatan,” kata dia.

BPBD Jabar sudah rutin menyiagakan keberadaan tangki air ini untuk memenuhi kebutuhan air bersih. “Tangki-tangki kita sudah tersebar di kabupaten/kota,” katanya.

Sedangkan, untuk daerah yang mengalami kesulitan air bersih dengan durasi panjang, kata Dani, pihaknya juga menyiapkan upaya pipanisasi. Mitigasi ini diberikan pada desa yang betul-betul tidak memiliki sumber air terdekat. “Mereka yang sumber airnya kurang dari lima kilo kita bisa pakai proyek pipanisasi,” kata dia.

BPBD Kabupaten Lebak, Banten, juga mencatat 30 desa yang tersebar di 16 kecamatan di daerah ini masuk kategori rawan kekeringan akibat kemarau yang terjadi awal Agustus 2020. "Kami siap mendistribusikan air bersih jika warga mengalami kesulitan air akibat kekeringan ini," kata Plt Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Lebak Ajis Suhendi di Lebak.

Pengalaman tahun-tahun lalu tercatat 30 desa tersebar di 16 kecamatan masuk kategori rawan kekeringan jika terjadi musim kemarau. Ke-16 kecamatan itu adalah Kecamatan Cimarga, Karanganyar, Cibadak, Warunggunung, Sajira, Muncang, Maja, Cirinten, Cileles, Banjarsari, Wanasalam, Cihara, Bayah, Cikulur, Cilograng, dan Leuwidamar. Daerah-daerah rawan kekeringan hingga mengakibatkan kesulitan air bersih berada di lokasi dataran tinggi. 

Menurut Ajis Suhendi, warga mengalami kesulitan air bersih karena berbagai faktor. Di antaranya belum tersentuh jaringan pelayanan PDAM juga menipisnya ketersedian air bawah tanah yang menyebabkan sumur tidak mengeluarkan air. 

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers