web analytics
  

Suka Minum Kopi? Awas Terkena 5 Efek Samping Kafein Ini

Selasa, 25 Agustus 2020 14:07 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Gaya Hidup - Sehat, Suka Minum Kopi? Awas Terkena 5 Efek Samping Kafein Ini, Kopi,Kafein,kelelahan,masalah pencernaan,Insomnia,Cemas

Kafein dosis tinggi memiliki efek samping yang tidak menyenangkan jika dikonsumsi secara konstan. (Pexels/Porapak Apichodilok)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM —  Kopi dan teh adalah minuman yang sehat. Sebagian besarnya mengandung kafein, zat yang dapat meningkatkan suasana hati, metabolisme, dan kinerja mental serta fisik. Namun, kafein dosis tinggi mungkin memiliki efek samping yang tidak menyenangkan, bahkan berbahaya.

Dilansir dari Healthline, Senin (24/8/2020), gen seseorang memiliki pengaruh besar pada toleransi kafein. Beberapa orang dapat mengonsumsi lebih banyak kafein tanpa mengalami efek negatif. Namun, individu yang tidak terbiasa mungkin mengalami beragam gejala setelah mengonsumsi kafein.

Dirangkum dari Healthline, berikut 5 efek samping dari terlalu banyak konsumsi kafein.

1. Kecemasan

Kafein dalam dosis rendah hingga sedang dapat meningkatkan kewaspadaan. Namun, konsumsi kafein dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan kecemasan atau kegelisahan. Asupan harian yang sangat tinggi, sekitar 1.000 mg atau lebih per hari, menyebabkan kegugupan, gelisah, dan gejala serupa pada kebanyakan orang.

Gangguan kecemasan yang diinduksi oleh kafein juga masuk dalam 4 sindrom terkait kafein yang terdaftar dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), diterbitkan oleh American Psychiatric Association.

Pantau respons tubuh sendiri untuk menentukan seberapa banyak dapat mentolerisasi kafein. Jika sering merasa gugup atau gelisah, sebaiknya kurangi asupan kafein sehari-hari.

2. Insomnia

Kemampuan kafein untuk membantu orang tetap terjaga adalah salah satu manfaat yang orang-orang sukai. Di sisi lain, terlalu banyak kafein juga menyebabkan sulitnya mendapatkan tidur restoratif yang cukup.

Meski kopi dan teh adalah sumber kafein yang paling terkonsentrasi, kafein juga banyak terkandung dalam soda, kakao, minuman energi, dan beberapa jenis obat. Efek kafein yang membuat terjaga akan tetap ada selama rata-rata 5 jam. Jangka waktunya dapat berkisar dari 1,5 hingga 9 jam, tergantung pada individu.

Hasil ini menunjukkan bahwa penting untuk memperhatikan jumlah dan waktu kafein untuk mengoptimalkan waktu istirahat. Misalnya, kurangi konsumsi kafein pada sore hari untuk menghindari masalah tidur.

3. Masalah Pencernaan

Efek pencahar kopi telah dikaitkan dengan pelepasan gastrin, hormon yang diproduksi perut yang mempercepat aktivitas di usus besar. Terlebih lagi, kopi tanpa kafein telah terbukti menghasilkan respons yang serupa.

Namun, kafein juga merangsang pergerakan usus dengan meningkatkan gerakan peristaltik, kontraksi yang memindahkan makanan melalui saluran pencernaan. Mengingat efek ini, tidak mengherankan asupan kafein dalam dosis besar dapat menyebabkan buang air besar atau bahkan diare pada beberapa orang. Sebaiknya, kurangi jumlah yang diminum atau beralih ke teh jika mengalami masalah pencernaan.

4. Kecanduan

Terlepas dari semua manfaat kesehatan kafein, tidak dapat disangkal bahwa itu dapat membentuk kebiasaan. Konsumsi konstan kafein dapat menyebabkan ketergantungan psikologis atau fisik, terutama pada dosis tinggi.

Selain itu, frekuensi asupan kafein juga berperan dalam ketergantungan. Tanpa kafein selama beberapa jam dapat menyebabkan gejala penarikan diri secara psikologis atau fisik, pada mereka yang mengonsumsi kafein dalam jumlah besar setiap hari.

Meski senyawa dalam kafein tampaknya tidak benar-benar menyebabkan kecanduan, jika secara teratur minum banyak kopi atau minuman berkafein lainnya, ada kemungkinan besar seseorang akan bergantung pada efeknya.

5. Kelelahan

Kopi, teh, dan minuman berkafein lainnya diketahui dapat meningkatkan energi. Namun, secara tidak langsung juga dapat menyebabkan kelelahan saat efeknya hilang.

Untuk memaksimalkan manfaat kafein dan menghindari timbulnya kelelahan, konsumsi kafein dalam dosis sedang daripada dosis tinggi. (Ventriana Berlyanti)

Sumber: Healthline
Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers