web analytics
  

Cerita Deretan Warung Nasi Ciater yang Sepi Dihantam Pandemi Covid-19

Rabu, 26 Agustus 2020 15:32 WIB Nur Khansa Ranawati
Umum - Regional, Cerita Deretan Warung Nasi Ciater yang Sepi Dihantam Pandemi Covid-19, ciater,sari ater,Gunung Tangkuban Parahu,COVID-19

Deretan warung di Ciater Subang (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

SUBANG, AYOBANDUNG.COM--Wilayah Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang adalah salah satu destinasi wisata Jawa Barat yang banyak didatangi warga dari dalam maupun luar negeri. 

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, sejumlah objek wisata di kecamatan tersebut kerap ramai dipadati wisatawan terutama di akhir pekan. 

Sebut saja Gunung Tangkuban Parahu, pemandian air panas hingga bentangan kebun teh yang sejuk. Kesemuanya berangsur-angsur mulai sepi ditinggalkan wisatawan sejak pemerintah mengumumkan kasus Covid-19 pertama pada Maret 2020.

Tak hanya berpengaruh pada tempat wisata yang bersangkutan, sepinya kunjungan wisatawan juga menjadikan berbagai usaha warga sekitar kembang-kempis. Salah satunya seperti yang dialami para pedagang warung nasi dan mie instan di sekitaran Jalan Tangkuban Perahu.

Ayobandung.com berkesempatan menyambangi salah satu warung nasi di kawasan tersebut belum, Sabtu (22/8/2020). Lokasinya terletak sekitar 2 kilometer dari pemandian air panas Sari Ater.

Pemiliknya, Ai (37) mengeluhkan pendapatan yang merosot selama beberapa bulan belakangan.

Warung milik Ai berada di pinggir jalan besar, bentuknya sederhana dengan susunan bilah kayu yang membentuk bangunan serupa panggung. Para pengunjung dapat menempati meja-meja lesehan sembari menikmati pemandangan hijau kebun teh.

Warung jenis ini kerap menjadi andalan wisatawan bila hendak sarapan di pagi hari ataupun mencari kudapan di malam hari. Karena bisanya, warung lesehan di sekitaran objek wisata memiliki jam operasional yang panjang sehingga tak jarang lokasinya dijadikan tempat transit bagi wisatawan.

Namun, kondisi tak lagi sama sejak akhir Maret dan awal April 2020. Ai mengatakan, ia sempat menutup operasional selama 2 bulan dan hanya buka di akhir pekan.

"Pas ada Corona kemarin beda banget kondisinya, hampir 3 bulan sepi sekali. Dua bulan saya di rumah, dagang mah Sabtu-Minggu saja," ungkapnya.

Dia mengatakan, warungnya jarang sepi pembeli meskipun di hari kerja. Namun saat ini, di akhir pekan dan libur panjang pun tak seberapa banyak orang yang datang berkunjung.

"Karena di sini kan biasanya banyak datang orang yang mau berwisata ke Tangkuban Parahu, ke cipanas (tempat pemandian air panas), mampir dulu ke sini. Orang sekarang lewat saja, jadi tidak terlalu ramai. Jarang ada yang berhenti," ungkapnya. 

Kondisi paling sepi, dia mengatakan terjadi pada masa sebelum bulan Ramadan dan Idul Fitri. Pada saat itu juga bertepatan dengan penerapan pertama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Bandung Raya.

"Waktu itu kan serba ditutup. Biasanya warung saya buka sampai malam, dan ramai pas siang. Jadinya tutup cepat saja, boro-boro sampai malam, siang juga sudah sepi," jelasnya.

"Sempat ada rombongan motor juga makan di sini waktu itu. Tapi dibubarin polisi," ungkapnya. 

Sebelum pandemi, dia mengatakan bisa meraup pendapatan pada akhir pekan Sabtu-Minggu rata-rata di kisaran Rp3.000.000 per dua hari. Belakangan ini, pendapatan di Sabtu-Minggu jarang lebih dari Rp1.000.000.

"Di bulan puasa itu biasanya ramai, untuk modal lebaran. Kemarin sepi, jadi enggak sempat ngumpulin modal untuk lebaran, habis saja. Lagian sekarang lebarannya juga tidak kayak sebelumnya, jadi belanja seadanya saja," paparnya.

Seusai Idulfitri, Ai kembali harap-harap cemas menanti datangnya para wisatawan. Namun, situasi belum banyak berubah. Ia mengatakan, biasanya  hingga beberapa hari setelah Idul Fitri, banyak wisatawan yang mampir bahkan hingga bermalam di sekitar warung.

"Biasanya ada wisatawan dari jauh seperti Karawang atau kota-kota lain, tidur di sini, nunggu ke Ciater dan Tangkuban Perahu pagi-pagi. Setelah lebaran biasanya ramai, tapi sekarang kan situasinya belum normal. Orang masih takut kali ya," ungkapnya.

Dia juga mengaku tidak mendapat bantuan sosial sembako ataupun uang tunai hingga saat ini, meskipun para tetangganya mayoritas sudah mendapatkannya. Sehingga, sejak awal pandemi, Ai tetap ikhtiar berjualan meskipun hasilnya tak seberapa.

"Kalau sekarang-sekarang sih tiap hari ada aja yang beli walaupun enggak banyak. Karena mungkin orang luar kota mah belum tahu kalau Ciater sudah dibuka," jelasnya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers