web analytics
  

Transmisi Lokal Merebak di Kabupaten Majalengka, Dinilai Lebih Bahaya

Rabu, 26 Agustus 2020 17:08 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Transmisi Lokal Merebak di Kabupaten Majalengka, Dinilai Lebih Bahaya, COVID-19,majalengka,corona

‘Viral interference’ adalah fenomena ketika virus yang sudah ada di tubuh manusia menahan virus lain. Apakah virus bisa melawan Covid-19? (Unsplash/CDC)

MAJALENGKA, AYOBANDUNG.COM -- Pola penyebaran transmisi lokal dalam kasus Covid-19 telah merebak di Kabupaten Majalengka. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) setempat mengingatkan bahayanya.

Selama beberapa waktu, sejak Covid-19 mewabah, kasus-kasus impor (imported case) sempat mendominasi di Kabupaten Majalengka. Namun, kondisi tersebut belakangan berbalik dan pola penyebaran transmisi lokal merebak di sana.

Transmisi lokal virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit menular Covid-19 sendiri terjadi di mana orang yang terinfeksi bukan karena bepergian ke suatu daerah atau bertemu dengan orang asing di luar wilayahnya, melainkan tertular dari media yang tidak diketahui secara pasti. Kemungkinannya bisa dari orang ke orang yang ada di daerahnya atau benda yang terkontaminasi virus yg ada di sekitar org tersebut.

Kasus terbaru, 9 warga 2 desa di 1 kecamatan terkonfirmasi positif. Otoritas setempat menyebut kejadian itu sebagai penambahan kasus terbanyak yang terjadi akibat transmisi lokal.

Ketua IDI Kabupaten Majalengka, Erni Harleni menyebut, penularan Covid-19 melalui transmisi lokal lebih berbahaya.

"Penularan transmisi lokal lebih bahaya karena upaya penelusuran/tracing sulit dan bisa menyebar ke mana-mana," ungkapnya kepada Ayocirebon.com.

Bahaya transmisi lokal, imbuhnya, berupa kemunculan kluster-kluster baru karena virus telah menyebar di tengah masyarakat tanpa mereka sadari.

Masyarakat dipastikan tak menyadarinya mengingat infeksi virus sebagian besar tak bergejala.

Lonjakan kasus positif sendiri, lanjutnya, di antaranya dapat disebabkan masyarakat yang tak patuh pada protokol kesehatan.

Selain itu, masyarakat yang telah bepergian dari luar wilayah tinggalnya tak menjalankan karantina mandiri.

Menurutnya, banyak kasus orang tanpa gejala sehingga tak menyadari dirinya merupakan penyebar virus.

Dalam penyelidikan epidemiologi, kemampuan surveilans kesehatan masyarakat yang rendah hingga kriteria epidemiologi yang tak terpenuhi bisa pul menjadi sebab lain peningkatan kasus Covid-19 di suatu wilayah.

Pihaknya pun menyarankan otoritas penanganan Covid-19 setempat untuk mematuhi 3 indikator dalam penanggulangan pandemi, salah satunya pada kriteria epidemiologi.

"Pada kriteria epidemiologi, akurasinya ditentukan banyaknya pemeriksaan RT PCR standar WHO  1/1.000 jumlah penduduk/minggu," katanya.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Majalengka pula diingatkan mematuhi kriteria sistem kesehatan, di mana jumlah kasus baru yang membutuhkan rawat inap lebih kecil dari perkiraan kapasitas maksimum rumah sakit dan tempat tidur ICU.

Terakhir, mematuhi kriteria surveilans kesehatan masyarakat. Dalam hal ini surveilans kesehatan masyarakat dapat mengidentifikasi sebagian besar kasus dan kontak pada masyarakat.

"Penilaian dilakukan setiap minggu di tingkat kabupaten," tambahnya.

Tak hanya bagi gugus tugas, pihaknya pula menyarankan para dokter maupun petugas kesehatan untuk mengenakan APD sesuai kebutuhan.

Selain itu, disiplin melaksanakan protokol kesehatan melalui 3M maupun menjaga kondisi mental dan fisik.
 
"Supaya tetap prima, tingkatkan rasa syukur dengan takwa kepada Allah SWT, menjaga fisik dengan makan sesuai gizi seimbang serta istirahat cukup," imbaunya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers