web analytics
  

Membangkitkan Geliat Industri Pariwisata Alam saat Pandemi Covid-19

Minggu, 23 Agustus 2020 16:55 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Bandung Raya - Soreang, Membangkitkan Geliat Industri Pariwisata Alam saat Pandemi Covid-19, Pariwisata Jabar,Wisata Bandung,Pandemi Covid-19,wisata alam

Ilustrasi--Wisata Kawah Putih (Ayobandung.com/Eneng Reni)

RANCABALI, AYOBANDUNG.COM -- Fase normal baru atau New Normal belum mampu memulihkan sektor pariwisata karena beragam kendala. Masa depannya pun masih abu-abu meski pemerintah telah menerapkan fase adaptasi Kebiasaan baru (AKB) pada Juni lalu.

Namun, pemulihan ini belum sepenuhnya berdampak pada industri pariwisata nasional yang terpukul pandemi virus corona. Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat covid-19. Tercatat, industri pariwisata sudah merasakan pukulan pandemi virus corona sebelum pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada 1 April melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020.

Penerapan kebijakan physical distancing memengaruhi kebiasaan berwisata masyarakat di tengah pandemi. Wisatawan kini lebih berhati-hati dan menghindari tempat wisata yang ramai. Di fase AKB pula, wisatawan lebih memilih melakukan perjalanan jarak dekat atau dengan waktu tempuh yang singkat.

Terlebih, sektor pariwisata yang diizinkan untuk dibuka adalah kawasan pariwisata alam yang berada di kabupaten dan kota dalam zona hijau atau zona biru. Sementara zona lain akan diatur sesuai dengan kesiapan daerah serta pengelola kawasan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar Dedi Taufik mengatakan, pembukaan sektor pariwisata dilakukan bertahap sesuai dengan level kewaspadaan dan Peraturan Gubernur (Pergub) Jabar Nomor 46 Tahun 2020. Pembukaan ini dilakukan karena Jabar sudah memasuki level kuning.

Dari 27 kabupaten/kota, beberapa wilayah di Jabar telah berada di zona biru atau hijau. Sesuai dengan aturan gubernur Jawa Barat, yang berada objek wisata di zona biru atau hijau sudah boleh untuk melakukan AKB namun dengan tetap melaksanakan pencegahan penyebaran Covid-19.

Meski kembali bergeliat, adaptasi kebiasaan baru belum bisa memulihkan iklim bisnis pariwisata. Kebijakan pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal pembatasan pengunjung, serta larangan wisatawan luar daerah berkunjung ke objek wisata Jabar sangat berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan. Hal itu dirasakan pengelola objek wisata Kawan Putih, Kabupaten Bandung.

"Memang kunjungan itu berkurang, kurang lebih 50% sejak pembukaan tempat wisata itu 13 Juni kalau tidak salah mulai dibukanya, memang untuk kunjungan apalagi dari mancanegara itu drastis, signifikan sekali kurangnya," katan Humas objek wisata Kawah Putih, Dadang Anting saat ditemui Ayobandung.com.

Dadang menuturkan, objek wisata yang telah menjadi idola wisatawan dari banyak negara itu kini masih tersungkur di titik rendah akibat wabah pandemi corona. Buktinya kunjungan wisata mancanegara (wisman) ke objek wisata di kaki gunung Patuha itu masih nihil sejak dibuka kembali operasional objek wisata.

"Kalau mancanegara sampai saat ini belum ada, paling kunjungan lokal aja padahal untuk menggenjot pendapatan perusahaan kita, itu dari kunjungan mancanegara. Karena tarif tiket masuk mancanegara kan beda, kalau mancanegara Rp75.000 kalau lokal Rp25.000 tiket masuknya," katanya.

Penurunan kunjungan wisman itu bukan omong kosong. Pasalnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyebut, sektor pariwisata telah kehilangan banyak wisatawan selama masa pandemi virus corona. Tahun ini ditargetkan jumlah wisatawan asing ke Indonesia mencapai 16 juta orang. 

Namun, karena adanya wabah virus corona, jumlah wisatawan target wisatawan hanya dipatok 5 juta orang. Padahal, per orang bisa menghabiskan US$1.200 untuk berwisata di Indonesia.

Pemerintah juga memprediksi, potensi kehilangan devisa sektor pariwisata di tahun ini mencapai US$10 miliar, bahkan bisa lebih. Angka itu didapat apabila pandemi virus corona mulai mereda di pertengahan tahun. Namun hingga Pertengahan Agustus 2020, geliat sektor pariwisata nasional belum sepenuhnya pulih.

"Kan kita ngegenjot pemasukan untuk perusahaan itu lewat tiket mancanegara, kalau sekarang jujur, signifikan (penurunannya). Jujur, saya belum pernah lihat turis yang berkunjung, paling kalau ada, itu turis yang sedang punya izin tinggal sementara di Indonesia, bukan turis yang langsung dari luar. Dan itu pun sangat-sangat sedikit," katanya.

Pihaknya mengaku sudah memiliki strategi untuk memulihkan geliat kunjungan wisata di saat new normal Covid-19. Setidaknya ada sejumlah jurus yang disiapkan untuk menggairahkan kembali destinasi wisata tersebut sesuai anjuran pemerintah. Salah satunya penerapan protokol kesehatan, kebersihan dan keamanan terhadap seluruh sektor objek wisata.

"Kita memang dianjurkan untuk seluruh pengunjung yang masuk ke sini sudah disediakan protokol kesehatan seperti tempat cuci tangan, kalau ada yang tidak bawa masker kita kasih. Mobil masuk kita sediakan bilik disinfektan otomatis, alurnya memang seperti itu," katanya.

untuk sopir angkutan umum alias ontang-anting yang mengangkut penumpang dari gerbang menuju lokasi kawah wajib menggunakan protokol kesehatan. Selama AKB, dalam angkutan objek wisata diberikan batas social distancing di setiap kursinya. Setiap mobil yang bisa mengangkut hingga 12 orang hanya boleh untuk 2 orang saja dengan posisi duduk berjarak.

"Untuk sopir angkutan wisata juga kita penuhi standar protokol kesehatan, pakai sarung tangan hingga masker. Untuk naik ke atas tergantung keinginan pengunjungnya. Ada yang pilih naik angkutan karena di sini ada dua pilihan bisa naik angkutan wisata ke pusat kawah atau naik kendaraan pribadi," ujarnya.

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers