web analytics
  

Fenomena Buzzer di Era Teknologi Informasi

Jumat, 28 Agustus 2020 09:45 WIB Netizen Djoko Subinarto
Netizen, Fenomena Buzzer di Era Teknologi Informasi, Media Sosial,Buzzer,influencer,Generasi Milenial

Media sosial (Unsplash/Merakist)

Djoko Subinarto

Penulis lepas, bloger, mukim di Cimahi

AYOBANDUNG.COM -- Keberadaan internet, sebagai salah satu bagian dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, telah menjadikan informasi saat ini bukan lagi monopoli segelintir individu atau segelintir kelompok. Siapa pun, sepanjang memiliki akses internet, bisa melahap informasi tanpa batas.

Bukan cuma itu, siapa pun kini bisa pula memproduksi informasi -- terlepas apakah informasi itu bernilai atau tidak -- dan menyebarkannya ke seantero jagat dengan cepat dan seketika.

Hasil riset yang dilakukan oleh We Are Social & Hotsuite, dan dirilis pada Januari 2020 lalu, menyebut bahwa jumlah penguna internet di Indonesia sudah mencapai 175,4 juta orang, meningkat sekitar 17 persen atau sekitar 25 juta dari tahun sebelumnya.

Lebih jauh, hasil riset tersebut menyebutkan pula bahwa sebesar 96 persen pengguna internet di Indonesia sudah menggunakan perangkat telepon pintar (smartphone). Rata-rata orang Indonesia menghabiskan empat jam 46 menit tiap hari untuk berselancar di internet. Adapun  pengguna aktif media sosial (medsos) di Indonesia mencapai 160 juta dengan penetrasi 59 persen dari total populasi.

Tidak terbayangkan

Akibat kemajuan di bidang teknologi digital, jutaan posisi pekerjaan konvensional bakal menghilang di masa depan. Kendatipun demikian, hilangnya pekerjaan-pekerjaan tertentu pada gilirannya akan pula melahirkan jenis-jenis pekerjaan baru yang tidak pernah ada dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sekadar ilustrasi, sepertiga pekerjaan baru di Amerika Serikat yang muncul selama 25 tahun terakhir justru sama sekali tidak pernah ada sebelumnya. Sementara itu, sebuah kajian yang dilakukan oleh McKinsey di Prancis menunjukkan bahwa dari sekitar 500.000 pekerjaan yang hilang akibat kemajuan teknologi digital selama 15 tahun terakhir, ternyata kemudian memunculkan sekitar 1,2 juta pekerjaan baru lainnya.

Dua atau tiga dekade silam, kita tak pernah membayangkan sedikit pun ada profesi yang disebut vloger. Vlog berasal dari kata video dan blog. Di Indonesia, berdasarkan catatan CNBC, vloger yang sukses bisa meraup penghasilan antara Rp 200 juta hingga Rp 10 miliar per tahun.

Juga tidak pernah kita bayangkan sebelumnnya di masa lalu ada pekerjaan sebagai buzzer maupun influencer. Buzzer sering diartikan sebagai pendengung. Dalam hal ini, orang yang mendengungkan sesuatu dengan tujuan antara menarik perhatian dan mengubah persepsi khalayak.

Adapun influencer adalah mereka yang mempengaruhi. Lewat konten-konten yang diunggahnya di medsos, misalnya, influencer mempengaruhi khalayak mengenai sesuatu hal.

Buzzer maupun influencer dapat dimanfaatkan untuk mengkampanyekan, mempromosikan atau mensosialisasikan agenda atau program tertentu dari sebuah kelompok maupun institusi. Mereka yang menjadi buzzer maupun influencer biasanya memiliki pengikut (follower) dalam jumlah yang besar.

Untuk segala jerih payahnya, buzzer dan influencer mungkin saja mendapat imbalan atau bayaran. Tinggi-rendahnya bayaran tentu tergantung kesepakatan dari masing-masing pihak yang terlibat kerja sama.

Sebagian kalangan sekarang ini ada yang memandang rendah pekerjaan sebagai buzzer maupun influencer. Sebagian lagi mencap buzzer dan influencer sebagai jahat. Tercelakah pekerjaan sebagai buzzer maupun influencer?

Sepanjang yang dipromosikan, dikampanyekan, didengungkan, disosialisasikan, diuar-uar oleh para buzzer dan influencer itu adalah hal-hal yang dapat bermanfaat bagi khalayak, berguna bagi publik, maka pekerjaan sebagai buzzer maupun influencer adalah mulia.

Lain halnya jika yang dipromosikan, dikampanyekan, didengungkan, diuar-uar, disosialisasikan itu hal-hal negatif, seperti fitnah, kabar bohong, kebencian, penistaan maupun penipuan.

Di zaman kiwari, di mana media sosial menjadi salah satu saluran utama dalam membentuk persepsi maupun opini, setiap orang adalah media. Tiap-tiap orang bisa menyuarakan pandangan apa pun, menyampaikan pesan apa pun lewat medsos yang dimilikinya. Bisa pandangan atau pesan pribadi. Bisa juga pandangan atau pesan dari pihak lain.

Dari sisi bisnis, medsos bisa dimonetisasi untuk menghasilkan fulus alias duit. Meskipun dapat menjadi mesin uang, mestinya setiap pengguna medsos, termasuk yang berprofesi sebagai buzzer maupun influencer, memiliki kemampuan dalam memilah mana yang bagus dan bermanfaat untuk disajikan buat khalayak dan mana yang tidak bagus dan tidak bermanfaat bagi khalayak.

Jangan hanya semata-mata demi uang, kita akhirnya memilih melacurkan harga diri kita dan sekaligus merugikan pihak lain.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers