web analytics
  

Tahun 1980-an Transisi Kematian Oplet Bandung

Jumat, 21 Agustus 2020 09:28 WIB Netizen T Bachtiar
Netizen, Tahun 1980-an Transisi Kematian Oplet Bandung, Oplet,Angkutan Umum,Sejarah Bandung,HONDA – TN 360,Mitsubishi Minicab,Colt L-300,KOBANTER

Brosur iklan HONDA TN III-300 dan MITSUBISHI Minicab. (istimewa)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

AYOBANDUNG.COM -- Oplet, kendaraan angkutan umum yang tumbuh dari masyarakat untuk melayani kebutuhan sarana transportasi warga kota.

Kendaraan dengan merek apapun, oleh tukang kayu dan tukang besi dimodifikasi menjadi oplet. Pemilik oplet akan mengelompokkan sendiri opletnya cocok untuk rute yang mana, disesuaikan antara kemampuan oplet dengan medan yang akan ditempuhnya.

Oplet-oplet itu melayani penumpangnya dengan trayek di dalam Kota Bandung, dan trayek antara Kota Bandung dengan kota-kota di sekelilingnya. Trayek dalam kota, dari stasiun kereta api ke Ledeng, ke Ciumbuleuit, ke Dago, ke Cikutra, dan dari Cikapundung ke Gang Tilil. Trayek luar kota, ke Lembang, ke Padalarang, ke Banjaran, ke Soreang, dan ke Cicalengka.

Tahun 1970-an awal, kendaraan buatan Jepang mulai tak terbendung membanjiri pasar Indonesia. Potensi pasar yang sudah terlihat nyata dengan jumlah yang besar adalah kendaraan untuk angkutan umum.

Kendaraan yang berasal dari Jepang yang perlu dirakit terlebih dahulu, melahirkan industri karoseri di berbagai kota, yang pada era oplet, karesorinya dikerjakan di garasi atau di belakang rumah pengrajin atau pemilik kendaraan.

Kendaraan merek HONDA – TN 360, Mitsubishi Minicab, dan Colt L-300, mulai mendapatkan izin operasional di berbagai trayek yang sudah ada. Kendaraan baru dengan tampilan yang dinamis, diterjunkan untuk bersaing dan diam-diam mematikan oplet yang sudah lama berjalan.

Selama sepuluh tahun sejak kendaraan Jepang itu membanjiri Kota Bandung, oplet masih bertahan dan mempunyai penumpangnya sendiri. Pada awal tahun 1970-an, tahun-tahun subur bertemunya berbagai kepentingan antara pabrik kendaraan, diler kendaraan di Indonesia, pemerintah kota sebagai pemberi izin, bank, dan koperasi, dengan satu alasan yang dikedepankan, yaitu peremajaan angkutan kota.

Namun dalam proses peremajaan itu ternyata tidak bisa sekaligus, karena kemampuan diler dalam menyediakan kendaraan yang jauh dari jumlah oplet yang ada.

Dalam catatan Catur Ratna Wilandari (2017), anggota KOBANTER (Koperasi Bandung Tertib) sebanyak 4.500 orang, 800 orang yang tercatat aktif. Pada tahun 1976, hanya 60 orang yang mendapatkan kredit untuk mobil pengganti.

Jadi dapat dipahami, mengapa sampai tahun 1980-an awal, oplet masih melaju di jalanan, bersaing dengan kendaraan baru buatan Jepang.

Puncaknya, Pemerintah Kota Bandung mengeluarkan surat edaran, yang menyatakan izin operasi oplet di Kota Bandung berakhir masa berlakunya pada tanggal 12 Agustus 1982. (Catur Ratna Wulandari, 2017).

Oplet yang sudah melayani warga kota selama 20 tahun lebih, menyimpan kenangan indah dan membekas dalam ingatan, seperti diungkapkan oleh Yasa Gunadi (50 tahun, alumni Teknik Mesin ITB). Kalau mau ke Bandung dari rumah neneknya di Tagogapu, Kabupaten Bandung, ia harus dua kali naik kendaraan, naik oplet dari Tagogapu ke Padalarang, disambung dengan naik oplet (Fiat) sampai terminal Kebonkalapa, Kota Bandung.

Bersama orang tuanya, ia tinggal di salah satu paviliun di Jalan Ganesa, ITB, sampai tahun 1975, yang sekarang menjadi gedung BNI. Saat itu merupakan peralihan dari oplet ke kendaraan buatan Jepang, seperti HONDA. Dari terminal Kebonkalapa, bersama ibunya ia naik HONDA jurusan Dago, berhenti di RS Borromeus.

Sampai tahun 1980-an awal, oplet Padalarang masih melaju di jalan yang yang relatif datar, yang membentang timur – barat. Oplet Padalarang ukurannya lebih kecil dari ukuran oplet Lembang. Penumpangnya bukan hanya yang ke Padalarang, tapi ada juga yang berhenti di Cimahi.

Pengalaman Yudi Wildan Latief (58 tahun, pendidik, tokoh masyarakat), mengenang masa kejayaan oplet (Fiat) antara Banjaran – Kebonkalapa. Bodi opletnya terbuat dari kaleng dan kayu. Hubungan antara penumpang dengan sopir oplet terjalin akrab, bahkan pada pagi hari, dapat dipastikan akan naik oplet dengan sopir langganan, yaitu Mang Yoyo (lahir tahun 1945).

Pada tahun 1970-an, Banjaran masih berada dalam lintasan kereta api antara Bandung – Ciwidey, yang melewati Majalaya, Dayeuhkolot, Banjaran – Soreang – Ciwidey. Banjaran pun dilintasi bus dari Kebonkalapa ke Pangalengan. Nina Ernawati (62 tahun, dosen) masih ingat, pada saat sekolah di Bandung, bila ayahnya tidak bisa menjemput pada akhir pekan, ia naik bus jurusan Pangalengan, bus Baik atau bus Selamat Langsung, yang berhenti persis di depan rumahnya, sebelum sampai di Pangalengan.

Warya Sembada (64 tahun, pendidik, tokoh masyarakat), tinggal di Soreang, bila ke Bandung pada tahun 1970-an awal, naik oplet Hegar. Tempatnya tinggal dilintasi kereta api Bandung – Ciwidey, dan bus Bandung – Ciwidey, bus Rahmat, Resmi, dan Sukur, yang staanplatnya di Bandung berada di Bojongloa.

Dari arah selatan Bandung, dari Majalaya, Moch Zein C Padmadinata (68 tahun) menuturkan, oplet dan bus Melati dan Padasuka itu staanplatnya berada di Jalan Tengah, Pasar Bingung. Dalam perjalanannya ke Bandung melewati Ciparay dan Dayeuhkolot.

Dr Senny Suzanna (58 tahun, dosen, penulis), punya pengalaman naik oplet dari Cicalengka ke Bandung dan sebaliknya. Ia menuturkan, setelah ada kendaraan umum Honda, oplet Cicalengka masih tetap bertahan. Hanya saja kalah cepat oleh Honda. Oplet mah ngeyeted, sangat lambat jalannya, jadi banyak yang beralih naik Honda.

Entah karena tidak seimbang konstruksi badan kendaraannya, atau karena ngebut menjalankannya, Honda sangat sering kecelakaan. Karena itulah ayahnya melarangnya naik Honda. Biar lambat asal naik oplet.

Karena sudah diwanti-wanti agar tidak naik Honda, maka setiap pergi ke Bandung selalu naik oplet, walau lama, hampir sejam perbedaannya. Selain keadaan opletnya, juga sopirnya sudah tua. Posisi duduknya, baik di oplet maupun di Honda sama, berjajar ke pinggir.

Situasi jalanan antara Cicalengka masih sepi. Apa yang dilihat hanyalah bentangan persawahan, sehingga perjalanan terasa sangat lama. Proses bertani teramati setiap waktu, mulai dari ngawuluku, tandur, sampai panen. Tahun 1980-an awal, peralihan dari oplet ke Honda, kendaraan buatan Jepang. Staanplat di Bandung tahun 1970-an pindah dari alunalun Bandung ke Kebonkalapa, dan tahun 1980-an pindah ke Cicaheum.

Oplet, angkutan umum yang dikembangkan oleh warganya dalam memenuhi kebutuhan angkutan umum. Semua kendaraan dari beragam merek dimodifikasi menjadi oplet, dikerjakan dengan kemampuan para tukang yang ada. Atas nama peremajaan angkutan umum, oplet akhirnya dimatikan izin operasinya pada bulan Agustus 1982.*

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers