web analytics
  

Keseharian Warga Cianjur Selatan Penangkal Covid-19

Sabtu, 5 September 2020 18:56 WIB Muhammad Ikhsan
Umum - Regional, Keseharian Warga Cianjur Selatan Penangkal Covid-19, COVID-19,Cianjur Selatan,Pandemi Corona,Dampak Corona

Ade (50) Warga Kampung Cisepat Desa Cisalak Kecamatan Cidaun, tidak tahu Covid 19 dan tidak memikirkannya. (Ayobandung.com/M Ikhsan)

CIANJUR, AYOBANDUNG.COM -- Pandemi Covid-19 di Indonesia dalam kurun waktu 7 bulan ini menjadi sebuah misteri yang membuat masyarakat kebingungan. Dibilang ada tapi tidak terlihat, tidak ada tapi ada kasus terpapar.

Berdasarkan data dari situs resmi pemerintah Covid19.go.id dinyatakan positif sebanyak 177.571 orang, dinyatakan sembuh 128.057, dan meninggal 7505. Penyebarannya terbesar DKI Jakarta dengan catatan 40.987 positif, dinyatakan sembuh 41.267 dan meninggal 1.214 orang.

Sementara itu, Jawa Barat berada di peringkat 5 dengan 11.278 positif, dinyatakan sembuh 6.202, dan meninggal 275 orang. Kabupaten Cianjur termasuk zona biru, tentu saja sesuai dengan 8 indikator yang ditentukan tim Gugus Tugas Covid Nasional.

Pemetaan ODP, PDP, dan positif tersebar di beberapa wilayah, paling besar di Utara dan Tengah. Sementara di Selatan yang terdiri atas 16 kecamatan sebagian besar masuk zona hijau.

Berdasarkan data dari Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Cianjur, daerah Selatan 16 kecamatan termasuk zona dengan risiko rendah. Kecamatan nol kasus, di antaranya Campaka, Sukanagara, Pagelaran, Takokak, Pasirkuda, Cijati, Tanggeung, Leles, Sindangbarang, Agrabinta, Kadupandak, 

Sementara itu, daerah yang terdapat kasus Covid-19 dengan status ODP dan ODP, antara lain Campaka Mulya 1 kasus, Cibinong 3 kasus, Cidaun 1 kasus, Naringgul 1 kasus dan Cikadu 1 kasus. Tidak ada satupun yang positif, semuanya data yang terangkum di website Pikobar.jabarprov.go.id.

Mengapa wilayah Selatan bisa begitu rendah terpapar Covid-19, sementara wilayah Tengah dan Utara mendominasi terinfeksi dengan status ODP, PDP, bahkan dinyatakan positif hasil swab tes?

Tokoh pemuda Cianjur Selatan, Ceng Badri (40), warga Desa Sindangbarang, Kecamatan  Sindangbaran, mengungkapkan, ada dua hal yang membuat warga selatan sulit terpapar Covid-19, pertama pola hidup keseharian dan keimanan yang kuat.

“Saya sebagai warga Cianjur wilayah Selatan yang lahir hingga saat ini, hanya dua hal yang membuat bertahan dari virus corona, keseharian hidup dan keimanan,” ungkapnya.

Sebenarnya, kata Badri, anjuran pemerintah saat ini agar tidak terpapar Covif-19 sudah dijalankan bertahun-tahun karena memang sudah menjadi keseharian.

Di antaranya menjaga jarak, karena kehidupan petani memang tidak sering berkumpul, mereka berangkat ke ladang sekitar pukul 07.00 WIB, beristirahat untuk makan siang menjelang Salat Zuhur lalu pulang sambil beristirahat. Sesudah Salat Asar, mereka ke ladang hanya sekadar mengecek aliran air. 

Menjelang Magrib pulang lagi ke rumah, menunaikan salat lalu mengaji hingga tiba azan Isya. Setelah itu, mereka iistirahat. “Keseharian mereka seperti itu, tidak ada waktu berkumpul dengan warga lainnya,” tuturnya.

Kalaupun ada kumpulan hanya saat pengajian di masjid atau rapat warga, itupun waktunya tidak setiap hari. 

Cuci tangan sudah menjadi kebiasaan dari sejak dulu orang tua kita selalu meminta kita untuk cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Begitupula saat melakukan aktivitas apapun, dipastikan disuruh cuci tangan.

“Saya masih ingat waktu kecil, orang tua saya selalu cuci tangan setelah beraktivitas, bahkan kalau mau tidur harus cuci kaki,” katanya.

Ditambahkan Mudrik (40), tokoh pemuda Kecamatan Cidaun, etika saat kita bersin dan menguap, diwajibkan jangan di dekat orang dan selalu ditutup tangan. Apapun protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah pusat saat pandemi Covid-19, sebenarnya sudah dilakukan sejak dulu.

“Makanya saya tidak heran saat mengetahui kalau 16 kecamatan di Cianjur wilayah Selatan memiliki risiko rendah terpapar Covid-19. Karena sejak awal dan sudah menjadi kebiasaan, protokol kesehatan dijalankan sebelum ada wabah Corona,” katanya.

Berkenaan dengan adanya 5 kecamatan ditemukan kasus Covid-19, Mudrik menilai itu salah satunya sejak adanya arus mudik warga Cianjur Selatan yang bekerja di kota-kota besar seperti Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor, dan Bandung.

“Beberapa kasus Covid ditemukan ternyata mereka orang warga Selatan yang mudik, karena sebelumnya bekerja di Jakarta dan Sekitarnya, bukan tiba-tiba terpapar,” katanya.

Ade (50), Warga Kampung Cisepat, Desa Cisalak, Kecamatan Cidaun, bahkan mengaku tidak tahu bahaya pandemi Covid-19, walaupun tahu dari berita di televisi banyaknya orang yang terpapar.

“Ah, duka teu apal naon Covid teh, teu aya didieu mah. Teu sieun ku Covid, lamun maot mah geus waktuna we (Tidak tahu apa itu Covid, tidak ada Covid di sini mah. Tidak takut Covid, kalau meninggal itu memang sudah waktunya),” kata Ade kepada Ayobandung.com saat didatangi ke rumahnya.

Sejak adanya pandemi Covid-19, Ade menegaskan, tidak berdampak apa-apa. Sebelum dan sejak ada virus corona, kehidupannya tetap sulit. “Kamari susah hirup, ayeuna oge sarua (kemarin sulit hidup, sekarang juga sama),” katanya.

Kepala Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Maman (51) setuju dengan yang dikatakan Ceng Badri, Mudrik, dan Ade mengenai kehidupan keseharian warga Cianjur Selatan, bukan hanya sebagai penawar, melainkan penangkal Covid-19.

“Kami sebagai warga Cianjur di wilayah Selatan memang sudah punya kehidupan keseharian seperti yang dianjurkan pemerintah, mangkanya bisa dikatakan 100 persen tidak ada yang terpapar Covid-19,” tuturnya.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 dr Yusman Faisal membenarkan 2 hal, yakni 16 kecamatan di Cianjur wilayah Selatan memiliki risiko rendah Covid-19 dan kehidupan keseharian petani menjadi penangkal penularan virus.

“Saya setuju dengan apa yang dikatakan warga Cianjur selatan, kehidupan sehari-hari mereka memang sudah sesuai dengan anjuran pemerintah saat pandemi Covid-19. Buktinya dengan data itu, 16 kecamatan tidak beresiko Covid,” katanya.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers