web analytics
  

26 Agustus 1883, Letusan Krakatau Membunuh Lebih dari 30.000 Jiwa

Rabu, 26 Agustus 2020 14:59 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Umum - Nasional, 26 Agustus 1883, Letusan Krakatau Membunuh Lebih dari 30.000 Jiwa, Letusan krakatau,peristiwa hari ini,Sejarah Hari Ini,sejarah

Litografi letusan Krakatau. (Domain Publik/Parker & Coward)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM Letusan Gunung Krakatau tahun 1883 merupakan letusan gunung paling mematikan kedua sepanjang masa. Rentetan bencana yang disebabkan oleh gunung ini mulai memuncak pada Minggu, 26 Agustus 1883.

Saat itu, Pulau Krakatau terletak di Selat Sunda sebagai bagian kepulauan Indonesia. Aktivitas-aktivitas volkanik yang terjadi di dalam gunungnya diakibatkan oleh subduksi lempeng Indo-Australia.

Sebelum gunung meletus dan menciptakan kaldera bawah laut, Pulau Krakatau memiliki luas 45 km2.  Ada 3 pulau yang berhubungan dengan Krakatau saat itu: Perboewatan, Danan, dan Rakata.

Aktivitas volkanik Krakatau sudah mulai tercatat pada Mei 1883. Saat itu, kapal perang Jerman, Elizabeth, melaporkan melihat awan-awan debu di atas puncak Krakatau. Diperkirakan, tinggi awan debu itu mencapai 9,6 km.

Selama 2 bulan, kapal-kapal komersil dan wisata datang ke Selat Sunda untuk mendengar suara petir dan awan-awan berpijar. Penduduk di sekitar pulau menyelenggarakan festival-festival untuk merayakan kembang api alam.

Tanpa mereka sangka, kembang api alam itu adalah pertanda bencana besar yang datang.

Rentetan bencana

Pukul 12.53 tanggal 26 Agustus, letusan pertama erupsi muncul. Erupsi itu mengeluarkan gas panas dan batu-batu 24 km di udara, di atas Pulau Perboewatan. Batu-batu erupsi itu dipercaya telah menghalangi saluran magma sehingga menimbulkan tekanan besar di bawah.

Tekanan itu membuat Krakatau meletus 4 kali pada 27 Agustus pagi.

Letusannya begitu dahsyat hingga terdengar sampai Perth, Australia, 4.500 km jauhnya.

Letusan dahsyat itu bukan hanya menghilangkan Perboewatan dan Danan, melainkan juga membawa tsunami setinggi 41 m ke desa-desa pinggir Selat Sunda. Lebih dari 30.000 jiwa meninggal akibat tsunami ini.

Bukan hanya akibat tsunami, gas panas yang dihasilkan Krakatau pun membunuh ribuan jiwa lainnya.

Akibat letusan ini, suhu dunia turun ,2 derajat Celsius selama 5 tahun. Selama 13 hari pertama, lapisan sulfur dioksida dan gas-gas lainnya melapisi bumi, menghalangi terangnya sinar matahari.

Setelah menghilang selama puluhan tahun, gunung yang baru muncul dari bawah laut, tempat dahulu Krakatau berada. Pada tahun 1927, Gunung Anak Krakatau menempati daerah gunung pendahulunya.Sampai saat ini, Anak Krakatau tercatat aktif aktivitas volkaniknya. Tahun 2018, erupsinya menyebabkan tsunami yang menelan 426 korban jiwa. Tahun 2020, erupsinya mulai tercatat kembali. (Farah Tifa Aghnia)

 

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers