web analytics
  

Asal Mula Kampung Tajur Purwakarta

Selasa, 25 Agustus 2020 16:39 WIB Dede Nurhasanudin
Gaya Hidup - Wisata, Asal Mula Kampung Tajur Purwakarta, kampung tajur,Purwakarta,Gunung Burangrang,desa wisata

Kampung Tajur Purwakarta (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)

PURWAKARTA, AYOBANDUNG.COM--Kampung Tajur berlokasi di Desa Pasanggrahan Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta merupakan wisata edukasi mengedepankan kearifan lokal.

Bermalam di rumah penduduk sembari menikmati suasana alam perkampungan yang asri membuat siapa saja akan merasakan kenyamanan selama berada di sana.

Memasuki perkampungan ini  suasana desa sangat kentara. Puluhan rumah panggung berbahan dasar kayu dan bambu tersusun rapi menghiasi kampung itu.

Rumah tersebut, sangat cocok dipadukan dengan udara dingin kaki bukit Gunung Burangrang.

Jauh sebelum menjadi destinasi wisata, Kampung Tajur ternyata sudah ada sejak puluhan tahun silam 

Pjs Kepala Desa Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta Agus Koswara, berdasarkan sejarah Kampung Tajur ada sekitar 1830.

Pada waktu itu ada rumah penduduk bernama Kampung Patrol, Sukamanah dan Sukamanggu.

Namun setelah itu kedua kampung tersebut dikosongkan kemudian bergeser ke sini dinamai Kampung Tajur.

"Ada Kampung Tajur pada saat Eyang Pandita ke sini menyebarkan agama Islam," ujar dia, Selasa (25/8/2020).

Seiring berjalannya waktu, Kampung Tajur mengalami perubahan terutama setelah diresmikan sebagai tempat wisata 2004 oleh Dedi Mulyadi Wakil Bupati Purwakarta pada waktu itu banyak wisatawan mulai berdatangan.

Bahkan pada 2017 perwakilan dari 24 negara berkunjung merasakan suasana kehidupan di Kampung Tajur.

"Pada 2004 itu pemerintah memberikan bantuan berupa perbaikan rumah dan cat diseragamkan yaitu hitam putih, dengan mempertahankan rumah panggung," kata Agus.

Saat ini Kampung Tajur menjadi salah satu wisata pedesaan unggulan di Kabupaten Purwakarta yang mampu menyedot perhatian wisatawan.

Hal itu menjadi mata pencaharian tambahan warga setempat disamping bertani.

"Permalam Rp200.00-Rp250.000, tapi sebetulnya pemilik rumah tidak menentukan tarif, seikhlasnya saja," ucap Agus.

Namun setelah merebaknya wabah virus corona Kampung Tajur tutup sementara. Otomatis warga setempat pun tidak mendapatkan penghasilan dari sewa rumah.

"Masih tutup karena kegiatannya bersentuhan langsung, jadi khawatir ada penyebaran virus," ujar dia.

Sementara, salah seorang warga setempat, Ati (60) mengaku tidak menerima wisatawan sejak beberapa bulan terakhir.

Penghasilan tambahan biasa diperoleh mendadak hilang dan dia tak bisa berbuat banyak selain memanfaatkan hasil tani untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Sudah lama tak menerima kunjungan, 2 kamar biasa dipakai wisatawan juga kosong saja. Sebelum ada corona, yah lumayan mendapat penghasilan tambahan, sekarang tidak ada," ujar nenek 11 cucu itu.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers