web analytics
  

Kosmetik Bebas Air, Salah Satu Solusi Selamatkan Lingkungan

Rabu, 26 Agustus 2020 12:04 WIB M. Naufal Hafizh
Gaya Hidup - Sehat, Kosmetik Bebas Air, Salah Satu Solusi Selamatkan Lingkungan, Kesehatan,Lingkungan,Kosmetik

Berkat kebangkitan clean beauty, selain banyak dicari, kosmetik bebas air juga memiliki beberapa keunggulan. (Pexels/Gustavo Fring)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Banyak produk kecantikan mengandung air yang mungkin erat kaitannya dengan lingkungan. Berkat kebangkitan clean beauty, alternatif kosmetik bebas air pun banyak dicari. Dirangkum dari Vogue, Sabtu (22/8/2020), begini dampak kosmetik berbasis air terhadap lingkungan serta apakah produk bebas air (waterless) menjadikannya ramah lingkungan.

Masalah Produk Berbasis Air

Shanu Walpita, pendiri Futurewise Studio di Inggris mengatakan, air adalah salah satu bahan paling umum yang ditemukan dalam produk kecantikan. Air dikenal karena sifat spesifiknya yang melarutkan bahan padat atau bahan aktif gas.

Saat ini, sebagian besar produk dirancang agar menguntungkan dan tahan lama. Untuk tujuan ini, air sering digunakan sebagai pengisi karena murah dan mencegah kontaminasi. Namun, air juga menjadi tempat berkembang biaknya kuman.

“Ini fakta sederhana di mana ada air, di sana juga ada bakteri,” kata Susanne Langmuir, pendiri dan CEO merek perawatan kulit bebas air aN-hydra di Toronto, Kanada.

Menurutnya, produk berbasis air tidak lagi stabil dalam penyimpanan tanpa tambahan pengawet yang membunuh bakteri dan mengurangi pertumbuhan mikroba. "Sama seperti makanan yang perlu disimpan di lemari es,” katanya.

Air tampaknya menjadi bahan yang menghidrasi, tetapi produk berbasis air ternyata dapat mengeringkan kulit dan rambut karena air dapat menguap. Terkadang kulit dapat bereaksi terhadap pengemulsi sintetis, wewangian, dan pewarna saat air menguap.

“Yang paling ekstrem, ini bisa menyebabkan kulit berjerawat dan iritasi kulit yang meradang, ” tutur Walpita.

Selain berdampak buruk bagi tubuh, menambahkan air ke produk juga bisa berbahaya bagi lingkungan. Dilaporkan ada lebih dari 8,3 miliar ton plastik di bumi. Industri kecantikan menjadi pemimpin, sebab produk memiliki kemasan yang kerap sulit atau tidak dapat didaur ulang.

Dengan menambahkan air sebagai pengisi produk, efektivitas produk secara keseluruhan berkurang. Semakin kurang efektif suatu produk, semakin banyak orang mengonsumsinya. Semakin banyak produk yang dikonsumsi, semakin banyak kemasan yang dibutuhkan, kemudian menciptakan lebih banyak pencemaran.

Munculnya Waterless Beauty

Konsep waterless beauty awalnya dimulai di Korea Selatan dan mulai mendapat perhatian di barat pada tahun 2015. Konsep ini dapat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk serum, masker, bedak, pembersih, dan dapat digabungkan dalam perawatan kulit, rambut hingga make-up.

“Konsep bebas air pada awalnya tentang meningkatkan potensi produk perawatan kulit agar memiliki khasiat yang lebih besar pada kulit,” ujar Glendean Rehvan, direktur perawatan kulit di In-Trend, Inggris.

Saat ini waterless beauty mewakili keinginan akan formula yang bersih, travel-friendly, dan tidak beracun di tengah meningkatnya masalah keberlanjutan lingkungan hidup. Tren ini kemudian naik di tengah kesadaran konsumen arus utama dan pasar.

Perlu diperhatikan pula, produk bebas air bisa lebih mahal karena lebih terkonsentrasi. Mereka juga dianggap berkualitas lebih tinggi karena mengandung bahan-bahan yang bersumber lebih etis. Namun, hal ini tidak boleh membuat konsumen patah semangat. Semakin tinggi konsentrasinya, semakin sedikit produk yang dibutuhkan, dan semakin lama produk tersebut bertahan.

Bebas Air Bukan Solusi Akhir

Meski produk bebas air dianggap lebih berkelanjutan, ini bukanlah solusi total. Air terlibat dalam semua tahapan pembuatan produk mulai dari pemanenan dan pemrosesan bahan mentah, hingga formulasi, finishing, pengemasan, transportasi, dan penggunaan konsumen.

Ketika mempertimbangkan kebenaran ini, sebenarnya tidak ada yang namanya produk kecantikan bebas air.

“Air pasti akan menjadi barang mewah. Faktanya, 2/3 populasi dunia akan mengalami kekurangan air pada tahun 2025, karena hanya 1% dari pasokan merupakan air tawar yang terakses,” kata Walpita.

Menurutnya, krisis global ini mendesak untuk meningkatkan produk bebas air. Bagi Walpita, kecantikan bebas air bukan sekadar tren. “Dengan cadangan air yang menipis, konsumen membuat perubahan gaya hidup yang positif untuk planet kita,” ujarnya. (Ventriana Berlyanti)

Sumber: Vogue
Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers