web analytics
  

Jangan Lengah! Perhatikan Mental Anak-anak saat Pandemi

Rabu, 2 September 2020 05:30 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Gaya Hidup - Sehat, Jangan Lengah! Perhatikan Mental Anak-anak saat Pandemi , Kesehatan Mental,Pandemi Corona,Dampak Corona,komunikasi,Pola Asuh

[Ilustrasi] Anak-anak berisiko terdampak kondisi mentalnya di tengah pandemi. (Pixabay/Free-photos)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Anak-anak termasuk golongan yang tidak terlalu berisiko terhadap Covid-19. Secara fisik, mereka mungkin lebih aman dibanding orang-orang dewasa. Namun, hal ini tidak menjamin mereka aman secara mental.

Sebuah ulasan dalam Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menyatakan, anak-anak dan remaja memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kesepian, depresi, dan kecemasan selama pandemi. Hal ini dikarenakan mereka terisolasi dari teman-teman, guru dan keluarga yang lain.

Kesehatan mental anak sangat sulit diketahui jika hanya dari luar. Karena itu, orang tua lebih baik bertanya dan mendengarkan perasaan anak-anaknya. Bertanya secara rutin mengenai keadaan mereka membuat orang tua akan bisa lebih memahami dan memberikan dukungan saat anak-anak membutuhkannya.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk lebih mengetahui kesehatan mental anak-anaknya.

1. Memastikan keadaan mental diri

Anak-anak dan remaja biasanya meniru orang tua dalam hal mengidentifikasi, mengekspresikan, dan mengelola emosi. Orang tua harus bisa mengelola emosinya sendiri terlebih dahulu sebelum memperhatikan kondisi mental anak-anaknya.

2. Kenali tanda-tanda kecemasan dan depresi

Kecemasan adalah salah satu kondisi mental yang umum dialami anak-anak. Saat takut dan khawatir, anak-anak mungkin menampilkan gejala fisik seperti kelelahan, sakit kepala, atau sakit perut.

Adanya kecemasan atau depresi juga dapat dilihat dari perubahan perilaku. Anak-anak mungkin lebih mudah marah, mudah menangis, atau lebih manja. Sementara itu, remaja bisa terlihat dari perubahan pada pola tidur, pola makan, aktivitas sosial dan fisik, motivasi rendah, dan kekurangan energi.

Orang tua juga harus melihat tanda-tanda menyakiti diri sendiri secara emosional maupun fisik. Beberapa anak mungkin melukai diri sendiri, menarik-narik rambut mereka, minum alkohol, atau mengonsumsi obat-obatan. Sementara itu, secara emosional, dapat berupa perasaan tidak berguna ataupun berbicara negatif tentang dirinya sendiri.

3. Normalisasi perbincangan mengenai emosi dengan anak

Orang tua dapat bertanya secara rutin mengenai perasaan anak, tidak hanya saat Anda pikir anak-anak sedang punya masalah.

Bantu anak mengenali emosinya. Jelaskan pada mereka mengenai jenis-jenis emosi sejak dini. Gunakan media visual seperti gambar, video, atau film untuk mengenalkan berbagai macam emosi.

Saat anak-anak kecil yang belum bisa mengekspreksikan emosi dengan baik melakukannya dengan marah, jangan mengabaikan atau menghukumnya. Bantu mereka menenangkan diri lalu bicarakan apa yang menjadi penyebab mereka marah.

4. Jadilah pendengar yang baik

Hindari distraksi saat sedang mendengarkan anak. Berikan mereka tanda fisik dan verbal bahwa Anda mendengarkan. Misalnya dengan meletakkan ponsel, mematikan TV, atau membuat kontak mata.

Berikan dukungan dalam bentuk memvalidasi apa yang mereka rasakan dan mendorong kemandirian mereka. Validasi perasaan mereka tanpa bersikap menghakimi, beri tahu mereka bahwa semua orang memiliki perasaan negatif. Dorong kemandirian mereka dengan membicarakan bagaimana cara anak-anak mengatasi perasaan itu.

5. Minta bantuan profesional jika dibutuhkan

Mengalami emosi negatif memang wajar bagi anak-anak terutama saat melewati transisi seperti saat ini dimana mereka harus lebih banyak berada di rumah. Namun apabila gejalanya terlihat parah dan mengganggu keseharian maka ada baiknya untuk pergi menemui ahli.

Jujurlah pada anak-anak Anda jika ingin membawa mereka menemui ahli. Beritahu mereka, Anda akan membawa mereka menemui orang yang bisa membantu mereka mengatasi perasaan mereka. Jika mereka menolak, Anda bisa tetap bekerja sama dengan profesional mengenai strategi untuk membantu anak Anda. (Putri Shaina)

Sumber: National Geographic
Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers