web analytics
  

Sejak Divaksin, Emil Akui Jadi Sering Mengantuk

Kamis, 3 September 2020 15:24 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Sejak Divaksin, Emil Akui Jadi Sering Mengantuk , Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil,Berita Jabar,Vaksin Covid-19,Efek Vaksin Covid-19

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (Pemprov Jabar)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Uji klinis vaksin Covid-19 membuat Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, kerap mengantuk. Emil, sapaan akrabnya, telah menjalani penyuntikan pertama sebagai relawan uji klinis vaksin Covid-19 pada Jumat (28/8/2020).

"Tunduh wae ayeuna mah (mengantuk terus sekarang)," ungkapnya saat ditemui di Cirebon akhir pekan lalu.

Kantuk kerap menyerang terutama setelah waktu Maghrib. Biasanya, akunya, kondisi itu jarang dirasakannya sebelum vaksin disuntikkan. Selain kantuk, perbedaan lain yang dirasakannya berupa nafsu makan yang meningkat. Sebelum ini, dia pun sempat merasakan efek samping lain, seperti pegal-pegal dan berdenyut.

"Nyut-nyutan dan pegal-pegal sekarang sudah hilang. Cuma makan lebih beda, agak banyak," ujarnya seraya meminta doa semua pihak.

Usai penyuntikan pertama, Emil diagendakan kembali disuntik vaksin pada 11 September 2020. Setelah 2 kali suntik, jelasnya, barulah darahnya akan diambil untuk pengetesan kekebalan tubuh.

"Kalau kekebalan tubuh saya naik setelah 2 kali disuntik, itu kabar gembira buat kita semua. Artinya, vaksin sudah siap digunakan tahun depan," paparnya.

Selain Emil, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jawa Barat, seperti pangdam dan kapolda, menjadi relawan uji klinis vaksin Sinovac dari Cina. Total relawan sendiri 1.620 orang.

"Syaratnya harus sehat dan domisili di Bandung," cetusnya.

Sementara itu, guna mempercepat capaian pemeriksaan Covid-19 yang ditarget 1% dari setiap penduduk daerah se-Jabar, Pemprov Jabar meminjam pakai total 29 unit alat Polymerase Chain Reaction (PCR) portable.

Alat tersebut memudahkan petugas kesehatan dalam pemeriksaan karena masyarakat tak harus datang ke laboratorium. Hasil tes usap sudah bisa diketahui hanya dalam waktu 40 menit.

"Alat ini adalah inovasi yang kami lakukan untuk wilayah-wilayah yang membutuhkan," tutur Emil.

Dia membeberkan, angka positif Covid-19 di Jabar termasuk tertinggi, di luar DKI Jakarta, yang mencapai lebih dari 500.000 pasien. Jumlah itu pun masih bersifat fluktuatif sampai sekarang.

"Rasio kasus Covid-19 di Jabar sebenarnya sudah di atas 500.000 kasus," katanya.

Namun, lanjutnya, standar WHO mengharuskan 500.000 kasus berdasarkan yang terdeteksi dari hasil pemeriksaan menggunakan alat PCR. Bila mengacu pada standar WHO itu, warga Jabar yang telah menjalani pemeriksaan menggunakan PCR baru sekitar 200.000 jiwa.

Karenanya, dia berharap, rasio pemeriksaan Covid-19 bisa dipercepat untuk pula menghindari kluster-kluster baru di berbagai daerah, terutama di kawasan sentra industri. Dalam hal ini, kepala daerah memegang peranan penting.

Melalui PCR portable, pihaknya menargetkan tes usap bagi warga Jabar selesai dalam waktu 6 pekan. Pihaknya mengasumsikan, setiap pekan 50.000 jiwa di Jabar dapat menjalani tes usap.

"Dalam waktu 6 minggu, sekitar 300.000 jiwa penduduk Jabar yang belum dites PCR sudah menjalani pemeriksaan," tandasnya.

 

Sumber: Ayocirebon.com
Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers