web analytics
  

Mengenang Letusan Krakatau untuk Kesiagaan

Jumat, 28 Agustus 2020 06:50 WIB Netizen T Bachtiar
Netizen, Mengenang Letusan Krakatau untuk Kesiagaan, Letusan krakatau,Gunung Tangkuban Parahu,Gunung Guntur,Gunung Ciremai

Gunung Tangkuban Parahu (Dok T Bachtiar)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

AYOBANDUNG.COM--Letusan Gunung Krakatau 27 Agustus 1883 telah menghancurkan bentang alam dan kemanusiaan. Penderitaan akibat tsunami di Lampung, seperti ditulis oleh  Muhammad Saleh, tergambar dengan jelas kegetiran ketika menyaksikan peristiwa alam maha dahsyat itu. Dalam pengungsian ia menuliskan kesaksiannya pada tanggal 6 Oktober 1883.

Datang gelombang besar sekali

Bertaburlah umat ke sana-sini

Ada yang hilang anak istri

Ada yang sampai ajal pun mati.

            …

Demikianlah lagi orang yang pergi

Menanamkan mayat sehari-hari

Jikalau malam duduk berhenti

Matahari ke luar lalu mencari.

….

 

Pada tanggal 27 Agustus 1883 terjadi letusan maha dahsyat Gunung Krakatau di Selat Sunda yang menimbulkan tsunami setinggi 30-40 meter, yang menelan korban tewas mencapai 36.417 orang di Banten, Lampung, dan pulau-pulau kecil yang ada di Selat Sunda, belum termasuk korban susulan karena penyakit dan kelaparan. Kehancuran bentang alam yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat, telah membawa penderitaan yang lama.

Penderitaan masyarakat Banten tergambarkan dalam buku karya Sartono Kartodirdjo (Pustaka Jaya, 1984), Pemberontakan Petani Banten 1888. Sartono menulis, “Tidak dapat disangsikan lagi bahwa selama dasawarsa yang mendahului pemberontakan, kondisi-kondisi sosial-ekonomis telah menimbulkan tekanan-tekanan dan tuntutan-tuntutan yang asing, dan tak terduga sebelumnya, karenanya terjadi frustasi yang kumulatif.”

Sartono menegaskan,“Tak disangsikan lagi bahwa wabah penyakit ternak dan wabah demam, serta kelaparan yang diakibatkannya, dan disusul letusan Gunung Krakatau, merupakan pukulan yang hebat bagi penduduk: akibat merosotnya populasi ternak dan jumlah tenaga manusia yang tersedia, sekitar sepertiga dari tanah pertanian tidak dapat ditanami selama tahun-tahun bencana itu (1880-1882), sementara letusan Gunung Krakatau menyebabkan luas tanah yang tidak dapat digarap menjadi lebih besar lagi, terutama di bagian barat afdeling Caringin dan Anyer. Kegagalan panen selama beberapa tahun (1878-1886) telah menyebabkan keadaan lebih buruk lagi.”

Di Jawa Barat terdapat 7 gunung api aktif tipe A, dengan keadaan sekelilingnya yang sudah dipadati permukiman dan menjadi pusat kegiatan ekonomi. Tidak jauh dari gunung api itu terdapat bandar udara yang padat jalur lalu-lintasnya, seperti Gunung Gede, Gunung Salak, Gunung Tangkubanparahu, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Galunggung, dan Gunung Ciremai.

Di utara Kota Bandung terdapat Gunung Tangkubanparahu, gunung api yang aktif Tipe A. Apakah masyarakat yang berada dalam radius radius 5 km dari gunung itu sudah tumbuh sikap dan tindakan: siap, siaga, trengginas, tangguh, bangkit, empati, menolong, dan gotong-royong? Apakah itu semua sudah menjadi kekuatan diri, kekuatan masyarakat, menjadi tindakan nyata perseorangan dan kelompok dalam kehidupan bermasyarakat dalam menghadapi bencana?

Sesungguhnya, upaya mitigasi itu bagian dari keguyuban warga dalam bermasyarakat, bagaimana upaya-upaya warga dalam proses penguatan dirinya, penguatan warganya secara keseluruhan, dan penguatan rasa sepenanggungan dalam upaya mengurangi risiko bencana sampai tingkat yang sekecil-kecilnya.

Bagaimana untuk menguatkan masyarakat dengan memanfaatkan jaringan yang ada melalui RT-RW, untuk mengimbaskan pengetahuan tentang tindakan apa yang harus dilakukan sebelum dan bila terjadi letusan gunungapi. Bagaimana kesiagaan itu diimbaskan dalam persekolahan, dalam perkuliahan, dalam kegiatan keagamaan, agar semua mengetahui apa yang harus dilakukan, agar masyarakat mengetahui tindakan apa yang harus dilakukannya. Kekuatan inilah yang dapat menangkal kabar-kabar bohong yang menyesatkan dan mencemaskan.

Upaya mitigasi harus dilakukan terus-menerus dan menuntut kepatuhan. Baru penerbangan yang dengan sigap menaati semua hal yang direkomendasikan oleh otoritas Negara yang menangani gunungapi dan penerbangan. Bila semua lini dapat menjalankan upaya mitigasi dengan baik dan berkesinambungan, maka penyadaran dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi bencana kebumian akan menguat.

Warga di sekeliling gunung api harus sudah mengetahui apa yang harus dilakukan bila hujan abu sangat lebat. Bila lingkungan permukimannya dinyatakan aman, dapat membersihkan atap rumah dari abu letusan. Apa yang harus dilakukan oleh warga di sekitar sungai yang hulunya di gunung api aktif, yang berpotensi banjir lahar?

Apakah sudah ada tempat yang diperuntukan sebagai tempat pengungsian untuk warga dan untuk hewan? Dengan disediakan kandang hewan komunal, para pengungsi tidak khawatir lagi akan ternaknya tak ada yang memberi makan saat ditinggal mengungsi. Ketika semua warga mengungsi, apa jaminan dari petugas keamanan rakyat dan aparat Kepolisian, bahwa tidak akan ada pencuri yang masuk perkampungan?

Saat ini, gunung api itu sudah berada di tengah-tengah perkotaan. Jumlah penduduk yang mengelilingi gunung api sudah sangat padat, dengan investasi industri jasa yang tinggi. Informasi kapan harus mengungsi, ke mana mengungsi, harus sudah diketahui oleh masyarakat, relawan, dan aparat, agar tindakannya dapat dengan cepat, tepat, dan selamat. Cara-cara inilah yang dapat mengurangi korban jiwa dan dampak sosial dari kejadian alam!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers