web analytics
  

Ketika Rombongan Jurnalis Soviet Terpikat Angklung Bandung

Minggu, 6 September 2020 20:05 WIB Tri Joko Her Riadi
Bandung Baheula - Baheula, Ketika Rombongan Jurnalis Soviet Terpikat Angklung Bandung, Angklung,Angkung di Bandung,Jurnalis Uni Soviet di Bandung,Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchov,Konferensi Asia-Afrika

Suasana kedatangan Presiden Sukarno dan delegasi Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchov, termasuk rombongan jurnalis, di Kota Bandung pada Februari 1960 (Repro buku "Happiness and Peace for The Peoples/Tri Joko Her Riadi)

SUMURBANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Ketika untuk pertama kalinya menyaksikan suguhan permainan angklung di sebuah aula di Kota Bandung pada Februari 1960, rombongan jurnalis Uni Soviet langsung terpikat. Alat musik tradisional yang mereka sebut mirip harpa kuno tersebut mampu memenuhi ruangan dengan suara yang jernih tapi sekaligus kuat.

Di ujung pertunjukan, sang dirijen mengajak semua hadirin ikut memainkan angklung. Sebuah papan besar ditaruh di panggung, berisi deretan angka yang menjadi notasi. Begitulah cara mainnya. Sang konduktor menunjuk angka di papan dan mereka yang memegang angklung dengan nomor yang sama harus menggoyangkan alat tersebut agar berbunyi. 

“Musik ini sangat unik. Tidak ada yang sebanding (dengannya). Dan lebih istimewa lagi, ia dihasilkan oleh batang bambu kuno,” tulis para wartawan penuh rasa kagum dalam buku “The Awakened East” (1960).

Buku bersampul merah ini merupakan laporan atas kunjungan Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchov ke beberapa negara di Asia. Para wartawan ikut dalam delegasi besar sang pemimpin gaek bertubuh tambun yang berturut-turut datang ke India, Burma, Indonesia, dan Afghanistan. Di Indonesia, selain Bandung, rombongan mengunjungi juga Jakarta, Bogor, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.

Sebelum terpikat oleh suara angklung, para jurnalis dari negara adidaya yang saat ini bersalin nama menjadi Rusia itu sudah terpapar keindahan alam Priangan ketika melintas di Puncak Pass dalam perjalanan meninggalkan Istana Bogor. Ketika sang pemandu bercerita tentang Gunung Tangkuban Perahu, mereka berseloroh seandainya saja mereka datang sebagai turis. Bukan wartawan yang sedang bertugas. Dari Puncak Pass itu, Kota Bandung ditandai dengan menara-menara radio.

Tidak cukup banyak lanskap Kota Bandung yang dilukiskan dalam buku “The Awakened East”. Ketika memasuki jantung kota ini, para jurnalis menggambarkan bagaimana di jalanan yang resik ditemui mobil dan becak. Jalan Braga, yang menjadi jalur pusat perdagangan, disesaki oleh para pejalan kaki.

Yang cukup menarik, disebutkan adanya banyak toko buku di sepanjang Jalan Asia-Afrika ketika itu. Juga empat gedung bioskop. Pemandangan yang hari ini sudah punah. Sebagai gantinya: deret perkantoran.

Yang banyak dilukiskan oleh para wartawan, tentu dengan nada yang sedikit melebihkan, adalah kemeriahan warga menyambut Khrushchov. Batas atardesa tidak terlihat karena barisan warga di pinggir jalan tidak putus-putusnya. Pemandangan yang ditemui juga di semua kota yang dikunjungi Sang Perdana Menteri. Spanduk dan teriakan “Merdeka” ada di mana-mana.

 

Konferensi Asia-Afrika 1955

Yang jauh lebih memukau dari laporan para jurnalis Soviet ini adalah deskripsi dan analisa mereka tentang sejarah kota. Dikisahkan betapa penting Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang dilangsungkan di Bandung pada 1955. Tidak hanya membuat kota ini sohor ke berbagai belahan dunia, konferensi ini diakui sebagai tonggak perjuangan melawan penjajahan. Khrushchov sendiri dikenal sebagai salah satu duta antipenjajahan di tataran global.

KAA 1955, yang dihadiri delegasi 29 negara, memberikan pondasi kuat bagi membesarnya gerakan solidaritas Asia-Afrika. Pondasi inilah yang membuat negara-negara terjajah di kedua benua berani menuntut hak merdeka. Beberapa konferensi lanjutan digelar di luar Bandung untuk memperteguh komitmen semacam itu. Demikianlah KAA hadir sebagai sebuah “faktor menentukan” dalam kancah internasional.

“Lihatlah betapa besar peta dunia sudah berubah dalam lima tahun ini! Kemerdekaan politik sudah dimenangi oleh Sudan, Maroko, Tunisia, Malaya, dan Guinea,” tulis para jurnalis.

Bergabung dalam rombongan pejabat negara, para wartawan yang menjadi kontributor buku “The Awakened East” mempraktikkan jurnalisme melekat (embedded journalism). Khrushchov datang ke Asia tentu membawa kepentingan Blok TImur dalam peta perang dingin pasca-Perang Dunia II. Laporan para wartawan sedikit-banyak berkontribusi pada kepentingan seperti ini. Yang serba gegap-gempita yang ditampilkan. Kadang secara sedikit berlebihan, mirip kegemaran Presiden Sukarno menjamu para tamunya dengan pesta dan kemeriahan.

Namun untuk deskripsi mereka tentang Bandung, kita patut angkat topi. Keindahan alam Paris van Java digambarkan secara lugas. Kontribusi penting ibu kota Asia-Afrika dalam sejarah dunia dijelaskan secara bernas, lengkap dengan beragam informasi dan peristiwa latar belakangnya.

Reportase 23 halaman dalam buku “The Awakened East” menjadi pengingat: betul bahwa Bandung adalah sebuah kota yang indah, namun betul juga bahwa di kota inilah pernah terjadi hari paling bergemuruh bagi kaum penjajah: 18 April 1955. Hari dimulainya Konferensi Asia-Afrika itu, oleh para jurnalis Soviet, disebut sebagai “the stormiest day".

Editor: Tri Joko Her Riadi
dewanpers