web analytics
  

Belajar Keteladanan dari Patung Verbraak di Taman Maluku

Jumat, 4 September 2020 10:08 WIB Rizma Riyandi
Bandung Raya - Bandung, Belajar Keteladanan dari Patung Verbraak di Taman Maluku, Pastor Vebraak,Patung Pastor Vebraak,Taman Maluku,Berita Bandung,Monumen di Bandung

Patung Verbraak di Taman Maluku (Dok. Humas Pemkot Bandung)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Warga Asli Bandung tentu tahu tentang cerita Taman Maluku. Taman legendaris yang sering dimanfaatkan warga untuk berjalan-jalan, berolah raga, atau sekadar menjernihkan mata dengan kawasan hijaunya yang menyejukkan. Pada Bandung tempo dulu, Taman Maluku adalah salah satu destinasi utama warga untuk berekreasi.

Hal yang membuat Taman Maluku terkenal adalah kehadiran patung Pastor Henricus Christiaan Verbraak dan sejarah yang melingkupinya. Menurut penulis sejarah Kota Bandung Sudarsono Katam, patung tersebut merupakan satu-satunya patung yang tersisa dari peninggalan zaman kolonial di kota ini.

Taman Maluku dibangun pada tahun 1919 oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan nama Molluken Park. Taman seluas 6.000 meter persegi tersebut berganti nama pada sekitar tahun 1950-an saat Presiden Sukarno melarang penggunaan Bahasa Belanda. Sementara itu, patung Pastor Verbaak dibangun tahun 1922. Letaknya berada di sudut utara taman itu dan menghadap ke Jalan Seram.

Sejatinya, Pastor Verbraak tidak pernah menginjakkan kakinya di Bandung. Konon, Pastor Verbaak meninggal dalam kecelakaan pesawat yang jatuh tepat di taman tersebut. Namun, menurut tulisan Ridwan Hutagalung dalam mooibandoeng.com, tidak ada sejarah otentik yang menunjukkan keberadaan Pastor Verbaak di Bandung, termasuk yang menjelaskan tentang peristiwa kecelakaan tersebut. 

Pastor Verbaak wafat karena sakit di Magelang pada tanggal 1 Juni 1918, dan dimakamkan di Molukkenplein, Magelang. Menurut tulisan Ridwan, misionaris kelahiran Rotterdam 24 Maret 1835 itu, pertama kali menginjakkan kakinya di Nusantara pada 29 Juni 1874, di pantai Ukee Lheue Aceh. 

Selama 33 tahun di Aceh, Verbraak melaksanakan tugas pengabdiannya sebagai pendeta dengan sangat baik, meskipun berada di tengah peperangan yang berkecamuk. Ia memiliki 2000 jemaat, 1500 di antaranya adalah tentara. Ia menjadi pendeta di Gereja Hati Kudus Yesus Banda Aceh. Gereja tersebut merupakan gereja Katolik pertama di sana dan bangunannya masih ada hingga saat ini.

Verbraak juga digambarkan layaknya seorang ayah yang penuh cinta kasih. Ia mencari panti asuhan atau orang tua angkat bagi anak-anak yang terlantar. Seluruh instansi di Aceh kala itu juga diimbau untuk memenuhi kewajiban mereka sebagai hamba Tuhan dengan membantu anak-anak yatim piatu. 

Kebaikannya itu membuat ia dihormati dan disegani. Bahkan jika datang ke suatu tempat, satu batalyon dengan 30 bayonet dipimpin oleh seorang sersan akan menyambutnya. Usai melaksanakan Ekaristi bersama umat Gereja Hati Kudus Yesus Banda Aceh pada 23 Mei 1907, ia pun meninggalkan Aceh. Sementara itu umatnya mendirikan patung Pastor Verbraak di Simpang Pante Pirak dan Peunayong karena terkenang atas pengabdiannya. 

Patung tersebut berdiri tak jauh dari gerejanya. Namun saat ini, patung tersebut sudah tidak ada lagi. Ia kemudian menghabiskan masa tuanya di Magelang, kota militer saat itu. Di sana, kesehatan Verbraak terus menurun. Kendati banyak orang yang menawarkan pengobatan untuknya, namun ia menolak. Ia merasa telah memiliki hidup yang cukup baik. 

Saat ia wafat pada 1 Juni 1918, ribuan orang turut berkabung. Ia dimakamkan dengan upacara kehormatan militer. Ia telah mengabdikan hidupnya untuk kebaikan orang lain. Motto hidupnya adalah “Ad majora natus sum”, yang berarti ‘Saya dilahirkan untuk mengerjakan hal-hal yang besar.”

Karena jasa dan pengabdiannya terhadap kemanusiaan, pada tahun 1922 Pemerintah Kota Rotterdam menganugerahkan penghargaan kepada Pastor Verbraak sebagai warga kota teladan. Di tahun yang sama, lembaga The Dutch East Indian Army mengumpulkan dan mendirikan patung Pastor Verbraak yang diresmikan pada 27 Januari 1922. 

Patung rancangan seniman Belanda G.J.W. Rueb itu tak hanya menjadi ikon bagi Pastor Verbraak. Lebih jauh, patung itu menjadi simbol kemanusiaan dan cinta kasih yang dimiliki oleh Pastor Verbraak. Kendati tak pernah datang ke Bandung, namun nilai-nilai ‘silih asih, silih asah, silih asuh’ yang juga dimiliki oleh Pastor Verbraak selayaknya diteladan oleh warga kota. 

 

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers