web analytics
  

Platform Digital Punya Peran Penting dalam Pencegahan Korupsi

Jumat, 28 Agustus 2020 16:51 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Bisnis - Gadget, Platform Digital Punya Peran Penting dalam Pencegahan Korupsi, Alat Kesehatan,Korupsi,paltform digital,Presiden Joko Widodo,marketplace,Kementerian Kesehatan RI,Alat-alat kesehatan

Ilustrasi. (Pixabay/ StockSnap)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kesempatan dan peluang untuk terjadinya korupsi dalam transaksi yang menggunakan uang negara, harus dihapuskan. Caranya, antara lain dengan membangun platform digital yang tidak memungkinkan terjadinya praktik bisnis yang tidak sehat dalam pengadaan barang dan jasa yang dibutuhkan lembaga-lembaga pemerintah. Demikian pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pidato pada acara Aksi Nasional Pencegahan Korupsi (ANPK) yang diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, Rabu (26/8/2020).

“Tata niaga yang memberi kesempatan bagi para pemburu rente, harus dipangkas. Karena korban dari tata niaga yang tidak sehat adalah rakyat. Rakyat harus membayar harga barang dan jasa lebih mahal dari yang seharusnya,” kata Presiden Joko Widodo.

Pesan Presiden itu disampaikan untuk menguatkan upaya pencegahan korupsi di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah. Karenanya, kementerian dan lembaga, termasuk di tingkat daerah, dituntut untuk terus berinovasi dalam mencari cara agar proses pengadaan barang dan jasa itu berlangsung dengan transparan, fair, bebas dari praktik bisnis yang tidak sehat, dan mengikuti aturan yang berlaku. 

Selaras dengan upaya pemerintah dalam mencegah korupsi tanpa mengurangi perputaran roda ekonomi dan layanan pada masyarakat, Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) meluncurkan AlkesPintar.id, sebuah marketplace digital yang yang khusus menyediakan alat-alat kesehatan dan laboratorium.

Marketplace ini diproyeksikan untuk membantu Pemerintah dalam pengadaan alat-alat kesehatan dan laboratorium barang dan jasa yag dibutuhkan rumah sakit-rumah sakit, khususnya rumah sakit swasta di seluruh Indonesia.

Sekjen Gakeslab dr Randy Teguh menjelaskan, tujuan dibangunnya AlkesPintar ini untuk memudahkan dan mempercepat pengadaan alat-alat kesehatan dan laboratorium dengan transparan, fair, terbebas dari praktik bisnis yang tidak sehat oleh rumah sakit sebagai user. Produk-produk alat kesehatan yang ditawarkan di markerplace ini, semuanya terakreditasi oleh Kementerian Kesehatan RI. Dengan begitu, dari segi fungsi, kualitas, dan harga dijamin kewajarannya.

“Alat-alat kesehatan adalah barang yang harus selalu tersedia di rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Terlebih Indonesia adalah negar besar dengan jumlah penduduk tidak kurang dari 275 juta jiwa, sehingga kebutuhan akan alat-alat kesehatan mau tidak mau harus selalu terpenuhi. Nah, agar pengadaannya selalu bisa dilakukan dengan cepat, mudah, transparan, dan fair, Gakeslab membangun marketplace digital AlkesPintar,” kata Randy.

Bisnis alat kesehatan, kata Randy, adalah bisnis yang diatur dengan banyak regulasi, karena terkait dengan kesehatan dan jiwa manusia. Di sisi lain, pengadaan alat-alat kesehatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang dilakukan secara manual, cukup rentan untuk terjadinya praktik bisnis yang tidak sehat.

Marketplace AlkesPintar ini juga bertujuan mereduksi kemungkinan-kemungkinan terjadinya praktik bisnis yang tidak sehat dalam pengadaan alat-alat kesehatan. Karenanya, AlkesPintar diapresiasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai satu dari tiga platform digital yang memfasilitasi belanja barang dan jasa pemerintah. Dua platform lainnya adalah ‘Siplah’ milik Kemendikbud dan ‘Mbiz’ yang menjadi mitra Pemprov Jawa Barat.

Menurut Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango, platform digital semacam itu seharusnya menjadi role model dan ditiru oleh kementerian, lembaga, pemerintah daerah, termasuk lembaga swasta yang terlibat dalam pengadaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan pemerintah.

“Platform digital Alkes Pintar sejalan dengan strategi nasional KPK. Marketplace ini merupakan best practice untuk kondisi saat ini. Karena itu, pengembangannya harus diperkuat oleh berbagai pihak, agar dapat membantu Pemerintah dalam pengadaan alat-alat kesehatan, lebih efisiensi dari sisi waktu maupun anggaran,” kata Nawawi.

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan, Jend TNI (Purn.) Moeldoko mengatakan, perlu cara-cara baru dalam pengadaan barang dan jasa untuk kebutuhan pemerintah, yang cepat tapi dengan akreditasi dan pengawasan standar dari lembaga yang berkompeten.

“Terlebih pada masa pandemi ini, kami di pemerintahan terus memfasilitasi agar semua kebutuhan untuk mengatasi Covid-19 bisa dilakukan dengan cepat, tanpa menyalahi ketentuan yang berlaku,” kata Moeldoko dalam sesi diskusi ANPK.  

Di masa mendatang, AlkesPintar juga bisa digunakan oleh rumah sakit-rumah sakit pemerintah yang sejak tahun 2017 sudah menggunakan e-catalog yang dioperasikan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP). Di sisi lain, rumah sakit-rumah sakit swasta tidak bisa melakukan pengadaan barang dengan menggunakan e-catalog milik LKPP.

Randy menambahkan, sedianya AlkesPintar akan diluncurkan pada akhir tahun 2020. Namun karena terjadinya pandemi Covid-19 dan permintaan akan alat-alat kesehatan melonjak, peluncuran platform itu dipercepat jadi pertengahan 2020.

“Sejak Maret 2020 kebutuhan akan alat-alat kesehatan meningkat drastis karena merebaknya Covid-19. Pengadaan alat-alat kesehatan di rumah sakit-rumah sakit di seluruh Indonesia harus dilakukan secara cepat, namun tetap tidak mengabaikan peraturan-peraturan yang berlaku. Begitu juga dengan fungsi, kualitas, dan harganya,” kata Randy.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, anggaran dalam APBN 2019 untuk pengadaan alat-alat kesehatan di rumah sakit-rumah sakit pemerintah, sekitar Rp9 triliun. Pada tahun 2020 anggaran itu meningkat jadi Rp18 triliun, karena pandemi Covid-19. Jika digabungkan dengan anggaran APBD dan BUMN, total belanja alat-alat kesehatan mencapai Rp50 triliun.

Sementara itu, jumlah rumah sakit di Indonesia per tahun 2020, menurut data Kementerian Kesehatan sebanyak 2.826 buah. Terdiri atas 1.036 rumah sakit pemerintah dan 1.790 rumah sakit swasta. Dengan begitu, total nilai pangsa pasar alat-alat kesehatan dan laboratoriom di Indonesia diperkirakan sebesar Rp150 triliun pada tahun 2020, dengan rata-rata pertumbuhan 4% per tahun.

Saat ini Gakeslab Indonesia beranggotakan sekitar 500 perusahaan, terdiri atas distributor, importir/eksportir, dan produsen. Termasuk juga perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Anggota Gakeslab yang merupakan perusahaan domestik, dari segi permodalannya sebagian ebsar masih berstatus UMKM.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers