web analytics
  

Ajip Rosidi dan Renaisans Sunda

Minggu, 23 Agustus 2020 09:16 WIB Netizen Djasepudin
Netizen, Ajip Rosidi dan Renaisans Sunda, Ajip Rosidi,renaisans sunda,Rancage

Renaisans Sunda karya Ajip Rosidi (Ist)

Djasepudin

Guru (Honorer) SMA Negeri 1 Cibinong, Bogor

AYOBANDUNG.COM--Selama Juli, setelah Usep Romli, Sapardi, kini kita kehilangan Ajip Rosidi. Ragawi beliau memang menyatu dengan bumi. Tetapi, fakta karya, jejak jasa, serta warisan pemikiran tetap abadi untuk diapresiasi.

Mengenang tokoh tidak cukup dengan rangkaian bunga dan ungkapan belasungkawa. Kita dituntut memberdayakan jiwa aktif-kreatif dan kesadaran dalam menghadapi karya. 

Karena “kesadaran” pula yang, menjadi salah satu perhatian almarhum Ajip Rosidi (31 Januari 1938-29 Juli 2020). Kata Ajip Rosidi (AR), sastra Sunda membutuhkan satu dasar kesadaran. Sebab kesadaran adalah salah satu hal yang mutlak diminta semua hasil seni, begitu juga dalam seni sastra. Kesadaran mencipta. Kesadaran sastrawan dalam mereka sastra. Kesadaran memilih serta menggunakan kata dalam tulisannya. Kesadaran terhadap maksud dan tujuan dalam membuat karya sastra (Bébér Layar, 2002). 

Membaca Ajip Rosidi adalah membaca Sunda dari sudut Eropa. Gagasan renaisans Sunda yang dilontarkan Ajip Rosidi serta metodelogi dalam memahami sastra Sunda yang diejawantahkan menjadi penegasnya. 

Menurut Teddi Muhtadin (TM) lewat kritik-kritiknya, AR telah melakukan reposisi peran dan status pengarang Sunda beserta pembacanya. Beberapa pengarang tidak lagi memperoleh status pujangga, beberapa ahli bahasa tidak lagi dipandang sebagai ahli sastra, dan pembaca disangsikan kemampuannya dalam mengapresiasi karya sastra. 

Jejak karya AR setidaknya tergolongkan dalam dokumentasi, penerbitan buku dan majalah; karya sastra prosa puisi, drama; kritik sastra dan esai budaya; serta peristiwa budaya seperti Kongres Internasional Budaya Sunda (KIBS). Semua berjalan-berkelindan dari surat-surat pribadi yang menjadi konsumsi publik, proyek penelitian carita pantun Sunda, hadiah sastra “Rancagé”, hingga menerbikan Ensiklopedi Sunda.

Saking monumental dan berkesinambungan, AR menjadi pusat sastra Sunda. Malah, dominasi AR dalam sastra Sunda nyaris tak tersentuh pengarang dan kritikus Sunda lainnya. Seperti heurin létah alias rikuh jika mengkritis karya-karyanya. Mungkinkah segan karena karyanya yang  bermutu tinggi atau takut dikritik balik?   

Sungguh beralasan penyair Ahda Imran pernah mengingatkan, “Di tangan AR, Sunda adalah kata kerja, bukan kata benda apalagi berhala. Penentangannya pada eufimisme orang-orang bermental menak, menjadi penting karena ia menolak dominasi. Akan tetapi AR juga jangan dikultuskan seperti yang selalu jadi penyakit kita selama ini.

Dalam buku “Renaisans Sunda, Fungsi Sosial Kritik Sastra Sunda Ajip Rosidi” (2020) TM menulis “Saking banyaknya  karya dan aktivitas serta ketajamannya dalam menulis membuat orang-orang enggan mengkritik AR. Atau, malah sebaliknya, mengkritiknya merupakan pekerjaan yang dianggap sia-sia. Jika hal ini terus dibiarkan, mungkin, AR diam-diam akan berubah menjadi tokoh mitos.

Jika melihat realitas sastra Sunda pascapolemik sajak Sunda, setelah menyoal dangding, pro-kontra undak-usuk basa Sunda, hingga polemik buku Sejarah Tatar Sunda di rubrik opini koran Pikiran Rakyat, nyaris tiada yang berani mengkritisi AR.

Dengan demikian, harapan AR agar urang Sunda membutuhkan dasar kesadaran dan jiwa aktif-kreatif belum penuh mewujud. Sadar tidak sadar, dekontruksi yang dilontarkan AR pada angkatan Balai Pustaka, misalnya, malah menumbuhkan dominasi gaya baru pada dirinya.

Sebab AR sadar betul, dirinya masuk dalam sastra Sunda melalui jalur kritik. Satu tempat yang kata AR, ruang kritik dan esai itu masih kosong dan bagi sebagian orang mesti dihindari. 

Buku “Renaisasn Sunda” karya TM sedikit membuka cakrawala anyar bahwa, kesadaran dan jiwa aktif-kreatif itu perlu dan harus ditunjukkan. Satu buku munggaran berbahasa Indonesia yang mengkritisi kritik dan esai-esai AR periode 1950-an dan 1960-an. 

Dalam amatan TM, yang dinamakan renaisans Sunda ini merupakan proses lebih lanjut dari modernisasi Sunda, yakni sebuah proses yang sudah dimulai pada pertengahan abad ke-19 yang disebut sebagai “semangat baru”. Namun, konsep modernisasi dalam pandangan AR berbeda dengan westernisasi atau pembaratan.

Menurut TM, kritik sastra Sunda AR, secara historis, berkaitan erat dengan persoalan substansi yang dihadapi masyarakat Sunda seperti tercermin dalam proses diskursif media massa Sunda tahun 1950-an dan 1960-an.

Untuk mewujudkan hal tersebut secara simultan AR melakukan modernisasi atau rasionalisasi, yang di dalamnya termasuk individualisasi dan liberalisasi yang sekaligus hegemoni tandung atas tradisionalisme atau irasionalisme, komunalisme, dan feodalisme.

Dengan memilih dan memilah data, menelisik gaya bahasa serta kondisi sosial tahun 1950-an dan 1960-an, TM berkesimpulan, “Secara ideal kritik sastra Sunda AR memiliki efektivitas dalam membangun renaisans (sastra) Sunda.

Namun, di dalam praktik, dengan gaya bahasa yang sering menohok ke sosok pribadi, cita-cita tersebut sering kali terganggu. Dan, publik di media massa, maka kritik sastra AR menjadi ambivalen karena substansi dan ekspresi yang digunakannya justru tidak sejalan.  

Sejalan tidak sejalan gagasan dan cara ungkap AR dalam memahami persoalan (sastra), hingga saat ini “keberadaan” Sunda dalam lingkup nasional masih belum membanggakan.

Solusi persoalan tersebut sudah dibuka AR melalui kritik sastra dan esai budaya yang, perlu dikritisi juga. Kritik atas kritik. Agar antar-tesis dan anti-tesis bisa menjadi sintesis Sunda. 

Wilujeng angkat Kang Ajip. Semoga mendapat tempat terhormat dari Allah Yang Maha Kuat.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers