web analytics
  

Blow the Man Down Paduan Segar untuk Genre Komedi, Drama dan Misteri

Sabtu, 29 Agustus 2020 20:00 WIB
Umum - Nasional, Blow the Man Down Paduan Segar untuk Genre Komedi, Drama dan Misteri, Film,Film Review

Poster film Blow the Man Down (Istimewa)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Kehidupan di kota kecil yang penuh rahasia dan misteri memang menarik untuk diangkat.

Dengan segala aspek lokalitas, Blow the Man Down menawarkan sesuatu yang segar untuk genre Comedy, Drama dan Mystery.

Blow the Man Down adalah film drama pembunuhan yang ditulis duo sineas debutan Bridget Savage Cole dan Danielle Krudy.

Film ini memulai debut di ajang Tribeca Film Festival 2019 dan didistribusikan secara streaming oleh Amazon Studios sejak Maret 2020. Film ini dibintangi para pemain yang tak familiar bagi kita, seperti Morgan Saylor, Sophie Lowe, Margo Martindale, serta Anette O’Toole.

Alkisah, sebuah kota pelabuhan terpencil di Mayne, wilayah utara Amerika Serikat (AS). Dua saudari, Priscilla dan Mary Beth ditinggal mati sang ibu. Dalam acara berkabung di rumah, Mary Beth tanpa sengaja mendengar jika rumah mereka akan disita karena hutang mendiang sang ibu. Pris dan Mary beradu mulut hingga sang adik mengancam bakal pergi. Malamnya, Mary datang ke sebuah bar dan pergi dengan Gorsky, seorang pria hidung belang. Ketika Mary tanpa sengaja melihat sesuatu di bagasi mobil Gorsky, ia pun merasa terancam dan tak sengaja membunuh pria hidung belang itu. Tanpa disadari, Pris dan Mary terjebak dalam suatu konflik yang melibatkan warga kota, termasuk mendiang ibunya.

Blow the Man Down memang banyak mengingatkan pada film kriminal berkelas semacam Fargo (1996).

Tak banyak latar informasi cerita yang tersaji di filmnya. Tidak ada alur investigasi yang rapi seperti genre pembunuhan lazimnya dan penonton pun harus melakukannya sendiri. Kita harus benar-benar mencermati, khususnya adegan dan dialog untuk bisa mencerna info cerita. Tak sulit memang, tapi kita pasti bakal melewati satu atau dua informasi kecil.

Rasa penasaran makin menjadi ketika Pris dan Mary terjebak dalam situasi pelik. Semakin lama, rahasia dari beberapa pihak pun mulai terkuak, yang melibatkan satu rumah prostitusi yang dikelola oleh seorang perempuan bernama Enid. Kekuatan naskah film ini mampu menjaga intensitas dramatik dengan menahan informasi sedikit demi sedikit hingga kisahnya tak mampu kita antisipasi hingga akhir.

Selain itu, unsur lokalitas adalah satu hal yang jadi kekuatan film ini.

Sejak adegan pembuka, disajikan choir yang khas yakni lagu “Blow the Man Down” yang dibawakan oleh para nelayan warga kota. Unsur salju yang mengiringi sepanjang film juga sangat pas mendukung tone film yang dingin dan misterius.

Kasting pemain mengaggumkan tanpa cacat, khususnya dua tokoh protagonist utama hingga para pemain gaek, sekelas Margo Martindale sebagai Enid.

Blow the Man Down adalah sebuah drama pembunuhan yang unik. Didukung kuat para pemain, lengkap dengan segala atribut lokal. Film ini jelas bukan film yang bertutur secara gamblang dan mudah. Tak mudah pula untuk diapresiasi.

Bagi kita yang tak akrab dengan kehidupan tempat dalam film ini, rasanya ada sesuatu yang hilang karena kita seolah bukan bagian dari mereka. Ide besarnya jelas tak sulit dipahami. Apa yang terjadi di kampung (kota kecil ini) tetaplah menjadi rahasia kampung. Mereka melindungi satu sama lain dan tak membiarkan orang luar mengganggu mereka.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers