web analytics
  

Mati Rasa Selama Pandemi? Mungkin Kamu Alami Kelelahan Krisis

Kamis, 20 Agustus 2020 09:01 WIB M. Naufal Hafizh
Gaya Hidup - Sehat, Mati Rasa Selama Pandemi? Mungkin Kamu Alami Kelelahan Krisis, Mati Rasa,Pandemi Covid-19,Kelelahan Krisis,stres

Kelelahan krisis (crisis fatigue) adalah rasa lelah secara emosional karena krisis yang terjadi di sekitar, seperti pandemi Covid-19. (Pexels/Edward Jenner)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Peristiwa terkini, seperti pandemi COVID-19 dan berbagai protes politik, telah membuat orang merasakan banyak emosi yang intens. Mulai dari ketakutan, kecemasan, hingga kemarahan.

Seiring waktu, stres yang tak henti-hentinya dapat membuat orang merasa mati rasa atau lelah secara emosional. Perasaan ini dijuluki kelelahan krisis (crisis fatigue). Berikut yang perlu diketahui soal kelelahan krisis dirangkum dari Healthline, Rabu (19/8/2020).

Apa Itu Kelelahan Krisis?

Menurut Petros Levounis, profesor dan ketua departemen psikiatri, Sekolah Kedokteran Rutgers New Jersey, terdapat 4 tahap dalam menanggapi suatu krisis.

Pertama, fase heroik. “Di sini, semua orang berkumpul dan ada banyak tindakan orang yang mencoba merespons dengan melakukan apa yang perlu dilakukan selama krisis,” kata Levounis.

Berikutnya, fase bulan madu, yakni orang-orang merasa nyaman menjadi bagian dari kondisi tersebut. Menurut Levounis, selalu setelah itu adalah fase kekecewaan.

"Yang mana kita masuk sekarang dan saat itulah kita menghadapi kelelahan krisis," tuturnya. Fase ini bisa berlangsung beberapa bulan, sampai ada keinginan untuk pemulihan setelah krisis berlalu.

Selain itu, Levounis menjelaskan, orang menginvestasikan banyak energi di fase awal. Namun, tubuh manusia tidak dapat mempertahankan status adrenalin tinggi untuk waktu yang lama sehingga krisis tak terelakkan.

Levounis mengatakan, gejalanya bisa ke salah satu dari dua arah. "Salah satunya adalah hiperarousal, atau kecemasan tinggi. Keadaan ketika orang mudah tersinggung dan hal kecil apa pun dapat memicu mereka," katanya.

Sisi lain, yang lebih parah, lebih signifikan, dan sulit didiagnosis, adalah ketika orang-orang menarik diri. "Mereka tidak menunjukkan kepedulian tentang hal-hal yang perlu dilakukan atau konsekuensi yang mungkin timbul dari krisis," tutur Levounis.

Gejala lain dapat mencakup perubahan pola tidur, perubahan nafsu makan, dan gangguan pada rutinitas normal seseorang.

Apa yang Dapat Dilakukan?

Levounis mengatakan, meski tidak selalu dapat menghindari kelelahan akibat krisis, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membuatnya lebih baik. Beberapa hal yang ia sarankan antara lain menjaga empat pilar kesehatan fisik.

“Ini adalah nutrisi, tidur, seks, dan olahraga,” ujar Levounis.

Tetaplah terhubung dengan teman, keluarga, dan masyarakat luas. Dia menyarankan menggunakan gawai untuk tetap berhubungan saat jaga jarak masih berlaku. Cobalah untuk mempertahankan rutinitas harian, manfaatnya untuk mempertahankan perasaan normal dalam hidup sehari-hari.

Beri batasan ekspos media yang memperburuk kondisi. Coba untuk mengganti emosi kemarahan dan kebencian dengan perasaan penghargaan dan cinta yang tulus. Meski sulit, kemungkinan besar akan mengurangi segala jenis ketakutan, kecemasan, stres, dan kelelahan, termasuk kelelahan krisis.

Terjun kembali dalam aktivitas yang disukai, seperti menekuni hobi lama, kegiatan spiritual, meditasi hingga yoga. Praktik-praktik itu dapat dikaitkan dengan pengurangan stres. Namun, jika tidak membantu, lebih baik berbicara dengan ahli kesehatan mental. (Ventriana Berlyanti)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers