web analytics
  

Pesan Moral dalam Film “Tilik”

Senin, 24 Agustus 2020 16:46 WIB Netizen Sam Edy Yuswanto
Netizen, Pesan Moral dalam Film “Tilik”, Film Tilik,Bu Tejo,ravanaca films

Film Tilik (Tangkapan Layar)

Sam Edy Yuswanto

Penulis lepas, tulisannya tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional.

AYOBANDUNG.COM--Film pendek berbahasa Jawa berjudul “Tilik” karya Wahyu Agung Prasetyo yang diproduksi oleh Ravacana Films saat ini tengah menjadi perbincangan banyak orang di media sosial. 

Pasalnya, kisah yang sebenarnya sangat sederhana dalam film tersebut nyatanya dikemas dengan begitu memikat dan mampu mewakili karakter sebagian masyarakat kita.

Terlebih sosok bernama Bu Tejo, salah satu pemeran antagonis dalam film tersebut yang begitu menyedot perhatian publik karena karakternya yang sukses bikin penonton merasa geregetan. 

Karakter Bu Tejo selain suka menang sendiri juga gemar menebar gosip dan membicarakan aib orang lain. Padahal saat kehidupan keluarga Bu Tejo dikulik, ia langsung tidak terima dan marah-marah.

Menurut saya, film yang sudah dilihat oleh 10 juta penonton melalui Youtube tersebut memang sangat menarik dan menggelitik. 

Bahkan banyak adegan dan percakapan yang bikin penonton tertawa dan merasa sangat terhibur. Kisah bermula ketika Bu Lurah tengah sakit dan harus dirawat secara intensif di rumah sakit.

Para ibu lantas bersepakat untuk “tilik” (menjenguk) Bu Lurah. Adalah Yu Ning, seorang ibu yang memiliki karakter arif dan bijaksana, yang berinisiatif untuk “tilik” Bu Lurah di rumah sakit. 

Lantas disepakati oleh ibu-ibu yang lainnya. Berhubung bus carteran sedang keluar (dipakai) semua, maka satu-satunya jalan adalah mencarter (menyewa) truk milik pria bernama Gotrek.

Singkat cerita, para ibu itu pun berangkat dari kampung menuju rumah sakit yang lumayan jauh di daerah perkotaan. Di sinilah menariknya, di tengah perjalanan, mereka mengalami banyak hambatan. 

Misalnya, ketika mendadak truk mogok dan harus didorong oleh para ibu, saat truk diberhentikan dan ditilang polisi, saat Bu Tejo mendadak kebelet pipis dan akhirnya turun di musala, hingga ada ibu yang muntah-muntah  atau mengalami mabuk kendaraan.

Yang paling menyedot perhatian penonton adalah percakapan yang begitu seru dan panjang saat rombongan ibu-ibu itu berada di bak truk yang terbuka. Percakapan tersebut didominasi oleh Bu Tejo yang gemar membicarakan keburukan atau aib orang lain. 

Adalah Dian, gadis cantik di kampung mereka, yang menjadi bahan obrolan Bu Tejo dan sebagian ibu-ibu lain. Terlebih, Dian adalah orang yang ikut mengantar Bu Lurah ke rumah sakit bareng Fikri, anak semata wayang Bu Lurah yang sudah dewasa. Tak pelak, Dian pun dianggap memiliki hubungan yang lebih dari sebatas teman dengan Fikri.

Dengan gencarnya Bu Tejo menebarkan cerita yang tidak-tidak seputar kehidupan Dian yang menurutnya adalah gadis yang tidak benar, suka mengganggu para lelaki, para suami, dan seterusnya. 

Dari sekian banyak ibu-ibu, memang ada yang pro dan ikut memanas-manasi obrolan Bu Tejo. Namun ada juga yang berusaha menengahi dan bersikap bijaksana. Dia adalah Yu Ning, sosok ibu yang selalu berupaya cek dan kroscek terlebih dahulu ketika ada kabar berita yang belum terbukti kebenarannya.

Maka, tak heran bila Bu Tejo selalu berseberangan pendapat dengan Yu Ning, bahkan mereka berdua terlibat adu mulut yang begitu hebat dan baru berhenti saat truk berhenti mendadak karena ditilang polisi.

Hal yang cukup menarik perhatian penonton adalah sikap Bu Tejo yang ternyata diam-diam memiliki misi lain. Dia berusaha mengenalkan sosok suaminya, Pak Tejo, yang rencananya akan mencalonkan diri sebagai lurah di kampungnya, menggantikan Bu Lurah yang kondisinya kini sering sakit-sakitan. Bu Tejo bahkan memberikan amplop berisi uang khusus buat Gotrek, supir truk tersebut.

Menurut saya (terlepas dari ada yang suka dan tidak suka dengan ditayangkannya film “Tilik”) banyak sekali pesan yang bisa dipetik dari film berdurasi setengah jam lebih sedikit tersebut. Di antaranya adalah; jangan mudah kita terhasut oleh kabar hoaks, berita yang belum jelas kebenarannya, jangan mau menerima uang suap, dan jangan gemar menebar fitnah serta aib sesama.

Kita semua tentu mengerti dan memahami bahwa menebar fitnah dan aib adalah termasuk amal perbuatan yang dilarang dalam agama. “Membuka aib orang lain bisa jadi membuat kita menyandang status penyebar keburukan” begitu kata Teddi Prasetya Yuliawan dalam bukunya yang berjudul #NasihatDiri untuk Para Pekerja (2015).

Dalam buku tersebut, Teddi juga memberikan kiat (apa yang harus kita perbuat) saat melihat aib orang lain. Pertama, tutupi. Kedua, ingatkan semampu kita dengan cara yang baik dan rahasia.

Jika muncul godaan untuk mengumbarnya, ingatkan diri kita baik-baik; bahwa kita pun mungkin saja terjerumus pada kesalahan yang sama. Pada kondisi tersebut apa yang kita harapkan dari orang lain? Tentu kita sangat berharap orang lain bisa menutupi aib diri kita, bukan? 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers