web analytics
  

Kenapa Perempuan Banyak Bicara Seperti Bu Tejo?

Jumat, 21 Agustus 2020 12:32 WIB
Umum - Artis, Kenapa Perempuan Banyak Bicara Seperti Bu Tejo?, Bu Tejo,Film Pendek Tilik,Film Tilik,Perempuan,Perempuan banyak bicara

Bu Tejo di film pendek Tilik (YouTube/Ravacana Films)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Film Tilik besutan sineas Yogyakarta menjadi viral di media sosial. Film yang menunjukkan the power of emak-emak ini mampu menghadirkan karakter asli masyarakat Indonesia, khususnya dalam menyerap dan menyebarkan informasi, meski belum dipastikan kebenarannya, seperti Bu Tejo.

Karakter Bu Tejo memang menarik karena banyak omong. Banyak yang berpendapat bahwa Bu Tejo adalah cerminan mayoritas ibu-ibu di Indonesia yang banyak bicara dan suka bergosip. Tapi terlepas dari itu, mengapa ya perempuan lebih banyak berbicara dibanding laki-laki? 

Pendapat ini tidak lepas dari penelitian yang menunjukkan jika perempuan berbicara 20.000 kata per hari dibandingkan lelaki yang hanya bicara 7.000 kata sehari, demikian seperti diwartakan Cheats Sheet, Jumat (21/8/2020).

Hormon otak perempuan dan lelaki berbeda

Seolah mengiyakan Dr. Louanan Brizendine, seorang psikiater menulis buku berjudul The Female Brain yang menjelaskan jika perempuan mencurahkan lebih banyak sel otak untuk berbicara.

"Perempuan memiliki delapan jalur super cepat untuk memproses emosi, sedangkan lelaki memiliki jalur pedesaan yang kecil," ujar Brizendin.

Setelah penelitian sebelumnya diterbitkan, muncul juga penelitian lain bahwa sebenarnya baik perempuan dan lelaki berbicara dengan jumlah yang sama, rata-rata 16.000 kata sehari, tapi ada perbedaan yang masih terlihat jelas.

Misalnya anak perempuan cenderung berbicara lebih cepat dan melontarkan kata dan kalimat yang lebih kompleks dibandingkan anak lelaki pada masa anak-anak. Melihat ini, Brizendine memprediksi ini terjadi karena sejak awal adanya perbedaan hormon di otak. Hormon itu adalah testosteron yang lebih banyak di otak lelaki dibanding otak perempuan, yang membuat lelaki tidak lebih cerewet.

Hanya Stereotip semata

Tapi pendapat hormon otak ini ternyata hanyalah stereotip, karena pernyataan ini tidak didasari penelitian. Profesor linguistik dari University of Pennsylvania, Mark Liberman, tenyata menyelidiki penelitian yang dilakukan Brizendine, dan ia menemukan tidak ada kutipan akademis di dalamnya.

Akhirnya Brizendinepun mencabut pernyataannya saat Liberman menerbitkan penelitiannya dalam sebuah artikel di surat kabar. Tapi sayangnya, stereotip ini sudah sangat mengakar di masyarakat dan bertahan di ingatan banyak orang yang menganggap perempuan lebih banyak berbicara dibandingkan laki-laki.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers