web analytics
  

Curhat Petani Ciwidey: Pusing Pesanan Seret Akibat Pandemi Covid-19

Senin, 24 Agustus 2020 19:58 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Bandung Raya - Soreang, Curhat Petani Ciwidey: Pusing Pesanan Seret Akibat Pandemi Covid-19, petani ciwidey,Pandemi Covid-19

Petani Ciwidey. (Eneng Reni)

CIWIDEY, AYOBANDUNG.COM -- Sejak pagi buta, aktivitas masyarakat di Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung tak terlihat berbeda dari biasanya. Mayoritas masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hasil tani sayuran itu telah sibuk untuk memanen hasil ladang.

Dengan camping atau topi, sepatu bot, dan sarung tangan, mereka cekatan memanen sayuran untuk segera dipasarkan. Memasuki waktu siang, hasil panen biasanya mereka kumpulkan untuk dijual ke pedagang lokal atau ke pasar hingga didistribusikan ke sejumlah daerah.

Namun sejak pandemi virus Corona menghantam Indonesia pada awal Maret lalu, roda perekonomian para pertanian hortikultura di kecamatan Ciwidey sedikit tersendat. Kementerian Pertanian mengklaim kepastian stok bahan baku pokok pangan aman hingga Agustus 2020. Sayangnya, dari semua kampanye itu tidak ada informasi dampak wabah covid-19 terhadap nasib perekonomian para petani.

Realitasnya, para petani hortikultura menjerit karena hasil panen yang melimpah tidak dibarengin dengan besarnya permintaan pasar saat masa pandemi. Kendala para petani ini terletak pada distribusi hasil panen yang terhambat sejak pembatasan sosial skala besar (PSBB). Hal ini menjadi salah satu pemicu yang mengancam keberlangsungan usaha pertanian.

Petani sayuran Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Ayi (55) mengatakan penurunan omzet terjadi sejak diberlakukannya pembatasan pasar akibat penyebaran covid-19. Imbasnya sejumlah konsumennya membatasi pemesanan hingga lebih dari setengahnya.

"Turun semua sayuran semua, lemah lah. turunnya setengahnya, ada 60%-an Turunnya drastis," kata Ayi saat berbincang dengan Ayobandung.com.

Ayi yang biasanya memasok sayuran ke sejumlah pasar induk di Jawa Barat hingga Sumatera itu juga kian meringis lantaran keterbatasan distribusi hasil panennya. Bagaimana tidak? Dirinya kini hanya bisa menyuplai ke satu pasar lantaran adanya penurunan permintaan.

"Biasanya bapak kirim ke Sukabumi, Cipanas, Lampung, Caringin, sekarang cuman Banjaran aja. Makanya turun banget karena cuma satu pasar," katanya.

Untuk upah pekerja dalam sehari, Ayi biasanya mengeluarkan ongkos Rp150.000 - Rp120.000 per orang.  Namun setelah pandemi, upah para pekerja pun ikut terkikis. Ayi mengaku, biaya operasional yang tidak sebanding dengan harga jual, hingga penurunan omzet membuat upah para buruh taninya ikut menyusut.

"Karena pemasaran juga lagi menurun omzetnya, upah gaji juga menurun. Biasanya per orang bisa Rp150.000 atau Rp120.000 per hari, sekarang jadi di bawah, Rp100.000 sampai Rp70.000. Sekarang rata-rata cuman dapat Rp80.000" katanya.

Ayi berharap, pandemi Covid-19 segera berakhir agar roda perekonomian, khususnya di sektor pertanian bisa kembali stabil. "Pengin mah stabil lagi tapi gimana lagi kondisinya kayak gini, yaudah saya jalani aja tiap hari," katanya.

Hal senada disampaikan Agus, tengkulak sayur Desa Lebak Muncang yang biasa memasok sayurannya ke sejumlah pasar mengalami kondisi serupa. Dia mengaku pasokan ke sejumlah pasar terhenti saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat dihentikan langganannya.

"Untuk saya sendiri sebenernya ganggu juga. Apalagi dari segi sayuran sekarang jadi kurang yang membelinya. Kalau sebelum Covid banyak pesanan, tapi setelah ada Covid jadi dikit," kata Agus.

Selain itu, Agus juga mengatakan, jadwal operasional pasar yang biasanya 24 jam, kini dibatasi hanya setengah hari. Terlebih, distribusi barang yang terhambat hingga kini belum pulih sepenuhnya meski kebijakan PSBB telah dicabut di sejumlah wilayah.

"Perbandingannya hampir 50% itu penurunannya. Untuk saya mah lebih baik normal lagi karena kalau kondisi gini mah banyak kerugiannya buat para petani," katanya.

Deden (33), buruh tani sayur di Desa Wisata Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, mengaku saat pandemi Covid-19 produksi sayuran dari tingkat petani sangat melimpah namun menjualnya sangat sulit, harga pun jatuh. Akibatnya banyak petani yang sedikit merugi karena harga ditingkat petani ikut merosot.

"Kalau saya mah yang bagian ke pasarnya juga, jadi tahunya karena ngaruh banget, sekarang penurunannya juga parah. Langganan biasanya minta banyak, sekarang jadi ngurangin," katanya.

Deden juga mengatakan, petani masih tidak bisa leluasa mendistribusikan barang ke pasar, karena keterbatasan jam operasional pasar. Padahal jika tidak segera dijual, sayuran cepat membusuk.

"Kondisi saat ini sedang sulit, dibatasi, kios di pasar hanya buka setengah hari akibat corona. Karena tak bisa dijual, otomatis sayuran lebih lama tersimpan di gudang karena gak ada yang pesan," ujarnya.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers