web analytics
  

Terpukul Pandemi, Begini Kisah Getir Pedagang Oleh-oleh di Kawah Putih

Minggu, 23 Agustus 2020 22:03 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Gaya Hidup - Wisata, Terpukul Pandemi, Begini Kisah Getir Pedagang Oleh-oleh di Kawah Putih, Kawah Putih,COVID-19,corona,Pedagang Oleh-oleh

Pedagang oleh-oleh di Kawah Putih (Ayobandung.com/Eneng Reni)

RANCABALIAYOBANDUNG.COM -- Sembari berdiri menebar sapa, Deris, pedagang oleh-oleh di area wisata Kawah Putih, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung tak pernah lelah menawarkan oleh-oleh khas Ciwidey kepada pengunjung.

Tempat dirinya berjualan memang menjadi tempat perhentian para pengunjung saat turun dari angkutan wisata, ontang-anting.

Di tengah rintik hujan siang itu, sayangnya hanya sedikit orang yang datang untuk sekadar menawar dagangannya. Mereka menyibukan diri untuk menyelamatkan tubuh dan bajunya agar tak terkena derasnya rintik hujan kala itu.

"Teh, a, stoberi segarnya teh, Rp5.000 saja, mangga, teh, a, sambil berteduh," ucap perempuan berusia 37 tahun itu seraya menawarkan, Sabtu (15/8/2020) pekan lalu.

Melihat tak ada satu pun pengunjung yang menghampiri kiosnya, Deris pasrah. Perempuan berkulit kuning langsat itu memilih kembali menemani sang buah hati yang tengah bermain di dalam kios kecilnya.

Virus Corona memang memberikan pukulan berat bagi mereka yang mencari nafkah. Bukan hanya pegawai swasta atau pekerja buruh, pekerja sektor informal layaknya pedangan kecil yang menggantungkan hidupnya di sektor pariwisata.

Malang tak dapat dibendung, saat objek wisata tempat Deris mengais rezeki ditutup April lalu, roda perekonomiannya seakan dibuat lumpuh total. Dia dan suami yang bergantung dengan mengandalkan pemasukan dari menjajakan oleh-oleh harus menelan pil pahit sebab berbulan-bulan tak bisa berjualan.

"Untuk penghasilan jatuh, jelas pas tutup mah, karena ini jadi usaha utama, enggak ada sampingan. Contoh pas ada PSBB (pembatasan sosial berskala besar) tutup kemarin itu total tidur saja di rumah, total, enggak ada pemasukan," kata Deris saat berbincang dengan Ayobandung.com.

Ibu dua anak itu mengaku sejak pandemi Covid-19 ini, dia dan suami begitu kesulitan mencari penghasilan sehari-hari. Pekerjaan menjadi pekerja serabutan di kebun sayur orang pun tidak cukup untuk menghidupi biaya hidup keluarga.

"Kalau buat masak ya kita di pas-pasin dari kebun sedikit. Tapi kebanyakan tidur aja di rumah, karena suami juga ikut jualan di sini. Makanya dampaknya enggak main-main," kata Deris.

Setali tiga uang, sejak kembali dibukanya objek wisata Kawah Putih pada 13 Juni lalu, tak banyak pemasukan yang bisa Deris dikantongi. Meski pemerintah daerah tidak memberlakukan lagi PSBB dan memasuki adaptasi kebiasaan baru (AKB) untuk sektor pariwisata di Kabupaten Bandung. Namun jualannya tetap melempem lantaran geliat kunjungan wisatawan Kawah Putih belum pulih sepenuhnya.

"Bukan turun lagi, tapi terjun bebas, jauh, jauh banget. Sekarang omzet misalnya dari yang laku di masa normal bisa 100%, sekarang 50% juga enggak," ucap Deris.

Perempuan yang tinggal di jalan Raya Batu Tunggul, Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung itu bahkan tak bisa menutupi kesedihannya bila membicarakan lesunya penjualan.

"Dari perhitungan jualan kalau 1 minggu, juga kadang sehari bisa ada yang beli, sehari bisa enggak ada sama sekali," ucap Deris.

Untuk produk jualannya, Deris dan sesama rekan penjualan oleh-oleh lain menawarkan produk nyaris sama, mulai dari stroberi segar, stroberi kering, keripik, hingga dodol olahan stroberi. Namun alih-alih laris manis di masa AKB, Deris harus menelan kegetiran lantaran tak banyak untung yang bisa dia kantongi.

"Nyetok kalau hari biasa sebelum ada Covid-19, 50 produk oleh-oleh sehari kadang bisa keluar tapi kalau sekarang ada keluar ada enggak. Makanya penginnya, Corona cepat hilang, yang usaha biar stabil lagi, normal lagi secara biasa kalau normal lagi enak," ujarnya.

Tak jauh dari lokasi Deris berjualan, pemandangan serupa terlihat dari kios Yanti Effendi. Ibu satu anak itu sesekali termenung di bangku plastik seraya berharap ada banyak pengunjung yang memborong barang dagangannya.  Perempuan berusia 30 tahun itu menjajakan kaos khas Bandung hingga souvenir yang biasanya diburu wisatawan Kawah Putih.

"Selama 10 tahun jualan kondisi ini pertama kali, berat. Apalagi waktu tutup, enggak ada penghasilan sampingan," kata Yanti meluapkan isi hatinya.

Yanti juga mengakui, meski AKB telah berlaku, omzet penjualan kaos dan suvenirnya melempem serta jauh dari kata “marema”. Hal itu dikatakannya dampak dari situasi pandemi virus Corona saat ini.

Dia yang berasal dari Kampung Cibodas, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali itu mengakui kondisi seperti ini bukanlah hal yang diinginkannya.

Namun meski masih sepi dari para pembeli, Yanti mengaku akan tetap bertahan untuk berjualan. Dia juga ingin usahanya kembali berjalan semestinya sehingga mendapatkan pemasukan untuk menopang biaya hidup keluarga.

"Pernah juga sehari enggak ada yang keluar, atau cuman bisa dapat Rp50.000, Rp100.000 sehari, itu habis buat jajan anak. Sebelum Covid-19, 100 potong bisa keluar sehari, kalau sekarang, paling 10, 20 potong. Paling banyak 30 biji itu juga kalau libur akhir pekan," ujarnya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

terbaru

Terdampak Pandemi, Saung Angklung Udjo Terancam Tutup

Wisata Jumat, 22 Januari 2021 | 19:44 WIB

Saung Angklung Udjo di Kota Bandung menjadi salah satu objek wisata kebudayaan Sunda yang turut terdampak pandemi Covid-...

Gaya Hidup - Wisata, Terdampak Pandemi, Saung Angklung Udjo Terancam Tutup, Saung Angklung Udjo,Terdampak Pandemi Covid-19

Kampung Cai Rancaupas Bangun Penginapan Berkonsep Boks

Wisata Minggu, 3 Januari 2021 | 20:04 WIB

Kawasan wisata Ciwidey memiliki sejumlah tempat penginapan pelbagai konsep, mulai dari hotel seperti biasa, sampai hotel...

Gaya Hidup - Wisata, Kampung Cai Rancaupas Bangun Penginapan Berkonsep Boks, Wisata Rancaupas,Wisata Ciwidey,Kampung Cai Rancaupas

Musim Hujan, Kawah Ratu Tangkuban Parahu Makin Eksotis

Wisata Jumat, 1 Januari 2021 | 16:23 WIB

Musim Hujan, Kawah Ratu Tangkuban Parahu Makin Eksotis

Gaya Hidup - Wisata, Musim Hujan, Kawah Ratu Tangkuban Parahu Makin Eksotis, Kawah Ratu,Kawah Domas,Gunung Tangkuban Parahu,Lembang,wisata

Wisata Gunung Galunggung Ditutup, Ini Alasannya

Wisata Rabu, 30 Desember 2020 | 20:17 WIB

Tim Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Tasikmalaya menutup sementara objek wisata Gunung Galunggung di Kabup...

Gaya Hidup - Wisata, Wisata Gunung Galunggung Ditutup, Ini Alasannya, Wisata Gunung Galunggung,Gunung Galunggung Ditutup,Polres Tasikmalaya Kota

10 Wisata Alam di Garut yang Menarik Dikunjungi

Wisata Senin, 28 Desember 2020 | 23:25 WIB

Ternyata, Garut tidak hanya terkenal dengan wisata air terjun atau curug, serta pantainya yang indah dan memesona saja....

Gaya Hidup - Wisata, 10 Wisata Alam di Garut yang Menarik Dikunjungi, wisata alam Jabar,Wisata Alam Garut,Gunung Papandayan

Pandemi Ubah Perilaku Masyarakat Pilih Tempat Nginap

Wisata Minggu, 27 Desember 2020 | 17:47 WIB

Tempat menginap yang ramai justru kurang diminati oleh masyarakat.

Gaya Hidup - Wisata, Pandemi Ubah Perilaku Masyarakat Pilih Tempat Nginap, liburan saat pandemi,Libur Natal dan Tahun Baru 2021,Wisata Bandung,Wisata Kabupaten Bandung

Malam Tahun Baru 2021, Ranca Upas Tutup, Glamping Lake Side Tetap Buka

Wisata Minggu, 27 Desember 2020 | 17:21 WIB

Dua objek wisata ikonik di Kabupaten Bandung, yakni Glamping Lake Side dan Ranca Upas memilih kebijakan berbeda saat mal...

Gaya Hidup - Wisata, Malam Tahun Baru 2021, Ranca Upas Tutup, Glamping Lake Side Tetap Buka, Glamping Lake Side,Ranca Upas,Wisata Kabupaten Bandung,objek wisata kabupaten bandung,Wisata Bandung

Kini Warga Bisa Menikmati Kandang Singa Terbuka di Bandung Zoo

Wisata Sabtu, 26 Desember 2020 | 13:20 WIB

Ada fasilitas baru yang ditawarkan Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo di penghujung tahun ini. Sejak 20 Desember 20...

Gaya Hidup - Wisata, Kini Warga Bisa Menikmati Kandang Singa Terbuka di Bandung Zoo, Kebun Binatang Bandung,Bandung Zoo,Zona Afrika,adaptasi kebiasaan baru

artikel terkait

dewanpers