web analytics
  

Perjalanan Panjang Perkembangan Kopi di Kota Bandung

Kamis, 20 Agustus 2020 07:42 WIB M. Naufal Hafizh
Gaya Hidup - Kuliner, Perjalanan Panjang Perkembangan Kopi di Kota Bandung, Kopi,sejarah kopi,Kopi Aroma,Kopi Bandung

[Ilustrasi] Saat ini, kedai kopi sudah menjamur di berbagai sudut Kota Bandung. Jika ditilik dari sisi sejarahnya, ternyata perkembangan kopi di Kota Bandung sudah ada bahkan sejak awal abad 20. (Ayotasik.com/Irpan Wahab)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Membahas kopi saat ini mungkin tidak bisa lepas dari gaya hidup anak muda perkotaan yang menjadikannya sebagai kebiasaan.

Dr Dewi Turgarini, S.S., MM.Par, Ketua Prodi Manajemen Industri Katering FPIPS UPI, mengatakan, kedai kopi saat ini sedang berkembang dengan sangat pesat di Indonesia, terlebih di Kota Bandung. “Kedai kopi sudah menjamur di tiap sudut jalanan Kota Bandung, dan untuk saat ini mengonsumsi kopi sudah menjadi gaya hidup bagi masyarakat kota.”

Gaya hidup kekinian tersebut tidak lepas dari perjalanan sejarah kopi yang cukup panjang di Indonesia. Berdasarkan pemaparan Dewi, perkembangan biji kopi di Indonesia merupakan hasil dari kekayaan sumber daya alam dan lokasi Indonesia yang strategis dalam peta perdagangan dunia.

“Banyaknya pedagang asing singgah di Indonesia, menjadikan tanaman kopi pun tiba di Indonesia,” ujar Dewi yang juga merupakan pengamat food heritage.

Dewi menambahkan, kopi memang bukan tanaman asli kepulauan Indonesia. Pada akhir abad 16 saat Indonesia masih di bawah jajahan Belanda, VOC membawa tanaman kopi Arabika ke negara ini.  Pemerintah kolonial Belanda pertama kali menanam bibit kopi di sekitar Batavia (Jakarta), sampai ke daerah Sukabumi dan Bogor.

Karena semakin tingginya permintaan pasar, maka didirikan perkebunan kopi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan beberapa daerah di Sumatra dan Sulawesi. Perkembangan dari perkebunan kopi ini mendorong perkembangan infrastruktur di Jawa Tengah pada akhir abad 18.

“Jalanan dan rel kereta api sangat dibutuhkan untuk mengangkut kopi dari pedalaman pulau Jawa ke pelabuhan di mana biji-biji kopi diangkut dalam kapal untuk diekspor,” kata Dewi. Peristiwa Perang Dunia II dan perjuangan kemerdekaan, menurut Dewi, juga memiliki andil yang cukup besar dalam perubahan pasar kopi Indonesia.

Di Kota Bandung sendiri, berdasarkan hasil riset Dewi, eksistensi kopi dapat ditelusuri dengan keberadaan penjualan biji kopi di Kopi Aroma yang berdiri tahun 1930 oleh Tan Houw Sian dan penjualan kopi di Maison Bogerijen (Braga Permai) yang berdiri tahun 1918.

Selain itu, ada pula Het Snoephuis (sumber Hidangan) yang berdiri tahun 1929 di Jalan Braga, dan Warung Kopi Purnama yang terkenal legendaris di Jalan Alkateri No 22, berdiri pada tahun 1930.

Dewasa ini hampir 92% produksi kopi berada di tangan petani kecil maupun koperasi. Kedai kopi yang menjamur saat ini memiliki cara penyajian yang bermacam-macam sesuai perkembangan zaman.

“Ada yang menyajikan kopi secara tradisional, seperti contoh kopi talua dari minangkabau, kopi durian dari Sumatra, kopi tubruk dari Jawa dan Bali, kopi takar dari Sumatera Utara, dan kopi joss dari Yogyakarta. Cara modern pun juga ada, seperti kopi yang dibuat dengan mesin espresso,” kata Dewi.

Banyak orang yang membudayakan minum kopi setiap pagi. Karena itu, Dewi menyimpulkan, kopi menjadi sangat banyak tersebar di seluruh daerah Indonesia dan menjadi gaya hidup tersendiri. (Fariza Rizky Ananda)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers