web analytics
  

Hilangnya Laut Aral; Dulu Kebutuhan, Kini Membahayakan

Sabtu, 22 Agustus 2020 14:53 WIB M. Naufal Hafizh
Umum - Unik, Hilangnya Laut Aral; Dulu Kebutuhan, Kini Membahayakan, Laut Aral,air laut surut,spora,Kesehatan

Tampak badai debu Laut Aral Selatan. Laut Aral yang dahulu danau keempat terbesar sedunia hanya tinggal memiliki sedikit daerah di utara. (Britannica/NASA)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Sebelum tahun 1960-an, Laut Aral di antara Kazakhstan dan Uzbekistan merupakan danau terbesar keempat di dunia. Namun, pada tahun 2000, satelit memotret kondisi Laut Aral yang surut jauh dari garis pantai lamanya.

Apa yang terjadi?

Terletak di daerah yang dikelilingi gurun, Laut Aral dahulu merupakan sumber kehidupan perikanan berbagai komunitas di sekitarnya. Namanya, “Aral”, memiliki arti “Laut dari Pulau-pulau”. Dahulu, terdapat lebih dari 1.000 pulau berdiri di tengah 1 hektare hamparan Laut Aral.

Namun, sebagian besar pulau itu kini tidak ada lagi. Mereka kini sudah menyatu dengan daratan utama karena surutnya air laut di sekitarnya.

Di pertengahan abad 20, Laut Aral merupakan salah satu daerah kekuasaan Uni Soviet. Danau air asin itu merupakan hilir sungai Syr Darya dan Amu Darya. Berasal dari gunung, kemudian melewati Gurun Kyzylkum, aliran dua sungai kuno itu berakhir di Laut Aral.

Sayangnya, daerah-daerah Gurun Kyzylkum diperlukan Uni Soviet untuk tumbuh subur demi ladang. Akhirnya, pada 1960-an, Uni Soviet mencanangkan proyek pengalihan aliran air dua sungai kuno untuk berakhir di gurun, bukan Laut Aral.

Gurun-gurun yang diairi pun tumbuh subur menjadi ladang katun dan hasil bumi lainnya. Namun, di saat yang sama, Laut Aral menyusut.

Luas Laut Aral dahulu adalah 68.000 km2. Kini, Laut Aral hanya memiliki luas 33.800 km2.

Penyusutan air begitu ekstrem hingga Kazakhstan memutuskan untuk memisahkan bagian utara dan selatan laut agar mencegah keseluruhan laut menyusut. Kini, bagian kecil Laut Aral, yakni Laut Aral Utara, masih ada dan berhasil memulihkan ekonomi di sekitarnya.

Namun, sebagian besar Laut Aral, yakni Laut Aral Selatan, sudah menyusut hingga kehilangan sisi timurnya meskipun Laut Aral Utara masih mengairi.

Efek Buruk Lingkungan

Meskipun berdampak subur untuk sisi lain laut, kehidupan di sekitar Laut Aral menjadi berbahaya dengan ancaman dan pencemaran lingkungan.

Akibat menyusutnya air laut, kandungan garam dan mineral air Laut Aral meningkat drastis hingga tidak lagi layak dikonsumsi. Salinitas ekstrem pun membunuh berbagai spesies ikan yang dahulu banyak hidup di laut ini.

Berubahnya Laut Aral juga menciptakan cuaca ekstrem untuk daerah sekitarnya; panas sekali saat musim panas, dingin sekali saat musim dingin.

Di akhir 1990-an, sebuah pulau di tengah Laut Aral, Vozrozhdenya, menjadi kekhawatiran lingkungan. Pasalnya, pulau itu dulu digunakan sebagai laboratorium rahasia senjata biologis Uni Soviet semasa Perang Dingin.

Dengan menyusutnya air laut dan mudah dicapainya pulau, berbagai limbah biologis pun mengancam kesehatan masyarakat Laut Aral. Pada tahun 1999, spora-spora hidup bakteri antraks ditemukan di pulau itu. Baru 3 tahun kemudian Amerika Serikat turun tangan untuk membersihkan bakteri berbahaya tersebut.

Karakalpakstan, daerah yang berdiri di selatan Laut Aral, paling kena dampaknya. Angin yang menerpa dasar Laut Aral, kini tak lagi tertutup air, membawa badai debu beracun berisi garam, pupuk, dan pestisida.

Akibatnya, banyak penduduk Karakalpakstan menderita penyakit seperti kanker tenggorokan, anemia, dan gangguan ginjal.

Angka kematian bayi di daerah sekitar Laut Aral pun salah satu yang tertinggi di dunia.

Laut Aral merupakan contoh bagaimana eksploitasi alam berlebihan untuk memenuhi satu kelompok justru bisa merusak kesejahteraan manusia lain. Hingga kini, belum ada proyek pasti untuk pemulihan Laut Aral.

Bahkan, sudah hampir tidak ada air yang mengalir ke Laut Aral dari Syr Darya dan Amu Darya, membuat daerah sekitar Laut Aral tercemar dan berbahaya. (Farah Tifa Aghnia)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers